SELINGKUHAN SUAMI IBUKU

SELINGKUHAN SUAMI IBUKU
SELINGKUHAN SUAMI IBUKU episode "31"


__ADS_3

Aril bangkit dan meraih ponsel nya yang sudah tak menyala,aku pun mengambil ponselku lalu berpamitan pada ayah bahwa aku akan menjelas kan semua nanti lalu mematikan ponsel ku


ku hubungi nomor bibi berkali kali tapi tak di angkat,tangis bahagia ku seusai ijab Kabul tadi berubah seketika menjadi tangis cemas,aku tak tau harus menghubungi siapa lagi sekarang, nomor handphone paman tak ada di ponsel baru ini,aku lupa menyimpan nya


bagaimana jika terjadi sesuatu pada bibi,ayah tiri ku tak akan segan menyakiti bibi karena kemarahan nya,berulang kali aku mencoba terus menghubungi nomor bibi tapi tetap tak di angkat Aril berdiri di samping sambil mengusap punggung ku agar tak terlalu cemas,kami seharusnya melakukan adegan cium tangan seperti yang selalu di lakukan pasangan pengantin yang baru menikah, tapi aku justru sedang berada dalam kepanikan karena ulah sang ayah tiri


aku terduduk lemas,kenapa ayah bisa ada di rumah bibi,apa selama ini ayah selalu mengawasi bibi,kenapa bibi bisa lengah sampai tak menyadari kehadiran ayah tiri ku di rumah nya


Aril masih terus menghubungi nomor bibi tapi tak di angkat,


"apa yang sebenarnya terjadi nak,siapa orang itu?"


Bu nila menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tapi aku tak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu,aku hanya bisa menangis di pelukan wanita yang usianya sebaya ibuku


"kenapa pria itu marah dan mengancam kalian seperti itu ril?"


tanya Ferdi yang sedari tadi berdiri di samping Aril yang masih terus coba menghubungi bibi


Aril menatap ke arah ku,semua pandangan kini beralih kepadaku,aku mengangguk memberi isyarat pada Aril agar menceritakan siapa pria itu dan kenapa dia sangat marah pada kami


"pria itu ayah tiri Ira,dia tak mengizinkan Ira menikah dengan lelaki manapun karna dia sendiri ingin memiliki Ira,karna itu kami memilih pergi dan menikah seperti ini untuk menghindari kemarahan nya" ucapan Aril membuat semua yang ada di situ tercengang


"maksud kamu dia mau menikahi anak tiri nya,lalu bagai mana dengan ibu kamu Ira" tanya Bun nur semakin penasaran


"ibu tak tau menahu mengenai rencana ayah,jika Ira tak lari dengan bang Aril,mungkin sekarang Ira sudah di bawa ayah pergi" aku menangis sesenggukan mengingat kembali rencana ayah yang akan membawa ku lari meninggalkan ibu dan adik-adik ku,menjadikan aku madu bagi ibu ku sendiri

__ADS_1


"astaghfirullah... bagai mana bisa dia akan melakukan itu?" ucap Bu nur lagi dan semua yang ada si situ ikut mengucapkan istighfar


"tindakan kalian sudah benar,lebih baik kalian menikah seperti ini dari pada kamu harus menuruti kemauan ayah tiri mu" ucap ayah Ferdi yang sedari tadi hanya memperhatikan kami dengan cemas


"kenapa tak kamu beri tahu ibu mu nak?" ucap Bu nur lagi


"mana mungkin Ira memberi tahu ibu,dia sangat mencintai suami nya,tak bisa di bayangkan reaksi ibu jika tau kebenaran ini" semua yang ada di situ menganggukkan kepala mengerti dengan alasan ku,andai mereka tau bukan hanya itu rahasia ku,apa mereka akan tetap mendukung ku yang sebenarnya sudah melakukan hubungan terlarang dengan ayah tiri ku


alunan musik terdengar di ponselku menandakan ada panggilan masuk,gegas aku menatap benda pipih yang sedari ku genggam,nama bibi tertera di sana


"assalamualaikum bi" ucap ku tergesa berharap dia tak di lukai ayah tiri ku


"waalaikum salam,Ira bibi baik-baik saja" ucap nya dengan suara tenang aku sangat bersyukur mengetahui itu


"bibi tadi Vidio call kamu di ruang tengah,bibi enggak sadar kapan Ikbal masuk,mungkin karena bibi terbawa suasana pernikahan kamu dan hanya fokus ke layar ponsel jadi tidak melihat dia datang" ucap wanita yang sangat menyayangi ku itu


"tapi ibu enggak di sakiti ayah kan bi?" ucap ku masih cemas dengan keadaan bibi


" tadi sempat rebutan handphone sama Ikbal,tapi tiba-tiba paman mu datang dari kebun belakang rumah karena mendengar teriakan bibi,paman mu dan Ikbal sempat bertengkar tadi,bahkan Ikbal hampir di pukuli paman,bibi berusaha melerai sampai akhir nya ayah tiri mu itu pergi karna ancaman paman" jelas bibi panjang lebar mengenai kejadaian tadi


"tapi bibi enggak terluka kan?" coba memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja


"enggak nak,oh iya... selamat ya... kamu dan Aril sudah menjadi suami istri sekarang" bibi coba mengalihkan pembicaraan agar aku tidak lagi merasa khawatir


"iya bi... Alhamdulillah,bi... apa paman juga sudah tau mengenai Ira bi?" sejujur nya aku sangat malu jika paman mengetahui kebenaran tentang hubungan ku dan ayah

__ADS_1


"paman mu sudah tau nak,tapi bibi tidak ceritakan apa yang menjadi aib bagi mu,kamu tenag saja ya,jangan lagi pikir kan masalah di sini,jaga rumah tangga mu dengan baik,bini doakan semoga kalin bahagia dan ayah tirimu itu cepat sadar" aku mengiyakan ucapan bibi lalu menutup panggilan


hari sudah beranjak senja dan malam akan segera menjelma,ini adalah malam pertama ku dengan Aril, perasaan ku tak menentu,gelisah mendera hati,apa kami akan melakukan nya atau akan menunda saja karna keadaan yang membuat ku sangat tidak nyaman karna kami masih di rumah Ferdi, walaupun aku tidur di kamar tamu seorang diri tak mungkin ku terima kehadiran Aril untuk bersamaku


[Ira... maaf ya,kita tunda dulu ibadah nya, Abang enggak nyaman] saat sedang memikirkan hal itu ternyata Aril juga memikirkan nya


[iya bang, enggak apa] jawab ku singkat


[besok Abang akan berusaha cari rumah kontrakan di sekitar sini] aku mengerutkan dahi saat membaca pesan itu


[bukan nya Bu nur minta kita tinggal disini sementara] sejak pagi sebelum akat nikah bu nur terus berpesan agar kami tinggal di rumah nya dulu selama seminggu kedepan


[Abang enggak nyaman,Abang enggak akan bisa masuk kamar Ira kalau masih di sini] aku tersenyum membaca pesan itu,ternyata dia sudah tidak bisa menahan keinginan nya padaku yang telah halal bagi nya


[terserah Abang aja,cari yang dekat sini karna kita hanya mengenal kelurga Bu nur di sini]


[ yah... pasti,biar kamu ada yang jaga saat Abang kerja]


[heem] balas ku singkat


[rasanya mau masuk sekarang aja ke kamar kamu] aku tertawa kecil membaca pesan itu


[Abang gelisah ya] ternyata ia sama gelisah nya dengan ku


[iya... dari tadi gak tenang,apa Abang masuk aja ya,kan udah halal] aku membulat kan mataku membaca pesan yang aril kirim itu,ada perasaan menderu di hatiku,hasrat yang mungkin sama ia rasakan,tak ku sangka Aril yang terlihat tenang dan selalu menjaga jarak dengan ku ternyata jiwa lelakinya bergelora saat aku sudah sah menjadi istri nya

__ADS_1


__ADS_2