Sehabis Hujan

Sehabis Hujan
SH - Bab 22


__ADS_3

Pak sopir yang terlihat sangat dewasa memberikan petuah untuk gadis yang masih labil itu.


"Nona, selama kehidupan ini aku tidak pernah melihat seorang gadis mengumpat sendirian selain ia memiliki riwayat penyakit jiwa."


Sang sopir kata hal yang membuat gadis itu harus menjawab, tetapi pada dasarnya, tidak boleh seperti itu.


Orang yang lebih tua, harus mendapatkan penghormatan.


Ini yang diajarkan oleh ibunya.


"Kau pikir, aku adalah orang tidak waras?"


"Iya."


"Enak saja!"


"Nona, aku akan mengatakan satu hal kepadamu. Tapi kau jangan menjawabnya dulu. Ini adalah soal hubungan kasih antar sesama manusia. Aku adalah pria yang lebih tua, jadi paham dengan apa yang harus aku katakan. Kau tidak bisa membuat dua orang galau. Setidaknya pilih salah satu sebelum semuanya berakhir."


Sang pria memberikan nasihat bijak kepada Raina. Sehingga sang gadis harus berpikir lebih dalam lagi mengenai hal ini. Rasanya sangat senang dengan semua hal yang ada, tetapi begitu sulit untuknya, cinta terlalu rumit.


"Aku tidak memilih agar semuanya segera berakhir. Rasanya sangat sesak pak. Aku bahkan tidak paham siapa yang harus aku pilih sampai saat ini. Bos menyatakan cinta, yang satunya juga."


Sang gadis akhirnya mencurahkan isi hatinya kepada seorang bapak yang selama ini belum pernah ia temui.


"Kau pilih saja yang menurutmu benar, itu pasti yang terbaik. Kau percayalah kepadaku. Tutup matamu, wajah siapa yang muncul saat kau membuka mata, itu yang akan menjadi cintamu."


Sopir taksi yang sangat baik dan tidak sombong, rasanya cukup nyaman ketika ada teman bercerita. Selama ini, Raina mencoba untuk bersama dengan teman yang mampu mendengar semua keluhannya, tapi nyatanya para sahabat yang terdiri dari para gadis, sungguh membuatnya terluka.


Dia mendapatkan pengkhianatan tanpa henti. Kasihan rasanya, dia coba untuk tegar dan tidak mudah menyerah. Itu yang akan menjadi titik balik Raina dalam mendapatkan kebahagiannya.


Sang gadis mulai merenungkan apa yang disampaikan oleh sang sopir taksi sebab apapun perkataan orang dewasa memang harus dipertimbangkan.


Kalau soal memilih, dia ingin bos Kim yang menjadi cintanya. Selama ini dia melihat sang bos begitu mencintai mantan kekasihnya, karena mendapatkan pengkhianatan harus berada di dalam situasi yang sangat oleng.


Sedangkan Ayus sendiri memiliki satu cerita yang tak kalah rumit, ia mendengar dari karyawan lain jika Ghina adalah mantan kekasihnya.


Otomatis, dia akan mendapatkan satu hal yang lebih rumit lagi tentang percintaan.


"Kau pilih salah satu dan bahagiakan hidupmu."


"Baik pak, akan aku coba."


Raina berusaha keras untuk menjadikannya segalanya lebih mudah dari sebelumnya.


Sehingga pak Kim adalah satu-satunya pilihan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju rumah, ada motor dan mobil yang mengikutinya.


"Kau sedang dikejar oleh dua orang, jadi segeralah memilih."


Sang pria dewasa mengatakan kepada sang gadis bahwa ada dua orang sedang mengincar dirinya.


"Pak, aku harus bagaimana?"


"Aku akan menghentikan taksi ini dan pilihlah."


"Baik."


Taksi berhenti di sebuah jalanan yang cukup sepi, dua kendaraan itu sama, juga berhenti.


Raina keluar dari taksi.


Ia mendekati dua pria yang sudah turun dari kendaraan masing-masing.


Tatapan mereka berdua sangatlah luar biasa.


Hingga tiga orang itu saling berdekatan dengan jarak yang sangat dekat.


"Kau pilih siapa? Aku atau dia?" ucap Ayus.


Jawaban itu keluar saja dari mulutnya, Ayus merasa sangat kecewa dan kalah.


Ia menanyakan lagi kepada sang gadis pujaan.


"Apakah kau mengatakannya dengan benar tanpa tekanan?" tanya Ayus mencoba memastikan, karena selama ini tidak pernah ada orang yang sangat percaya diri dengan pilihannya.


"Iya, Ayus, jangan menjadikan semua ini rumit. Kau harus bisa move on dari masa lalumu. Aku sudah melanjutkan hidupku. Aku meminta maaf atas semua hal yang sudah aku lakukan kepadamu. Semua masa manis kita hanyalah sebagai seorang teman. Tidak lebih dari itu."


Raina harus berkata jujur kepada temannya karena selama ini dia terlalu tidak tegaan, jadi terjebak dalam satu jerat yang tak mampu hilang dengan sendirinya.


"Oke, aku akan mengalah jika kau lebih memilih dengan pria itu. Aku akan segera pulang ke rumah, menulis surat pengunduran diri menjadi karyawan bos Kim. Aku tidak mau melihat kelian berdua bersama," ucap Ayus.


Dia sudah mengaku kalah, daripada terus memaksa, Ayus lebih baik kembali kepada posisinya.


"Maafkan aku Ayus," batin sang gadis dengan tetes air mata kesedihan.


Ayus berbalik arah dan gas pol untuk pulang ke rumah, sedangkan sang gadis berjalan mendekati bos Kim.


"Bos, aku sangat mencintaimu. Apakah kau merasakan hal yang sama?"


"Tidak."

__ADS_1


Sang pria kini menggoda Raina.


"Oh oke."


Raina terlihat sangat kesal, dia ingin meninggalkan bosnya. Namun, tangannya langsung di raih.


"Jangan pergi hanya karena aku sedang menggodamu. Tetaplah bersamaku, Raina."


Sang gadis berbalik dan langsung memeluk bosnya. Dia tidak menyangkan akan bersama dengan bos Kim, si Korea dengan wajah putihnya.


Pak sopir taksi meminta Raina untuk tidak membayar uang taksi, ini gratis katanya.


Ia segera pergi dari hadapan dua sejoli yang sedang merasakan kebahagiaan itu. Tak terasa waktu sudah sore hari. Kim mengajak sang gadis untuk pergi ke suatu tempat, tapi Raina menolak.


"Kau harus meminta izin ibuku dulu, bagaimana bisa langsung pergi begitu saja?" ucap sang gadis dengan wajah yang sangat imut.


"Oke. Masuklah ke dalam mobilku."


Sang gadis sudah tidak sungkan untuk masuk kedalam mobil bos Kim. Sebab menjadi kekasih seorang bos, sangatlah aneh. Jika tidak bisa masuk ke dalam hatinya setidaknya bisa masuk ke dalam mobilnya.


Setelah berada di dalam mobil itu, Kim segera tancap gas menuju tempat yang dimaksud, yaitu rumah Raina.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Raina, Kim yang tidak bisa menjadi manja, dia sangat manja dengan segaka hal yang ada di dalam hatinya. Rasanya begitu indah, bunga-bunga yang ada di terowongan, begitu nyata adanya.


Rasa sayang yang melebihi segala ketinggian gunung, membuat Kim sangat senang memberikan semua cintanya kepada Kim.


"Ibumu begitu lucu, sangat senang aku melihat dan mendengarkan ibu yang lucu."


"Ya, kau akan menganggap semua itu sebuah hal yang lucu, berbeda jauh denganku yang tidak akan mengatakan itu lucu lagi.


"Haha ... karena kau sudah terbiasa dengan segala keadaan yang ada. Jadi bukan hal yang istimewa."


"Kau selalu berkata benar, seharusnya kau menjadi hakim saja ya?"


"Haha, mana ada hakim."


"Hakim kan menjadi orang yang memtuskan keadilan?"


"Ya terserah kau saja."


Perjalanan menuju rumah sangatlah luar biasa, membuatnya menjadi begitu senang.


Selain pekerjaan, ada gadis yang harus ia pikirkan kebahagiaannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2