
mobil mini bus yang kami tumpangi menyusuri jala yang lumayan jauh untuk menuju rumah ustad yang akan menikah kan ku dan Aril,seluruh keluarga Ferdi ikut serta menjadi saksi pernikahan kami
tadi nya aku berfikir mereka tak akan menerima kehadiran kami,mengingat aku dan Aril adalah pelarian,kami pasangan yang kawin lari,tapi mereka menerima kami dengan baik,bahkan membantu mencarikan ustadz yang mau menikah kan aku dan Aril,alasan dari Bu nur dan keluarganya tak lain,bagi mereka lebih baik kami menikah seperti ini dari pada melakukan zina,status kami sama-sama singel,karna itu mereka sangat mendukung,terlebih aku akan di wakilkan oleh ayah kandungku walau melalui sambungan telepon
kami sudah sampai di rumah pak ustadz yang akan menikah kan kami,rumah sederhana yang letak nya sedikit terpencil di pulau yang terkenal penuh dengan ke megahan ini,yang ku tau di pulau ini tak akan ada orang yang perduli tentang apa yang akan kita lakukan,kami bisa saja hidup bersama tanpa menikah,tapi bukan itu tujuan hidup yang ingin aku dan Aril jalani,kami ingin menyatukan cinta menjadi halal dan mendapat kan Rahmat dari sang pencipta,menggapai bahagia dalam balutan kasih sayang yang kami harap kan tak akan memudar meski ke usia senja
pemilik rumah mempersilahkan kami masuk dengan ramah,lalu kami duduk di lantai yang ber alas kan tikar,pak ustad dan istri nya juga ikut duduk bersama kami untuk menanyai beberapa hal, termasuk saksi dan juga wali nikah
menurut penuturan Ferdi,pak ustad adalah juga perantau seperti kami,beliau melakukan praktek nikah siri ini sudah lama,hanya saja beliau tak akan mau menikah kan pasangan yang tak memiliki wali dan juga saksi,beliau hanya mempermudah saja pasangan yang ingin menikah tapi terkendala surat-surat untuk administrasi jika menikah secara lembaga agama biaya yang harus kami keluarkan juga lumayan besar,karena tak semua ustadz mau melakukan hal ini
"assalamualaikum.. " ku ucap kan salam saat ayah kandung ku menerima panggilan dari ponselku
"waalaikum salam,nak... apa akad nikah nya akan di laksanakan sekarang" ucap nya di sebrang sana
"kami sedang bersiap,sebentar lagi akan di laksanakan" ucap ku,sebelum nya aku sudah lebih dulu menghubungi untuk meminta nya bersiap ketika aku menghubungi saat akan ijab kabul,dan sekarang lah saat nya
__ADS_1
"baik lah nak,ayah sudah siap" ucap laki-laki yang akan menjadi walinikah ku itu
aku menyerahkan handphone ku pada Aril dan di berikan kepada pak ustadz yang akan menikah kan kami,aku melihat pak ustad dan ayah ku berbicara serius melalui sambungan telepon,lalu meminta kami malakukan Vidio call dengan ayah ku agar lebih jelas
sambungan video call sudah di lakukan,nampak wajah pria paruh baya di seberang menggunakan kopiah dan baju Koko,raut wajahnya terlihat gugup,mungkin karna akan menikah kan putrinya,apalagi melalui sambungan telepon yang tak biasa di lakukan orang banyak,tapi ini terpaksa kami lakukan karena keadaan, bisa saja kami membawanya ikut serta, atau memintanya menyusul kami,tapi kesehatan ayah tidak memungkin kan nya untuk melakukan perjalanan jauh sakit paru nya semakin memburuk
aku juga melihat Aril menghubungi seseorang,Ari berbicara sambil mengusap matanya yang basa,mungkin Bu nila lah yang ada di sambungan telepon,sedang meminta restu kah ia,aku tak bisa mendengar karena jarak kami yang agak jauh dan Aril berbicara sedikit berbisik,lalu dia menutup panggilan nya dan kembali menghubungi seseorang
bibi kini sudah ada di sambungan Vidio call melalui handphone Aril,tadi pagi aku memang memintanya menghubungi bibi saat akan ijab kabul,karna ponsel ku akan ku gunakan untuk menghubungi ayah,bibi tersenyum bahagia di seberang sana,Aril meletakkan ponselnya bersebelahan dengan ponsel ku agar kedua orang yang kami hubungi tadi bisa menyaksikan proses ijab Kabul yang akan di laksanakan
Aril kini sudah menjabat tangan pak ustad untuk mengucapkan kan ijab Kabul,setelah ayah menyerahkan hak untuk menikah kan ku pada pak ustad
jantung ku berdebar kencang,pipi terasa hangat,aku coba menetralkan diriku dari rasa gugup,sebentar lagi,yah... hanya sebentar lagi,beberapa menit saja lagi,aku akan menjadi seorang istri,Bu nur memegang tangan ku yang terasa dingin,beliau dengan setia menemani di samping ku,sedang kan suaminya dan kedua teman Aril ikut duduk di sisi bang Aril dan juga pak ustadz
"saudara Aril ariadi bin Muhammad Syahrul,saya nikah dan kawin kan kamu kepada syahira binti murdanus dengan mas kawin sepuluh gram emas di bayar tunai!"
__ADS_1
"saya terima nikah dan kawinnya Syahira binti murdanus dengan maskawin tersebut di bayar tunai"
"sah"
"sah"
"sah" semua berlangsung begitu khidmat,doa di panjat kan atas pernikahan yang baru saja berlangsung,ayah ku masih ada di sambungan video call menyaksikan semua melalui layar ponselnya ada beberapa orang di belakang ayah yang juga ikut menyaksikan pernikahan sederhana ini,begitu juga dengan bibi yang sedari tadi menangis walau dalam senyuman
air mata tak dapat di bendung lagi,kini aku sudah menjadi istri sah Aril,bahagia tak bisa ku katakan,setelah melalui banyak hal akhirnya kami sudah menjadi suami istri,aku hanya berharap kami akan bisa menjalani rumah tangga ini dengan baik, seperti yang Aril katakan sebelumnya,apapun yang terjadi jangan sampai memudarkan cinta di hati kami,walupun masih secara siri,saat keadaan sudah tenang kami akan mendaftarkan pernikahan ini ke lembaga negara
"iraaaa!!! dasar anak sialan kau Ira! berani kau melakukan ini ya,awas saja aku akan menemukan mu!" suara ayah tiri terdengar dari salah satu handphone yang melakukan Vidio call tadi,serentak kami menatap ke arah kedua ponsel itu,tidak ada lagi wajah bibi di sana sudah berganti dengan wajah sangar ayah tiriku yang penuh kemarahan,lalu ku lihat seperti ada yang menarik tubuh nya dan mengambil alih ponsel lalu aku kembali melihat wajah bibi lalu kembali hilang
"pergi kau dari rumah ku,beraninya kau masuk kemari,dasar kau laki-laki bejat!" suara teriakan bibi terdengar penuh kepanikan
"katakan dimana dia,akan ku habisi anak sialan itu,kau lihat saja aku akan tetap mencari nya!" kini suara ayah tiriku mendominasi hingga panggilan berakhir
__ADS_1
kami semua melihat layar ponsel dengan wajah cemas,apa yang sedang terjadi pada bibi ku,bagai mana kalau ayah tiriku melakukan hal buruk kepada bibi,ya tuhan... lindungilah bibi,jangan sampai dia mengalami hal buruk karna melindungi ku