SELISIH CINTA

SELISIH CINTA
12. berharap tidak mengenalnya


__ADS_3

Rangga menoleh ke Nia dengan raut kesal juga.


"Kenapa lu malah marah marah ke gue sih! Udah deh tenang aja! Gak bakal kenapa kenapa mereka!" jawab Rangga dengan nada kesal.


Mendengar jawaban Rangga membuat Nia malah lebih kesal lagi dan Nia mencoba mendekat ke Rangga lalu memegang kerah Rangga dan merematnya.


"Bajingn lu ya! Sampe mereka kenapa-kenapa Dan sampe kita ada masalah. Awas ya! Lu harus tanggung jawab!" peringatan Nia kepada Rangga dengan emosinya. Dan Rangga hanya diam sambil memandang Nia dengan raut yang tidak bisa diartikan.


Sedangkan di sisi para adik kelas.


"Anjing! Dah panas capek lagi."


"Huhu...punggung gue sakit,"


"Malem nanti gue badminton lagi. Sial."


"Bokong gue juga panassss,"


"Tumben banget angin gak ada."


"Iya, biasanya kalo di tempat luas angin tetep ada tapi ini enggak jadinya kita panas banget."


"Inikan lagi bulan bulannya musim panas di indo."


Gerutu mereka di tengah hukuman.


"T*i dah! Apa sih masalahnya tu osis ma kita!"


"Tauk...yang salah siapa yang di hukum siapa!"


"Anjing emang! Punggung gue sakitttt.."


"Apa gak ada cara lain biar kita bisa bebas."


"Gak tau gua!"


"Ini tuh salahnya Anna! Woy Na! Lu ada masalah apa sih sama kak Rangga?" celetuk siswa yang sedari awal memperhatikan interaksi Anna dan Rangga.


Anna hanya diam.


"Woy jawab!"


"Iya jawab dong! Kamu harus tanggung jawab!"


"Kita capek banget ni...gak ada cara yang lu tau Na, kayaknya lu deket banget sama kak Rangga."


"Iya, sana bujuk dia."


Mendengar itu Dinda malah yang jadi kesal.

__ADS_1


"Hadeh berisik deh kalian! Kalo mau ngeluh ya sama kak Rangga aja sendiri! Kenapa kalian minta tolong ke Anna yang sedari awal kalian caci! Babi emang kalian!"


"Heh! Jaga mulut lu ya!" jawab siswi lain.


"Kenapa? Lu mau berantem!" seru Dinda malah menantang.


"Udah deh Din! Lu memperkeruh! Kalian juga mending cepet selesaiin tulisan kalian terus balik kelas malah pada bacot semua!" kesal Enny kali ini dan langsung membuat diam semua orang termasuk Dinda.


Anna hanya menghela nafas seperti lelah dengan semuanya.


.


.


Beberapa menit mereka di tengah lapangan.


"Panas bangetttt huhu."


"Sakittt punggung gue."


"Iya sakit banget astaga."


"Anginnya kemana sihh."


Mereka mengeluh sakit pinggang dan kepanasan. Memang saat itu cuaca sangatlah terik. Angin muncul hanya beberapa kali saja dan mereka hampir satu jam lebih di sana hanya duduk di tengah panasnya lantai lapangan sambil menulis hukuman mereka seperti yang di perintahkan oleh Robby karena hukuman dari Rangga adalah duduk sampai berjam-jam sambil menulis. Pasti kaki, kepala dan punggung mereka mengeluh sakit. Dan mereka selalu menyalahkan Anna.


Anna tentu juga merasa bersalah, bukan karena ia terlambat masuk kelas tetapi ia merasa bersalah karena pertengkaran dirinya dan Rangga melibatkan teman-teman kelasnya.


Lalu Dinda mengeluh sakit punggung juga. Ia mencoba meregangkan tubuhnya sambil berdiri lalu duduk lagi karena takut nanti ketahuan Rangga dia berdiri, "aduhhh...enak banget astaga."


Melihat pacarnya yang seperti lelah membuat Galih khawatir.


"Capek ya?" tanya Galih kepada Dinda.


"Capek lah goblok! Emang lu gak capek?" jawab Dinda kasar tetapi diakhiri dengan tanya.


Tetapi Galih tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan kekasihnya itu.


"Yaudah sini gue pijitin," perintah Galih agar Dinda mau mendekat kepadanya.


Lalu Dinda mendekat dan berbisik kepada kekasihnya itu.


"Lu gak malu ya. Diliatin Enny dan Anna lho," bisik Dinda tetapi didengar oleh Enny dan Anna.


Enny dan Anna hanya tersenyum smirk mendengar Dinda berkata seperti itu.


"Ngapain malu. Lu kan pacar gue, ya gue berhak atas lu," jawab Galih percaya diri dan membuat kedua pipi Dinda memerah.


Lalu Enny berceletuk, "iya sana pijitin punggungnya. Kita mah sakit gapapa, paling cuma bengkok tulang punggung gue."

__ADS_1


"Apaan sih En!" jawab Dinda kepada Enny dan Enny hanya tersenyum smirk seperti mengejek.


Sedangkan Anna seperti tidak fokus. Ia malah melihat teman-teman kelas yang lainnya. Mereka kesakitan juga terutama para cewek yang mengeluh pusing, capek dan itu membuat Anna sangat khawatir.


Melihat Anna celingukan. Dinda mencoba bertanya kepada Anna, "Kenapa Na?" tanya Dinda.


Anna menjawab, "gapapa, punggungku juga sakit. Tapi..." Anna memotong perkataannya, ia mengangkat kertas folionya dan menunjukan ke teman-teman dekatnya bahwa ia sudah menyelesaikan tulisannya.


"Aku udah selesai, hehe." lanjut Anna. Dan mereka semua termasuk teman-teman kelasnya terkejut.


Dinda yang sangat terkejut sampai mulutnya menganga langsung mendekati Anna dan memegang kedua pundak Anna sambil menggoyang-goyangkannya.


"LU CEPET BANGET ASTAGAAA!!!" teriak Dinda persis di hadapan Anna yang membuat Anna menutup mata karena ludah Dinda muncrat kemana-mana.


Enny melihat itu juga jijik dan mencoba menghentikan Dinda agar menjauh.


"Haduh! Jigong lu kemana-mana goblok!"


Dinda langsung tersadar, "eh maap."


Tetapi Anna seperti biasa tidak menanggapi dengan serius. Dan teriakan Dinda terdengar oleh Robby, Rangga dan yang lain.


"Kalau begitu aku kumpulin dulu." ucap Anna.


Lalu Anna menuju ke kakel osisnya.


Ia menuju ke Robby.


"Kak punyaku udah selesai." ucap Anna sambil menyodorkan kertasnya ke Robby.


"Ka-kau sudah selesai!" ucap terkejut Robby. Anna hanya mengangguk.


Robby mengecek lembar folio Anna dan memang benar sudah selesai lalu ia menoleh ke Rangga dan melihat temannya itu seperti penasaran. Lalu ia memberikan lembaran itu kepada Rangga dan Rangga mengeceknya sendiri dan ternyata memang benar sudah terisi tulisan SAYA MENYESAL SAYA TIDAK AKAN MENGULANGI KEMBALI sampai full.


Melihat itu Rangga mulai geram karena ternyata yang selesai malah Anna dulu. Rangga ingin Anna yang terakhir tetapi ternyata tidak.


Batin Rangga 'sialan lu Na!'


Dan Anna tau kalau Rangga seperti kesal kepadanya karena selesai lebih dulu.


"Hahhhhhh..."


Anna menghela nafas.


Lalu ia maju agar bisa menatap Rangga. Jarak Rangga tidak terlalu jauh dengan Robby.


Robby panik melihat Anna mendekati Rangga. Dan Nia melihat dari kejauhan langsung menuju ke mereka karena takut Rangga nanti emosi lagi. Teman-teman kelas mereka juga melihat Anna yang seperti sedang berbicara kepada Rangga dan yang lain.


"Apa yang Anna lakukan?" ucap siswa lain bertanya-tanya

__ADS_1


"Entah."


__ADS_2