
ucapan kakak ku tadi buat aku terdiam, untung saja tetangga bang danus tak ada yang mengenal ku,kalau tidak bisa marah besar kak Tina pada ku karena sudah mengantarkan Ira menjumpai ayah kandung nya
"tapi itu bukan kamu kan may?" aku gegas mengalihkan pandangan ku dari menatap kak Tina,jangan sampai dia melihat kebohongan di situ
"ya enggak lah,ngapain sih kak aku buat Ira jumpa sama bang danus,kakak kan udah larang aku biar enggak ngasih tau Ira mengenai ayah kandung nya" ucap ku sembari duduk membelakangi kak tina di kursi meja makan agar kak Tina tak bisa melihat ekspresi ku
"iya sih,enggak mungkin kamu may,tapi aku heran siapa orang yang udah antar Ira ke rumah bang danus,padahal yang tau alamat rumah bang danus kan cuma kamu dan aku may" kak Tina sekarang ikut duduk bersama ku padahal sudah ku hindarai,aku berusaha bersikap setenang mungkin agar kakak ku itu tak curiga kepada ku
"kak... yang kenal bang Danus dulu kan bukan cuma kita,ada beberapa orang yang juga mengenal mantan suami kakak itu" semoga saja apa yang aku katakan barusan bisa membuat kakak ku itu percaya
"iya juga sih may... tapi menurut mu Ira kenapa ya may,apa aku udah buat salah sama Ira,padahal aku enggak pernah melarang Ira berhubungan dengan siapapun,bahkan aku heran lho may, kenapa selama ini Ira tak ku lihat punya teman laki-laki,tapi kok tiba-tiba dia kabur gini" mata kakak ku terlihat berembun,dia pasti sangat merindukan putrinya,kepergian Ira sangat tak masuk akal baginya,karena selama ini mereka tak pernah bertentangan
"kakak yang sabar ya kak,may yakin Ira melakukan semua ini ada alasan nya,kita doakan saja Ira dalam keadaan baik,dan suatu saat bisa berkumpul lagi dengan kita di sini" ku genggam tangan Kaka ku erat coba memberikan kekuatan di hatinya yang sedang bingung dan sedih,air mata tak henti mengalir di pipi yang sudah tak lagi bersinar itu,hatiku pun menjadi pilu mengingat semua ini,semoga semua ini akan segera berakhir
aku beranjak dari dapur setelah tangis kak Tina reda dan dia lebih tenang,aku pamit untuk pulang karena anak-anak ku belum makan siang,saat melewati ruang tamu rumah kak Tina Ikbal masih di situ,duduk dengan muka masam dan menyunggingkan senyum sinis kepada ku,aku tak perduli segera ku lemparkan pandanga ku ke arah lain dan pergi dari hadapan pria bejat itu
__ADS_1
aku tak melihat panggilan masuk di handphone ku karna ku silent saat di rumah kak Tina tadi,ada beberapa panggilan masuk dari nomor bang danus,aku memang menyimpan nomor kontak nya karna Ira tak mau ayah nya tau nomor handphone nya sebelum ijab kabul,karena itu Ira meminta aku saja yang menyimpan kontak ayah kandung nya
"halo Maya,dari tadi Abang coba hubungin kamu kenapa enggak kamu angkat" bang danus bahkan tak memberi salam dan terdengar tergesa saat aku kembali menghubungi nya
"iya maaf bang, handphone may tadi silent jadi gak tau kalau ada panggilan masuk" jawab kku oada lelaki itu
"may,kamu di mana?"
"ada di rumah ini bang,kenapa bang danus hubungi aku"
"iya bang,kenapa kak Tina kesana?" jawab ku seolah baru tau
"kata Tina tadi Ira kabur dari rumah apa iya may?" tanya bang danus lagi dengan nada khawatir
"ira bukan kabur bang,Ira cuma enggak mau menikah di sini"
__ADS_1
" ada masalah apa hingga Ira enggak mau menikah disini " tanya pria itu lagi penuh selidik
"enggak bisa may kasih tau ke Abang penyebab nya,biar Ira sendiri yang cerita kalau dia sudah siap nanti,sekarang Abang hanya perlu memberi restu pada Ira dan jadilah wali nikah nya"
"iya itu sudah pasti may,tapi kenapa Ira harus pergi may,apa Tina memperlakukan ira dengan buruk?" bang danus sangat ingin tau kenapa Ira harus lari dari rumah,tapi apa kau harus mengatakan kebenaran tentang suami baru kakak ku itu
"kak Tina sangat menyayangi Ira,hanya saja ada sedikit masalah yang tak bisa may katakan kepada Abang untuk sekarang ini,bang danus enggak perlu khawatir kan Ira,karna sekarang Ira berada dalam keadaaan baik dan akan menikah dengan orang yang tepat" penjelasan ku bisa di mengerti oleh bang danus,dia menutup telfonnya usai mengucap kan salam yang lupa ia ucap kan saat mengangkat telepon ku tadi,lagipula dia juga merasa tak berhak ikut campur mengenai masalah Ira dan ibu nya,karena bang danus sendiri tak pernah memperhatikan Ira sejak Ira kecil,
sudah tengah malam aku masih tak bisa melelap kan mata ku,suami ku sudah dari tadi tertidur pulas tepat di sampingku,aku masih memikirkan Ira,bagai mana kah keadaannya sekarang,apa Ira dan Aril sudah sampai ke Batam,apakah mereka akan segera menikah besok sesuai rencana,kebetulan ada teman Aril yang tinggal di kota itu dan dia lah yang membantu Ira dan Aril saat di sana nanti,bahkan dia juga yang akan mengurus pernikahan mereka, walaupun harus menikah secara siri terlebih dahulu yang penting mereka sudah halal ketika bersama
Ira memang tak bisa mengurus surat-surat untuk di ajukan ke KUA agar bisa menikah resmi, khawatir ada yang tau mengenai rencana Ira untuk pergi dan kemana tujuan nya lalu memberi tau Ikbal dan semua pasti akan gagal
hingga malam berganti subuh hati ku masih saja tak bisa tenang,Ira masih tak memberikan ku kabar perihal keadaan nya,aku sungguh khawatir karna hanya akulah tempat untuk ia mengadu saat ini
ku lentang kan sajadah untu melakukan sholat subuh,lalu aku berdoa minta ketenangan hati dan keselamatan,pada Ira dan Aril,semoga Allah mempermudah apa yang sudah mereka rencanakan
__ADS_1
Ira sudah ku anggap seperti anak ku sendiri,sejak lahir hanya ada kesenduan di mata indah itu,hingga kini ia telah dewasa dia masih terus memendam rasa di hati nya,bahkan lebih sakit dari di tinggal kan oleh ayah kandung,ayah tiri yang ia harapkan bisa berikan kasih sayang utuh seperti harapan justru menjadi orang yang sudah menjerumuskan Ira ke lubang nista bertahu lamanya,orang yang seharus nya menjaga justru menjadi yang menghancurkann masa depan nya.