
Aril memeluk separuh tubuh ku yang masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit, Isak tangis nya kurasakan menyesakkan dada, aku coba mendorong tubuh itu dari memeluk ku, namun Aril tak bergeming masih tetap memelukku dengan air matanya yang membasahi sebagian wajah ku
"apa yang sebenarnya terjadi bang... katakan! kandungan Ira baik-baik aja kan?" lirih ku pilu melihat sikap Aril dan Bu nur
"kita sudah kehilangan bayi kita sayang" ucapan pelan dari suamiku itu menusuk tepat ke ulu hati, rasanya sakit sekali,aku hanya bisa menangis memejamkan mata tak bisa lagi berkata-kata
"apa yang sebenarnya terjadi nak... apa yang sebenarnya terjadi padamu" pertanyaan Bu nur membuat Aril melepaskan pelukannya dari ku
"iya... kenapa kamu bisa jatuh Ira,kamu kenapa?" Aril kini juga ikut bertanya
seketika bayangan ayah tiri dan apa yang telah ia lakukan padaku tadi membuat tangis ku kian menjadi, bagai mana bisa dia Setega itu menendang perut ku yang sedang mengandung, begitu marah nya ia hingga ingin melenyap kan ku dan bayi di kandunganku,harus kah aku mengatakan semuanya pada Aril, aku takut Aril akan berlaku nekat mencari ayah dan bisa saja ayah menyakiti Aril nantinya
"katakan Ira,apa yang sebenarnya terjadi?" suara Aril terdengar berat penuh kemarahan dan tanda tanya
"aaaayaaah" ucapku pelan dan tangisku semakin kuat
"apa maksud kamu ayah Ira, laki-laki itu menemui kamu tadi!?" aril menarik wajah nya kesal
"apa yang dia lakukan sama kamu Ira!?" suara Aril begitu keras dengan kemarahan yang tak bisa lagi ia redam, aku masih hanya bisa menangis mengingat apa yang ayah tiriku itu lakukan pada kandungan ku
"Ira... apa ayah tiri mu melakukan sesuatu tadi" tanya bu nur lagi dan aku hanya bisa mengangguk
"apa yang terjadi tadi Ira!?" tanya Aril setengah menjerit
"dia tendang perut Ira bang..." aku kembali menangis usai mengatakan itu,aku harus kehilangan bayi dalam kandunganku karena ulah ayah tiri jahat itu
Aril bangkit dari duduk nya,tangan nya yang terkepal ia tujukan ke arah dinding dengan keras, kemarahan tak mampu ia kendalikan,dia pasti sangat kecewa dan sedih karena kehilangan anak nya yang sedang ku kandung
"sudah nak Aril... sudah,sabar lah..." suami bubur yang sedari tadi ada di ruangan itu coba menenangkan suamiku yang kini terduduk lemah dengan raut wajah frustasi, air mata tak henti mengalir di pipinya
__ADS_1
"ril, kita cari saja pria bajingan itu!" suara Ferdi terdengar di tengah suasana penuh ketegangan itu
"pasti dia masih berkeliaran di sekitar sini kan!?" ucap Ferdi lagi
Aril bangkit beranjak ke arah Ferdi yang sedari tadi mengamati keadaan kami,Ferdi yang sudah sangat lama tinggal di pulau ini pasti sangat tau seluk beluk dan Kemana dia harus mencari ayah tiriku,itupun kalau dia tidak segera melarikan diri ke kota lain
" ya...! kita cari dia sekarang,tak akan ku ampuni!" ucap Aril pasti,lalu mereka melangkah bersama keluar dari ruangan tempatku di rawat
aku semakin gelisah dengan keputusan Aril mencari ayah tiri ku dalam kemarahan, bagaimana jika dia menemukan ayah dan menyakiti pria yang telah membuat Aril kehilangan anak nya itu, bagaimana nasib adik-adikku jika tanpa ayah,dan ibu pasti akan sangat hancur jika kehilangan ayah
***
sudah menjelang malam sejak Aril meninggalkan ku di kamar rumah sakit dengan Bu nur yang setia menemani,dia belum juga kembali menemui kami,entah apa yang sedang terjadi di luar sana, apa ayah tiri ku sudah ditemukan, apa yang sudah Aril dan Ferdi lakukan padanya, memikirkan nya membuatku semakin sesak
aku merasakan seseorang menggenggam tangan ku lembut,perlahan mataku yang entah sejak kapan terpejam ku buka, Aril sudah berada di sisi ranjang tempat ku berbaring,wajah pria yang aku cintai itu masih nampak kusut dan lelah
"sudah lah bang... enggak usah di cari lagi" aku coba menenangkan nya
"kalau dia tidak kita temukan,Abang takut dia akan kembali dan menyakiti kamu Ra" ucapan air tadi sangat benar,ayah tiriku bisa kapan saja kembali dan menyakitiku lagi,tapi mau sampai kapan Aril mencari nya
"sudah,kamu istirahat saja supaya lekas sembuh ya... setelah kamu sembuh akan kita pikirkan apa langkah yang akan kita lakukan nanti
sudah tiga hari aku dirawat di rumah sakit, butuh biaya yang tidak sedikit pastinya,untung lah kami masih memiliki tabungan hasil dari Aril bekerja selama ini dan sisa uang yang kami bawa dulu saat melarikan diri ke pulau ini
uang ayah sepuluh juta yang ikut ku bawa serta masih tersimpan rapi di dalam lipatan baju, aku tak berani menggunakan nya,lagu pula Aril tak mengizinkan, Aril tak mau kami memulai kehidupan dengan uang ayah ku itu, aku berniat mengembalikan uang itu kepada ibu saja, ibu sangat berhak atas uang itu, selama ini ibu sudah menghabiskan waktunya untuk membantu keuangan ayah dengan menjadi buruh cuci, bukan kah ibu lebih pantas menikmati uang suaminya
aku sudah tiba di rumah bu nur setelah pulang dari rumah sakit, Aril meminta Bu nur merawat ku sementara keadaan ku masih belum sepenuhnya pulih, aku memang sudah tak berani lagi tinggal di kosan, khawatir ayah akan kembali lagi
"Ira... kamu apa kabar nak?" suara bibi sangat bersemangat mendengarkan sambutan ku di sambungan telpon
__ADS_1
"Alhamdulillah Ira baik-baik aja bi..." jawab ku lemah,sejak kejadian tempo hari aku memang belum menghubungi bibi,aku tak ingin membuat bibi khawatir dengan keadaan ku
"kenapa suara kamu sangat lemah Ra,kamu sakit?" kini suara bibi berubah khawatir dan aku hanya bisa menahan isakan di seberang sini
"Ira... kamu baik-baik aja kan nak,kamu kenapa Ra,bibi cemas" aku tak mampu lagi menahan rasa di hatiku, ingin ku tumpah kan semua kepada bibi
"Ira..." suara bibi kembali terdengar penuh kecemasan
"bi... Ira keguguran" tangis ku pecah seketika
"apa...! kenapa bisa terjadi Ira, kenapa kamu bisa kehilangan bayimu..!?" aku coba meredakan tangis ku agar bisa menjawab pertanyaan bibi, pertanyaan yang terus bibi tanyakan sedangkan aku masih tak mampu untuk berucap
"Ira... kamu tenang dulu ya nak, kamu yang sabar ya..., apa yang sebenarnya terjadi nak..."
"ayah tiri Ira bi... dia datang ke sini,dia sakiti Ira lagi" ucap ku setelah lebih tenang,masih dalam isak tangis
"ya Allah... benar yang bibi khawatirkan selama dia menghilang,lalu apa yang dia lakukan nak?"
"dia tendang perut Ira bi... karena itu ira kehilangan bayi Ira"
"memang bangsat si Ikbal itu!kenapa kamu enggak kasi tau bibi dari kemarin,biar bibi laporkan dia ke polisi!" suara bibi penuh kemarahan
"kalau kita laporkan dia ke polisi ira khawatir dengan keadaan ibu bi, apa yang sudah terjadi antara Ira dan ayah selama ini akan terbongkar dan ibu enggak akan bisa terima kenyataan itu"
"tapi ini sudah kelewatan Ira, dia bisa saja melenyap kan kamu nak, lambat-laun ibumu tetap akan tau semua itu,jika tidak kita ungkap kan sekarang ayah tiri mu akan semakin merajalela" tidak bibi tidak bisa melakukan itu
"jangan bi... Ira khawatir dengan kesehatan ibu,kasihan adik-adik kalau ayah sampai di penjara"
aku memang merasa takut jika ayah akan kembali menyakitiku, tap mengungkapkan semua juga tak mungkin,masalah hidup ku ini seperti buah simalakama
__ADS_1