
semakin hari semakin sepi saja rasanya,hanya hari Minggu Aril libur kerja,selebih nya aku hanya tinggal sendiri di kamar ini, tentu untuk sangat membosankan
"assalamualaikum bi" ku jawab panggilan bibi di handphone ku
"waalaikum salam Ira,kamu apa kabar?" tanya bibi di seberang sana
"Alhamdulillah Ira sehat bi" hampir setiap hari bibi menanyakan kabarku,aku pun demikian jika bibi tak menghubungi ku maka aku duluan yang akan menghubungi bibi
"bagai mana kandungan mu nak,apa masih mual?"
"sudah enakan bi,cuma masih agak lemas aja" aku memang sedang mengandung empat bulan dan baru melewati fase mual muntah luar biasa yang ku hadapi sendirian di kamar ini,walau Bu nur setiap hari datang menjenguk ku tapi beliau tak bisa lama karena banyak pekerjaan menunggu nya di rumah
"kamu jangan lupa minum susu ibu hamil sama vitamin tambah darah nya ya Ra,biar kamu sama bayi mu sehat"
" iya Bi..." sahut ku
selama fase mabuk berat susah sekali menghabiskan walau hanya segelas susu,apa lagi untuk makan makanan,tapi selama seminggu ini aku sudah mulai mau makan dan minum susu walau masih sedikit mual
"Ra... bibi mau bilang sesuatu tapi kamu jangan kaget ya" bibi belum bilang saja jantung ku sudah berdetak tak karuan,ini pasti mengenai ayah tiriku
"ada apa bi?" tanya ku cemas
"ayah tiri mu sudah tiga hari menghilang dari rumah,kata ibu mu dia ada pekerjaan di luar kota,tapi bibi khawatir ayah mu bukan ada pekerjaan" aku sudah mengerti arah pembicaraan bibi,dia pasti khawatir ayah malah datang menyusul ku ke sini
__ADS_1
"apa mungkin ayah mencari Ira bi?" cemas ku, dengan tangan memegangi perut,perut ku terasa keram mendengar apa yang bibi katakan tadi,kepala ku ikut pusing
"bibi udah ke bengkel Ikbal tadi Ra,bibi coba tanya sama orang bengkel apa iya ayah tiri mu itu ada kerjaan di luar kota,tapi mereka bilang kerjaan Ikbal udah selesai dikerjakan dan baru saja mengambil upah kerja yang lumayan besar,bibi khawatir kalau-kalau dia udah tau keberadaan mu sekarang nak" penjelasan bibi barusan membuat ku semakin cemas,keram di perut ku semakin ku rasa,bagai mana jika ia ayah tiri ku sudah tau dimana aku sekarang,walau sudah lima bulan aku pergi dari kampung tapi ternyata ayah masih tak mau melepaskan ku
aku mengerang kesakitan di pojok kamar,perut ku terasa semakin nyeri,keringat bercucuran di tubuh ku,aku bahkan tak bisa hanya sekedar menekan nomor Aril atau bu nur di ponsel ku
"aaaaghhh" aku mengerang kesakitan,tak ada siapapun yang mendengarnya aku sangat berharap seseorang datang membantu,tapi mana mungkin,di kiri kanan kamar ku di huni oleh pekerja pabrik,mereka semua kerja,pasti nya semua kamar yang ada di sini kosong ketika siang hari begini
"tolooong" aku terus berusaha meminta pertolongan,mungkin saja lewat dan bisa memberiku pertolongan,tapi nihil,tak sorang pun mendengar rintihan ku,perut ku kini terasa nyeri melilit sampai ke pinggang bagian belakang,apa yang sedang terjadi pada ku,kenapa dengan kandungan ku,aku menangis putus asa takut sesuatu terjadi pada bayi yang sedang ku kandung
"assalamualaikum,dek" Sura ketukan pintu terdengar dari luar,itu suara Aril,tapi kenapa dia pulang sedangkan hari masih siang
"dek... buka pintunya...!" suara Aril sedikit lebih kuat dari sebelum nya seraya menggedor pintu
"Ira! kamu kenapa! buka pintu nya! " teriak Aril dari luar seraya mendobrak pintu kuat
"tolooong Ira bang..." aku merintih menahan perih yang sangat menyiksa,apa aku akan kehilangan bayi ku sekarang
buk! buk! buk! suara hantaman terdengar dari luar,lalu beberapa saat kemudian daun pintu yang ku kunci dari dalam terbuka lebar,sosok Aril tergopoh mendekati ku yang meringkuk memegangi perut ku
**"
aku merasakan tangan ku di genggaman erat oleh seseorang,perlahan ku buka mata yang terpejam,entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri,Aril sedang tertidur dintepi ranjang dengan posisi duduk dan kepela menyender ke ranjang,sebelah tangannya menggenggam tangan ku erat,dia terbangun saat menyadari pergerakan ku
__ADS_1
"kamu sudah sadar sayang... syukurlah" ucap pria dengan raut lelah itu
" kita dimana?" tanyaku dengan suara yang masih lemah
"kita di rumah sakit,tadi Ira pingsan karena kesakitan,apa yang buat kamu kesakitan seperti itu" wajah lelah dan cemas itu menatap ku dengan mata berkaca
"tiba-tiba perut Ira keram,mungkin karena Ira panik,Ira enggak bisa melakukan apaun lagi sesudah itu,sampai Abang datang" aku memegang perut ku yang sudah tak sakit lagi
"bayi kita baik-baik aja kan bang" Aril mengangguk mendengar pertanyaan ku itu
"bayi kita sehat sayang,kata dokter kamu kemungkinan stres makanya ada kontraksi seperti itu,kamu kenapa,kenapa kamu sampai panik,apa yang kamu pikirkan kan?" Aril bertanya penuh kelembutan,dia selalu begitu tak pernah berbica dengan nada berat pada ku
"tadi bibi ngasih tau Ira,ayah udah tiga hari menghilang dari kampung,bibi takut dia sudah tau keberadaan kita" Aril menarik wajah nya yang tadi berada dekat dengan wajah ku,aku melihat kecemasan di sana
"mungkin ayah kamu lagi kerja keluar kota sayang,kamu jangan takut gitu ya,disini ada Abang kan,Abang akan selalu jaga Ira" aku tau Aril sedang berusaha membuat ku tenang,dalam hatinya dia pasti merasakan kegelisahan yang sama seperti yang aku rasakan,bukan kami takut me lawan ayah tiri ku,hanya saja kami tak ingin hal buruk terjadi pada kami atau pada ayah yang adalah suami ibu ku dan ayah bagi adik-adik ku
sudah dua hari aku di titipkan di rumah Bu nur,sejak kejadian itu aku selalu di antar Aril ke rumah Bu nur saat dia berangkat kerja dan akan menjemput ku ketika sudah pulang dari pabrik,Aril takut meninggalkan aku sendirian di kamar kos,selain kandungan ku yang agak lemah kecurigaan kami pada ayah juga menjadi penyebab Aril tak membiarkan ku tinggal sendirian
aku tercengang melihat sosok yang berdiri di belakang sebuah pohon besar yang terletak sedikit jauh dari rumah Bu nur,aku seperti mengenal sosok yang se akan sedang menyembunyikan tubuh nya di balik pohon itu
aku yang sedang duduk di teras depan rumah Bu nur karna cuaca panas mebuat ku merasa gerah jika tetap berdiam di dalam rumah,Bu nur sedang sibuk di dapur membereskan peralatan masak,karna itu aku hanya sendirian
netraku tak lepas dari sosok yang masih menyembunyikan dirinya di balik pohon besar itu,selain jarak yang jauh,topi yang ia gunakan juga membuat ku tak bisa mengenali siapa pria itu,ah... biarkan saja untuk apa aku perduli,lagi pula aku tak banyak mengenal orang di sekitaran sini,mungkin dia salah satu tetangga Bu nur yang sedang berteduh menunggu seseorang menjemput,tapi kenapa sesekali dia seperti sedang memperhatikan ku dari balik pohon itu,siapa dia sebenarnya apa dia...
__ADS_1