
aku bangkit dari dudukku, mondar-mandir di lorong kamar yang tak terlalu luas yang sedang ku tempati,bagai mana cara ku menjawab pertanyaan Aril tadi,kami memang sudah sah menjadi suami istri,dan dia berhak atas ku,tapi aku sangat merasa malu jika harus melakukan nya di rumah ini,ada banyak mata yang pasti sedang memperhatikan kami,terutama malam dimalam yang merupakan malam pertama bagi ku dan Aril
[bang... Ira ngerti apa yang Abang ingin kan sekarang,tapi apa tidak sebaiknya kita tunda dulu,Ira risih bang kalau Abang masuk ke kamar ini] aku sungguh berharap dia akan mengerti dengan kondisi ku,aku masih mondar-mandir tak sabar menunggu balasan dari lelaki yang sudah sah menjadi suami ku itu
[iya sayang... Abang tau Ira pasti malu kan,ya udah Abang enggak akan masuk ke kamar Ira,sekarang Ira istirahat aja ya, jangan lupa mimpi in Abang ya istri ku yang cantaik] aku tersenyum lebar membaca pesan itu,ku raba pipiku yang masih terasa hangat karena sedari tadi menahan rasa,sesungguh nya aku sangat ingin dia ada di sini malam ini,tapi rasa segan ku pada pemilik rumah mendominasi hati dan pikiran ku,jadi lebih baik kami menunda saja malam pertama kami
anehnya aku merasa berdebar saat Aril mengatakan ingin masuk ke kamar ini, padahal ini bukan kali pertama aku bersama laki-laki,tapi mengingat aku akan melakukannya dengan Aril darah di sekujur tubuh ku rasanya berdesir,jantung di dalam dada ku memompa turun naik tak karuan tanpa aturan,bahkan sulit untuk bernafas sangking groginya aku mungkin karena aku telah jatuh kedalam cinta Aril yang dalam,cinta yang ku harap kan bisa membuatku hidup bahagia hingga menua
***
sudah subuh saat aku terbangun,gegas ke dapur menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ke wajiban dua rakaat sebelum mata hari menampakkan diri
Bu nur sedang sibuk berjibaku di dapur seperti subuh kemarin,menyiap kan sarapan untuk se isi rumah,aku berjalan sedikit menunduk saat melalui nya
"Ira... pengantin baru kok udah bangun aja?" Bu nur menatap ku penuh senyum mebuat Ku semakin malu saja
"Ira mau wudhu,mau sholat subuh Bu..." ucap ku seraya meninggalkan nya menuju kamar mandi,aku melihat mimik muka heran di wajah wanita baik itu,mungkin dia mengira Aril tadi malam tidur bersama ku di kamar yang ku tempati,itu sebabnya dia kaget saat ku katakan aku akan melakukan wudhu dan akan sholat subuh padahal aku belum mandi
usai sholat aku kembali ke dapur untuk menolong Bu nur,melihat banyaknya menu yang ia siap kan sepagi ini,aku jadi berpikir apa karna ada aku dan Aril di rumah nya hingga dia harus repot menyiapkan banyak makanan atau memang ini adalah kebiasaan beliau.
__ADS_1
"ibu memang masak banyak kalau pagi,karna Ferdi dan bapak bawa bekal saat keja,tau sendiri kan barang di sini semua mahal,lagi pula kalau makan masakan rumah kan lebih sehat" ucap wanita itu masih sambil mengaduk masakan yang ada di atas kompor
aku hanya mengangguk tanda faham akan perkataan Bu nur, seperti nya dia membaca keheranan ku melihat setiap pagi bu nur akan masak sebanyak itu,seketika aku jadi ingat ibu,biasa saat pagi aku akan selalu membantu ibu di dapur,tapi sekarang aku berada jauh dari nya,rindu rasanya hati pada orang yang sudah melahirkan ku itu
"tadi malam Aril enggak tidur di kamar kamu ya?" pertanyaan Bu nur sontak membuyarkan lamunanku Ter hadap ibu,aku menggeleng sambil tersipu malu mendengar pertanyaannya Bu nur tadi
"lho... kan saya sudah katakan pada nak Aril,tidur di kamar kamu aja jangan di kamar Ferdi lagi" aku masih tak menjawab bahkan menoleh pun tidak terhadap wanita itu,hanya mengulum senyum sembari menunduk,tangan ku terus saja me motong sayuran yg ada di hadapanku
"kalian kan sudah sah, jadi enggak ada masalah kalau kalian sekamar,lagi pula kalian harus melakukan ibadah wajib kan" Bu nur terus saja berbicara sedang pipi ku kurasa semakin hangat dan pasti kini sudah berwarna pink karena malu
suara deru motor terdengar dari luar,entah siapa yang datang sedangkan hari masih sangat pagi
"waalaikum salam" jawab Bu nur dan ku lihat sekarang ke dua lelaki itu sudah berada di ruang tengah menuju dapur
"Bu,ini kueh di beli in Aril tadi di depan mesjid" Ferdi menyodorkan se kresek kueh basah ke pada bu nur,ternyata mereka baru usai melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid
" ya udah ibu salin ke piring dulu ini kueh nya,itu ada teh udah ibu siap kan tinggal di tuang ke gelas aja" Bu nur menunjuk ke arah se bekas teh hangat yang berada di depan ku,mata Aril dan Ferdi menuju ke arah teh,aku sedikit mencuri pandang ke arah mereka,Aril ternyata sedang menatap ku dan itu membuat ku sangat gugup
kedua nya kini duduk berhadapan dengan ku,aku bangkit lalu menyerah kan sayur yang sudah ku bersih kan kepada Bu nur,dan melangkah menuju ruang depan
__ADS_1
"Ira,mau kemana... itu kueh sama teh nya kenapa enggak di makan" ucapan Bu nur menghentikan langkah ku
"Ira nanti aja Bu..." aku buru-buru melanjutkan langkahku,entah kenapa rasanya serba salah saat di tatap oleh pria yang telah menjadi suami ku itu
"dek... Ira..." suara Aril terdengar dari balik pintu,aku terperanjat dan segera duduk dari rebahan ku, kenapa Aril menemui ku
"dek... buka pintunya" ucap Aril lagi,ku buka pintu pelan dan mendapati sosok yang ku cintai itu sedang berdiri di hadapan ku dengan segelas teh dan beberapa kueh si tangan nya
"Abang boleh masuk?" aku hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu
"di minum dulu teh nya" ucap Aril sambil menyodorkan teh dan kue yang ada di tangan nya,aku mengambil kedua nya dan meletakkan di atas nakas di kamar itu
"kamu kenapa Ira,apa ada yang salah?" ucap nya lagi penuh kelembutan seraya menggenggam tangan ku
"enggak..." aku mengalih kan pandangan dari nya,semakin gugup saja jika sudah berduaan seperti ini
Aril meraih kepala ku dan mendekatkan bibir nya kekening ku,sebuah kecupan ia layang kan kepadaku,kecupan pertama yang ku rasakan dari nya sejak pertama kami memiliki hubungan,mataku terpejam menikmati sentuhan itu,rasanya indah sekali,walau sangat sangat tak biasa dengan perlakuan nya ini,aku coba untuk lebih tenang
tubuh ku kini sudah berada di pelukan nya,tangan Aril terus membelai lembut rambut ku,begitu terasa kasih sayang yang ia miliki untukku,kurasakan dengupan jantung nya berdetak kencang,sesekali ia menarik nafas dalam,ku rasa ia sedang menahan hasrat ke lelakian nya pada ku yang sudah halal untuk nya,aku coba melepaskan kan rangkulan Aril,Takut ia tak akan bisa menahan diri mengingat suasan masih sangat pagi,tapi Aril justru semakin menguatkan cengkraman nya dan nafas pria itu semakin memburu,bagai mana ini,tidak mungkin kami akan melakukan nya sekarang
__ADS_1