
aku coba untuk kembali menelisik sosok pria yang berada dibalik pohon itu, aku seperti mengenal nya tapi entah siapa
"Ira... ayo makan dulu, gulai kakap nya udah masak lho" aku memang sangat ingin makan gulai ikan kakap dan meminta Bu nur untuk memasaknya, aku bangkit dari dudukku akan masuk kedalam rumah, mataku kembali terarah pada sosok tadi tapi sudah menghilang
"enak Bu gulai nya, akhirnya kesampaian juga keinginan Ira" gulai yang di masak Bu nur ku makan dengan lahap tak bersisa dari piring sejak mulai mau makana ada saja kepingin ku, tapi syukur nya semua terpenuhi, ada bu nur yang selalu menuruti kemauan ku
***
cuaca sangat mendung padahal masih siang hari, aku teringat pakaian Aril yang dijemurnya pagi tadi,sejak aku hamil bang Aril memang tak izinkan aku mencuci pakaiannya dia takut karena kondisiku sangatlah lemah
"Bu... Ira pulang ke kosan sebentar ya,baju bang Aril ada di jemuran takut kehujanan, kayaknya baju itu mau dipakai besok" aku berpamitan pada Bu nur yang sedang istirahat di ruang tengah rumah itu
"kamu yakin mau pulang Ra,Aril enggak izinin kamu pulang kan kalo enggak dia yang jemput" Aril memang tak izinkan aku pulang sendiri ke kos karena disana sepi,dia khawatir jika sesuatu terjadi padaku tak ada yang menolong seperti tempo hari
" Ira pulang sebentar aja Bu,cuma pindahin jemuran aja,udah itu Ira langsung balik lagi ke sini" aku terus berlalu meninggalkan bu nur yang berat hati membiarkan ku pulang sendiri
"Ira... ibu temani aja ya" teriak Bu nur dari ruang tengah saat aku sudah akan melangkah keluar pintu
"enggak usah Bu, ibu capek baru siap masak, Ira enggak lama kok..." aku terus berlalu meninggalkan Bu nur bergegas sebelum hujan turun
satu persatu anak tangga ku naiki dengan hati-hati takut terpeleset, aku harus menjaga kandungan ku agar tak bermasalah lagi, menurut dokter yang merawat ku, aku termasuk lemah peranakan, karena itu tak boleh mengalami stress atau kelelahan
mungkin karena dulu pernah melakukan abo*si hingga menyebabkan rahimku bermasalah,sungguh jika mengingat apa saja yang sudah aku lakukan dulu aku merasa diriku sangat bodoh,apapun itu semoga tak menjadi dampak buruk bagi janin ku
satu persatu baju yang Aril jemur tadi ku angkat, kebetulan jemuran berada tepat di depan lorong kamar, aku lalu melangkah menuju kamar
__ADS_1
"aaaaw" hijab yang ku kenakan ditarik dari belakang sangat kasar hingga membuat ku terhuyung jatuh ke lantai,semua baju yang tadi memenuhi tangan ku bertebaran di lantai
"disini kau rupanya ya!" suara yang sangat ku kenal itu membuat ku mendongak kan kepala
"a... ayaah" pria yang sangat tak ingin ku lihat lagi itu kini ada di hadapan ku,berdiri dengan tangan menggepal dengan muka penuh amarah dan kebencian
"sialan kau! apa kau kira aku akan melepas kan mu! sudah ku bilang lebih baik kau tiada daripada tak ku miliki" langkah kaki ayah terus melaju pelan mengikuti tubuhku yang terus ku tarik kebelakang masih dengan posisi tersimpuh di lantai,aku tak sanggup lagi bangkit,perut ku kembali mengalami kontraksi dengan rasa sakit yang lebih luar biasa
"tolooong,toloooong...." aku menjerit meminta pertolongan walau aku tau tak ada siapapun di kosan ini
"kau minta tolong!?,kau pikir aku akan mundur dan merasa takut! aku tak takut Ira,jika aku harus masuk penjara sekalipun aku tak takut! aku hanya ingin melihat kau mati!" mata ayah tiriku itu terlihat merah,giginya menggigit geram, seperti sedang di rasuki setan
"ayah... Ira mohon jangan sakiti Ira, Ira minta maaf" aku memohon dalam rintihan menahan sakit di perut ku,aku bahkan tak mampu lagi menggerak kan tubuh ku
"kau hamil? kau hamil anak pria lain? saat kau hamil anak ku kau minta aku melenyapkan nya, sekarang kau membiarkan rahimmu di isi anak pria lain!?" ucapnya sambil menghentakkan kepalaku ke lantai
"ayah Ira mohon jangan sakiti Ira,Ira tidak mungkin menikah dengan ayah,kasihan ibu..." aku mendongakkan kembali wajah ku dan mendekat ke pada nya lalu merangkul kaki pria yang menatapku penuh dendam itu
"persetan dengan ibu mu,aku tak perduli! aku sudah katakan berulang kali aku mencintaimu Ira,hanya kamu!" aku melihat manik bening bersarang di mata merah ayah
"tapi Ira tak mencintai ayah, biarkan Ira hidup bahagia dengan pilihan Ira yah" aku sangat berharap dia kan mengerti keadan ku,jika harus bersimpuh di kakinya pun akan kulakukan
"kau bahagia sekarang!? kau tau selama Lima bulan ini aku bahkan tak bisa tidur dengan nyenyak, dadaku terasa sesak setiap kali mengingat mu" ayah kini mengibas kan kakinya membuatku kembali terdorong
"lupakan Ira!, lupakan iraaa!" teriak ku frustasi,aku sangat takut jika hidupku harus berakhir di sini, ditangan ayah tiriku
__ADS_1
"andai aku bisa melupakanmu dan semua yang sudah kita lakukan selama bertahun-tahun, andai aku bisa...!"
"ayah... Ira mohon,jangan ganggu lagi Ira yah... biarkan Ira bahagia" ayah menatap ku sinis lalu mundur beberapa langkah dari ku, secepat kilat ayah kembali kerahku dan memposisikan kakinya ke perut yang sedang ku pegangi
Dub...!!! sebuah tendangan mendatar di perut ku,tangan ku bahkan tak mampu menahan tendangan itu,aku merasa kan sakit hingga ketulang belakang,bagian bawah tubuhku kini telah di basahi oleh darah yang mengucur deras bahkan membanjiri lantai
"Aaaaaaaw... sakiiiiiit" aku mengerang seperti orang yang akan kehilangan nyawa
"mampus kau!!!" hanya suara itu yang terakhir ku dengar sayup, sesudah nya penglihatan ku hilang aku tak tau lagi apa yang terjadi
***
Aril sedang menangis menggenggam tangan ku saat mataku terbuka, Bu nur juga ada disebelah nya, bahkan ada beberapa orang sedang memperhatikan ku, aku coba menggerak kan tubuh ku tapi rasanya sangat ngilu, aku meringis menahan rasa ngilu itu
"kamu jangan gerak dulu nak,tubuh mu masih belum pulih" Bu nur mengusap kepalaku lembut
"Ira kenapa...?" aku meraba perut ku yang masih terasa sakit, tapi sepertinya kosong tak berpenghuni, ku tatap Aril yang mengalihkan pandangnya ke arah lain dengan air mata yang terus mengalir di pipinya
"bang... Ira kenapa, anak kita baik-baik aja kan bang..." tanyaku dengan suara yang masih sangat lemah,berharap Aril akan memberikan jawaban
"Ira... tadi ibu susul kamu karena khawatir kamu belum kembali kerumah ibu,tapi ibu malah menemukan kamu dalam keadaan pingsan dan..." Bu nur tak melanjutkan ucapan nya,aku menatap Bu nur menunggu ia melanjutkan perkataannya tadi
"sebenarnya apa yang terjadi pada mu nak?" pertanyaan Bu nur membuat tubuh ku terasa bergetar, kini aku mengingatnya, apa yang ku alami tadi,dia telah menendang perut ku tanpa ampun meskipun aku sudah memohon belas kasihan dari ayah tiri ku itu
"bang... anak kita baik- baik aja kan...?" tangis ku pecah seketika,rasa takut menyelimuti fikiran ku,aku tak mau mendengar jawaban selain bayi yang sedang ku kandung baik-baik saja
__ADS_1