SELISIH CINTA

SELISIH CINTA
11. dihukum berjemur


__ADS_3

"Loh kak, kenapa kita semua juga," protes salah satu adik kelas mereka.


"Iya kak, kenapa kita juga keluar," protes yang lain.


Rangga memandang mereka- mereka yang protes lalu berucap, "karena satu orang kena hukuman semua orang harus kena juga, kan?" jawabnya santai diakhiri tanya.


Lalu salah satu siswa tidak terima dengan keputusan Rangga, siswa itu berucap, "Gak bisa dong kak!" serunya.


"Iya kak, yang kena hukuman harusnya Anna atau mereka bertiga, kenapa kita juga kena!" seru siswi lain di kelas itu.


"Iya kak, mereka bertiga aja yg di hukum," seru siswi lain lagi.


"Iya kak," siswa lain yang ikutan.


"Iya, kita kan gak telat masuk kelasnya," ucap siswi lain.


Rangga menatap mereka mereka yang marah kepadanya.


"Kalian mau ngelawan gue, ha?" tanya Rangga dengan marah sambil memandang satu persatu adik kelasnya itu dengan emosi.


"CEPETAN KELUAR ATAU BAKAL GUE TAMBAH HUKUMANNYA!" seru Rangga dengan berteriak.


Para adik-adik kelas mereka berbondong-bondong keluar kelas di ikuti Dinda, Enny dan Anna yang terakhir karena kakinya masih nyeri walaupun sudah di bantu oleh Rio di kantin tadi.


°°°


Di saat para adik-adik kelas mereka berbondong-bondong keluar, Robby menghampiri Rangga.


"Lu mau apain mereka?" tanyanya dengan cemas kepada Rangga.


Rangga menggaruk tengguknya yang tidak gatal seperti bingung.


Sebenarnya dari awal ia ingin mengerjai Anna saja tetapi saat Rangga melihat Anna di bantu oleh Rio di kantin tadi ia seperti emosi dan kesal sendiri.


"Gue cuma pengen jemur mereka semua di lapangan berjam-jam," jelasnya kepada Robby.


"Ha? Cuma?" tanya Robby heran kepada Rangga.


"Tapi lu sama yang lain juga ikutin permainan gue, jangan diem aja kayak batu!" seru Rangga kali ini kepada Robby seperti menyuruh Robby dan yang lain ikut andil dalam rencanannya


.


.


.


Singkatnya mereka semua sudah berada di lapangan.


"Sialan! Siapa yang salah siapa yang dihukum!" seru teman kelas Anna yang lain.


"Iya, nyebelin banget!" jawab yang lainnya.


"Anjing emang!!" umpatan yang lain.

__ADS_1


Anna menunduk sedih dengan apa yang ia dengar dari teman-teman kelasnya itu. Ia merasa bersalah kepada mereka karena dirinya teman-teman yang lain jadi ikut di hukum.


Melihat Anna murung sedih, Dinda dan Enny mencoba menyemangati temannya itu.


Dinda menepuk pundak Anna lalu Anna menoleh, "gapapa Na, lu gak salah kok."


"Iya Na, ini semua cuma akal-akalan kak Rangga aja. sial," timpa Enny yang merasa kesal kepada Rangga.


Anna juga berpikir seperti itu tetapi mau bagaimana lagi. Ia sangat tau sifat Rangga yang tidak akan berhenti jika dirinya belum membuat Anna menangis.


Tetapi sekarang Anna sudah besar. Ia tidak mungkin menangis hanya karena tindakan Rangga yang mungkin nanti akan melewati batas. Ia juga sudah terbiasa dengan mulut pedas dari Rangga kepada dirinya.


'Apa yang akan kau lakukan lagi kepadaku kak ' batin Anna bertanya-tanya.


Lalu para osis yang membimbing mereka datang. Rangga, Robby, Nia dan Tono berjalan menuju ke lapangan dengan memakai topi masing-masing dari mereka yang membuat iri adik kelas mereka.


Rangga melihat para adik kelas mereka sedang berteduh tepat di bawah pohon dan taman sekolah karena cuaca sedang sangat panas.


Lalu Rangga menyuruh mereka berkumpul tepat di atas cahaya matahari yang sangat panas.


"Ayo kemari. Cepat," perintah Rangga.


Para adik kelas mereka menurut dan tepat berada di depan para osis berdiri.


"Lalu..duduk," perintah Rangga lagi.


Para adik kelasnya bingung.


"Ha? Duduk? Yang bener aja kak!"


"Masak panas-panas duduk di lapangan sih!"


"Yang bener aja!"


"Kak panasssss"


Protes mereka mereka dan tentunya tidak akan di dengarkan oleh Rangga.


"Udah gak usah pada protes dah!" seru Rangga dengan bernadakan tegas.


Para adik kelas mereka langsung menuruti dan duduk di lapangan di bawah teriknya matahari.


Nia dan Tono mulai membagikan lembaran kertas folio bergaris dan pulpen kepada adik-adik kelasnya. Pikiran adik-adik kelas mereka bingung kenapa mereka memberikan kertas folio untuk apa.


Lalu salah satu siswa berani bertanya kepada kakak kelas bimbingannya itu. "Untuk apa ini kak?" tanya seseorang.


Rangga yang awalnya diam langsung menoleh ke siswa tersebut tetapi masih tetap diam.


Setelah Nia dan Tono selesai membaginya, mereka kembali ke tempatnya.


Robby mulai maju untuk menjelaskan. Ia sedikit gugup karena ia benar benar tidak menyangka akan seperti ini dan bukan wewenangnya juga dan ia hanya menuruti perintah Rangga.


"Ehem...ka-kalau semua sudah mendapatkan kertasnya, gu-gue bakal jelasin," ucap Robby seperti gugup tetapi mencoba berkata tegas.

__ADS_1


"Kalian harus tulis 'SAYA MENYESAL SAYA TIDAK AKAN MENGULANGI KEMBALI' sampai kertas folionya sudah penuh dengan kata itu," perintah Robby kepada para adik kelas barunya tersebut.


Para adik kelas mereka terkejut dan mulai protes lagi. Tetapi Rangga, Robby, Nia dan Tono seperti sebelumnya tidak menanggapi ocehan adik kelas mereka.


Saat mereka ingin menyebar mencari tempat agar bisa menulis tiba-tiba di hentikan oleh Rangga yang dari jauh ia berteriak kepada para adik kelasnya.


"BERHENTI KALIAN!" teriaknya. Para adik kelasnya langsung diam dan menoleh ke Rangga.


Batin mereka 'apa lagi sih!'


Lalu Rangga berseru lagi, "siapa yang menyuruh kalian menyebar! Cepat kembali ke tempat lagi!"


Siswi lain merengek, "ta-tapi kak lapangan panasss."


"Iya kak...da-dan kita juga susah buat nulis hukumannya,"


Rengek mereka kali ini agar Rangga setidaknya kasihan kepada mereka.


Tetapi Rangga sama sekali tidak tersentuh, "Gak usah banyak omong deh kalian! Dah cepet balik ke tengah lapangan. Kalo gak mau bakal gue tambah kertasnya lagi!"


Mereka yang menyebar langsung menuju ke tengah lapangan yang panas sambil duduk di bawah sinar matahari yang terik. Sedangkan Rangga dan para kawannya malah berteduh sambil duduk santai sambil memandang para adik kelas mereka dari jauh.


.


.


Beberapa menit berlalu.


Nia yang sangat khawatir mulai berbicara kepada Robby agar bisa membujuk Rangga untuk berhenti menjemur adik kelas mereka.


Nia yang awalnya jauh dari Robby dan Rangga mulai berjalan menghampiri mereka.


Nia memanggil Robby, "Rob."


Robby menoleh ke Nia lalu menghampirinya.


"Kenapa?" tanya Robby.


"Rob, gue gak tega sama adik-adik. Udah hampir satu jam lho Rob. Dan mereka nulis sambil nunduk di tengah panas. Kasihan punggung mereka Rob," ucap Nia merasa kasihan. Robby diam lalu menundukkan kepalanya seperti menyesalinya juga.


Nia berucap lagi, "Rob, tolong bujuk Rangga berhentiin semuanya. Gue gak tau tujuannya apa tapi tolong bujuk dia dulu." minta Nia sambil menyatukan tangannya seperti memohon.


Lalu Robby mengangguk setuju, "yaudah gue coba bujuk dia."


Lalu Robby menuju ke Rangga di ikuti Nia di belakangnya.


"Ga, udah lama mereka di sana. Udah cukup lah ya, kita balikin adek-adek ke kelas sekarang," ucap Robby.


Rangga diam seperkian detik, "ha? Udah? Mereka bahkan belum selesai nulis hukumannya."


"Kalau mau selesaiin, sekalian mereka selesai nulis hukuman bro." ucapnya lagi sambil tersenyum smirk.


Mendengar itu Nia menjadi kesal.

__ADS_1


"Ga! Sebenernya tujuan lu apa sih! Kalo cuma satu orang doang masalahnya ya selesaiin pribadi dong! Jangan bawa bawa yang lain! Kasihan bangst!"


Kesal Nia kepada Rangga.


__ADS_2