
Setiap kali Slamet menghubungi Dewi, selalu saja whatsapp nya tidak aktif. Hampi satu bulan, Slamet ditinggal istrinya. Rasa kesepian dan kehampaan menyelimuti hari-harinya.
Melihat saldo rekeningnya, Slamet masih berpikir butuh beberapa bulan lagi untuk pergi menemui istrinya. Ketika sedang berpikir keras, tiba-tiba handphone Slamet berdering.
Terpampang jelas wajah istrinya dilayar handphonenya. Dengan segera Slamet langsung mengangkat panggilan dari Dewi.
" Assalamualaikum Mas " ucap Dewi
" Wa'alaikumsalam Wi. Gimana keadaan kamu ? Apakah kamu disitu baik-baik saja " jawab Slamet
" Aku disini baik-baik saja Mas. Mas sendiri bagaimana kabarnya ? " Tanya Dewi
" Seperti yang kamu tau Wi " jawab Slamet dengan nada datar
" Maafkan aku Mas " ucap Dewi lirih
" Lupakanlah, aku tak mau membahasnya. Segeralah kamu pulang " kata Slamet
" Aku sudah mengirimkan sedikit gajiku untuk kamu Mas " kata Dewi
" Buat apa ?" Tanya Slamet
" Buat kebutuhan kamu Mas, buat masa depan kita juga " kata Dewi
" Apa dengan memberiku uang, lantas semuanya sudah selesai ?" Tanya Slamet
" Uang memang bukanlah segalanya Mas, tetapi dengan uang kita bisa melakukan segalanya " kata Dewi
" Wow ... Selain pintar berbohong ternyata kamu sudah pintar berdalih " kata Slamet
" Mungkin saat ini yang aku lakukan akan selalu salah di matamu Mas. Tapi ketahuilah bahwa semua yang aku lakukan ini demi kebaikan kita berdua " kata Dewi
" Kalau demi kebaikan kita berdua, tak akan ada salah satu diantara kita berdua ada yang terluka " kata Slamet
" Janganlah kamu tenggelam dalam rasa marah mu Mas. Bukan hanya kamu saja yang terluka atas keputusanku, melainkan aku yang setiap hari harus tersiksa menanggung jutaan rindu. Dibebani rasa bersalahku yang semakin bertambah banyak dari waktu ke waktu " kata Dewi
Slamet hanya terdiam saat mereka berdua sedang memperdebatkan masalah yang belum selesai.
" Aku membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan keberanian ini. Dan disaat semua keberanian ku sudah terkumpul, kamu hancur begitu saja dengan sikapmu " kata Dewi
" Hari ini aku sedang banyak pekerjaan di perusahaan, aku ingin istirahat " kata Slamet yang mengakhiri panggilan Dewi
Butiran air mata Slamet berjatuhan di atas pipi. Besarnya cinta Slamet pada Dewi membuatnya tidak bisa mengontrol rasa kecewanya.
Di Dubai, Dewi nampak menenangkan diri di sebuah taman. Perdebatan yang dia lakukan dengan suaminya membuat pikirannya semakin kacau.
Sambil memandang air mancur dibawah Burj Khalifa, pikiran Dewi sedikit tenang. Banyak wisatawan asing yang menyaksikan megahnya air mancur Dubai.
__ADS_1
" Permisi, selamat malam. Bolehkan aku duduk disini ?" Kata seorang laki-laki yang mempunyai wajah timur tengah
" Ya silahkan " jawab Dewi
" Menikmati pemandangan Burj Khalifa di malam hari membuat kota Dubai semakin indah " ucap laki-laki tersebut
" Seharusnya memang seperti itu " jawab Dewi
" Abrisam Daffa " kata laki-laki tersebut menyodorkan tangannya
" Dewi Yulia " ucap Dewi menyambut uluran tangan dari Abrisam
" Kamu mau sebuah kopi atau teh untuk menghangatkan tubuh " ajak Abrisam
" Terimakasih, ini sudah begitu larut. Aku harus kembali pulang " kata Dewi yang berdiri
" Bolehkah aku tau nomer telpon mu " kata Abrisam
" Maaf tidak bisa " ucap Dewi yang pergi meninggalkan Abrisam
Di Indonesia, Slamet sedang berpikir bagaimana dia mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk menyusul istrinya.
Dengan berbagai kalkulasi dan perhitungan, Slamet bisa mendapatkannya paling cepat 3 bulan. Dengan bekerja lembur di setiap hari libur dan mengambil libur satu hari dalam 2 minggu. Berbagai pertimbangan dan rincian pengeluaran selama di Dubai sudah Slamet hitung dengan tepat.
Hari setelahnya Slamet bekerja seperti biasanya. Hanya dia yang sebagai karyawan tetap selalu mengambil kerja lembur. Sepulang bekerja dia sempatkan mampir ke tempat orang tua Dewi.
Dengan membawa kue dan kebutuhan lainya, Slamet mampir ke rumah orang tua Dewi. Meskipun Dewi sedang bekerja di Dubai, tetapi sebagai seorang menantu Slamet selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk mereka.
Tok ... Tok ... Tok ... Tok ...
Tok ... Tok ... Tok ... Tok ...
" Assalamualaikum " ucap Slamet sambil mengetuk pintu sedikit keras.
" Wa'alaikumsalam " suara terdengar dari dalam rumah
Nampak seorang perempuan paruh baya membukakan pintu untuk Slamet.
" Assalamualaikum Bu " ucap Slamet seraya mencium punggung tangan mertuanya
" Wa'alaikumsalam " jawab Yanti orang tua Dewi
" Ini Bu, ada kue dan sedikit baham pokok untuk ibu " kata Slamet
" Terimakasih banyak Met. Langsung taruh dapur saja " kata Ibu Yanti
" Baik Bu " kata Slamet
__ADS_1
Setelah meletakkan sembako di dapur, Slamet kembali ke ruang tamu sambil duduk santai.
" Assalamualaikum Pak " kata Slamet seraya mencium punggung tangan Pak Sodikin, Bapaknya Dewi
" Wa'alaikumsalam nak, sudah dari tadi kamu ?" Tanya Pak Sodikin
" Baru saja sampai Pak " kata Slamet
" Bagaimana keadaan kamu Nak Slamet, apakah semuanya baik-baik saja selama Dewi bekerja ?" Tanya Pak Sodikin
" Kalau dibilang baik-baik saja sepertinya tidak Pak, tetapi karena keinginan Dewi jadi saya harus menerimanya " kata Slamet
" Kok bisa nak ? Bukankah Dewi sudah izin sama kamu ?" Tanya Pak Sodikin
" Sudah Pak, tetapi saya tidak izinkan " kata Slamet
Mendengar penjelasan Slamet, Pak Sodikin hanya bisa mengelus dada Bagaimana sikap anaknya terhadap suaminya.
" Sudah Pak, jangan pikirkan Dewi, doakan Dewi baik-baik saja di sana " kata Bu Yanti
" Iya Bu. Setiap habis shalat bapak selalu doakan anak kita agar anak kita diberi kesehatan dan keselamatan di sana " kata Pak Sodikin
" Di minum Nak Slamet " kata Bu Yanti
" Terimakasih Bu " jawab Slamet
Setelah meminum seteguk, Slamet langsung berpamitan dengan orang tua Dewi.
" Saya pulang dulu ya Pak, Bu " kata Slamet
" Gak makan dulu disini nak Slamet ?" Tanya Pak Sodikin
" Saya masih kenyang Pak " jawab Slamet
" Ibu bawakan lauk ya " tanya Bu Yanti
" Terimakasih Bu, dirumah masih ada lauk tadi pagi Bu " kata Slamet
" Kalau begitu kamu hati-hati di jalan ya nak " kata Pak Sodikin
" Iya Pak, ini ada sedikit uang buat Ibu belanja " kata Slamet
" Tidak usah repot-repot nak, kemarin Dewi sudah mengirimkan uang kepada Ibu " kata Bu Yanti
" Tidak apa-apa Bu, ini adalah uang saya. Tolong diterima " kata Slamet
" Terimakasih banyak ya Nak Slamet " kata Pak Sodikin seraya menerima amplop dari Slamet
__ADS_1
" Ini sudah kewajiban saya Pak sebagai seorang anak " kata Slamet
Setelah pergi meninggalkan rumah orang tua Dewi, Slamet kembali rumahnya yang sepi. Jarak rumah orang tua Dewi ke rumah Slamet lumayan jauh. Bisa ditempuh dalam waktu satu jam lebih.