SELISIH CINTA

SELISIH CINTA
10. Rangga memulai rencananya


__ADS_3

"ANNAAAA... " teriak Dinda dan Enny bersamaan.


Anna langsung menoleh kepada kedua temannya itu.


Dinda langsung berlutut kepada Anna.


"Anna maafin gue, ini salah gue," ucap menyesal Dinda karena tidak melihat keadaan temannya dulu malah asik bertengkar.


"Hahaha, tidak apa apa Dinda," jawab Anna tulus karena ia mulai mengerti dengan sifat Dinda.


"Anna, lu gak papa?" tanya Enny yang khawatir karena ia tadi melihat Anna di tuntun oleh Rio.


"aku gak papa sekarang," jawab Anna.


"Yaudah yuk ke kelas, takutnya senior udah pada masuk kelas." minta Dinda.


Anna hanya mengangguk lalu ia menoleh ke Rio.


"Kak Rio, Aku masuk kelas dulu," pamit Anna kepada Rio.


"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Rio khawatir.


Anna mengangguk-ngangguk lalu ia tersenyum dan berkata, "bisa kok kak."


"Yaudah kalo gitu," ucap Rio pasrah.


Lalu Dinda membantu Anna berdiri dan menuntunnya dan pergi meninggalkan Rio.


Rio menatap Anna pergi sampai punggung Anna yang sudah menghilang dari pandangannya.


Brak!. Suara gebrakan meja.


Rio sampai sedikit terjungkal karena gebrakan dari seseorang.


"Gak fokus lu, sampe kaget gitu," ucap seorang cowo.


"Ganggu aja lu Bram!" seru Rio sedikit kesal kepada seseorang yang ia panggil Bram itu.


"Yaa habisnya lu malah sibuk ma adik kelas itu," ucap Bram sambil duduk di dekat Rio.


"Dia tadi kakinya terkilir karena berdesakan sama orang-orang, gue liat dia mau keluar tapi gak bisa, lucu banget waktu liat ekspresinya tadi," ucap Rio tak sadar sambil senyum senyum sendiri dan mengingat saat melihat ekspresi Anna tadi.


Bram menelaah ekspresi Rio saat ini.


Lalu ia berucap, "lu suka ma dia?" tanya Bram.


Rio terkesiap mendengarnya.


Lalu Rio menoleh ke Bram dan tersenyum kepadanya seperti berkata 'kayaknya iya'. Lalu Bram hanya mengangguk-ngangguk.


Sebagai sahabat Bram sangat tau watak Rio jika sedang menyukai seseorang Rio akan menatap orang tersebut terus menerus tetapi tidak bisa mengungkapkan isi hatinya tetapi Bram juga tidak tau apakah gadis seperti Anna akan bisa membuat Rio membuka mulutnya.

__ADS_1


.


.


.


Lalu setelah Anna dan kedua temannya sudah meninggalkan kantin dan menuju ke kelas mereka, tak disangka ternyata pintu kelas mereka sudah menutup seperti sudah memulai kelas.


"Sial! Kayaknya dah masuk deh," seru Dinda.


"Terus gimana ini...gue takuttt," ucap Enny ketakutan. Takut di hukum karena mereka sedang masa orientasi siswa pastinya salah sedikit mereka akan dihukum dan hukumannya pastinya tidak masuk akal.


Tetapi yang paling takut saat ini adalah Anna. Sejak ia melihat pintu kelasnya sudah menutup dan saat Dinda berucap tadi jantung Anna mulai berdetak kencang, ia sangat ketakutan karena kemarin ia yang kena omelan oleh Rangga takutnya senior lain ikutan menjahilinya atau bahkan Rangga sendiri.


"Gapapa, mungkin emang ditutup sama anak lain," ucap Anna kepada kedua temannya itu seperti menyuruh berpositif thinking aja.


"Semoga aja," jawab Dinda dan Enny hanya mengangguk ngangguk.


Anna mencoba menenangkan kedua temannya itu tapi dia sendiri ketakutan sampai berkeringat dingin. Batinnya 'Kenapa masuknya cepet banget sih!' seru Anna dalam hati.


.


.


Saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas mereka dan Dinda sudah memegang gangga pintu lalu mencoba membuka pintu kelas mereka. Dan tak disangka mereka melihat kakel osis sudah berada di kelas mereka.


Melihat itu Dinda sedetik terpaku lalu mencoba masuk di ikuti Enny lalu Anna.


"Maaf kak kami terlambat masuk," ucap maaf Dinda mewakili kedua temannya.


Robby melirik sebentar.


"Iya sana duduk," jawab Robby seperti memaklumi lalu menyuruh mereka kembali ke tempat mereka. Tetapi saat mereka bertiga sudah menuju ke meja mereka tiba-tiba.


"Kamu!" seru kakak kelas mereka yang tak lain adalah Rangga yang sedang berada di belakang kelas sambil memperhatikan adik kelasnya.


Dinda, Enny dan Anna menoleh ke Rangga karena mereka terkejut karena tadi si Rangga hanya diam saja tetapi sekarang kenapa tiba-tiba ia berseru sambil menunjuk salah satu dari mereka.


Dinda dan Enny melihat arahan telunjuk Rangga yang ternyata mengarah ke Anna, mereka berdua lalu menatap Anna. Anna awalnya diam mematung karena ia kaget lalu menatap Rangga.


"Iya kak?" tanya Anna.


Rangga lalu menghampiri Anna.


"Kamu kenapa pincang?" tanya Rangga dengan nada tegas.


"ta-tadi saya terpeleset kak," jawab Anna gugup.


Lalu Rangga menatap Anna dari bawah ke atas seperti menelaah setiap bagian tubuh Anna.


Melihat itu Anna membatin, 'apa lagi ini'

__ADS_1


Lalu Rangga mencoba bertanya ke Dinda dan juga Enny.


"Kalian berdua!" seru Rangga tegas. Dinda dan Enny sampai kaget di buatnya.


"Iya kak," jawab Dinda dan Enny bersamaan.


"Apakah kalian terlambat karena teman kalian ini bermain-main sampai tergelincir," ucap tuduhan Rangga.


Dinda dan Enny pastinya kaget mendengar ucapan palsu dari kakak kelasnya itu.


"TIDAK!" teriak Dinda. Mendengar teriakan Dinda membuat seluruh kelas kaget termasuk Anna dan juga Enny.


"Jika tidak kenapa teman kalian bisa pincang, kalian sudah cukup besar untuk seseorang yang tergelincir di lantai!" seru Rangga seperti mencari kesalahan mereka.


Mendengar itu Enny yang tadinya diam menjadi ikut membela Anna


"Kak! Anna tidak bermain-main, dia beneran terpeleset tadi di kantin karena berdesakan," ucap jujur Enny.


Mendengar itu Rangga malah tertawa dan tawanya tertular oleh teman-teman kelas Anna. Mereka semua tertawa kecuali kakel osis yang lain, bahkan kekasih Dinda hampir ikut tertawa tetapi di tabok oleh Dinda dan berhenti.


Kakak kelas lain seperti Robby dan juga Nia tidak tertawa karena mereka tau Rangga hanya bermain-main saja.


"HAHAHAHA,,, kau sudah SMA masih tidak becus dalam berdiri hahaha," ejek Rangga kepada Anna.


Dinda geram mendengar ejekan Rangga itu. Enny pun juga kesal mendengarnya.


Brak!


Gebrakan meja yang tak lain dari Dinda sendiri.


"KAK!" seru Dinda keras kepada Rangga sambil berdiri dan menatap marah Rangga. Si yang di tatap tentunya tak takut dan malah membalas tatapan tajam kepada Dinda yang tak kalah menyeramkannya.


"Dinda!" seru Anna dengan berbisik pelan kepada Dinda menyuruhnya berhenti bertingkah. Dinda menatap Anna yang membuat ekspresi menyuruh berhenti.


"Cih!" Dinda mendengarkan Anna dan langsung duduk.


Anna lalu menatap Rangga sedetik lalu menunduk.


"Maaf kak, saya yang salah maafkan saya," ucap maaf Anna dengan tulus sambil menunduk. Rangga menatap Anna cukup lama seperti ia belum puas.


"belom mulai pelajaran sekolah aja udah telat, gimana nanti waktu udah beneran masuk sekolah!" sindiran Rangga sambil menatap Anna dengan tajam dan di dengar oleh para adik-adik kelasnya.


"Lu harus dihukum!" seru Rangga pelan tetapi membuat terkejut Dinda dan Enny.


Robby dan Nia pun juga terkejut karena mereka takut Rangga akan memberi hukuman yang berat kepada Anna.


Tiba-tiba Rangga berteriak.


"SEMUANYA KELUAR KELAS, CEPAT!!" perintah Rangga dengan berteriak.


Seluruh kelas terkejut di buatnya.

__ADS_1


__ADS_2