
Rangga tetap menutup mulutnya tidak menjawab pertanyaan Nia.
"Iya, gue juga penasaran Ga. Lu sama Anna apa udah saling kenal?" tanya Robby kali ini.
Rangga tetap diam.
"Jawab woy! Kalo gue tanya itu di jawab!" seru Nia kesal karena Rangga tidak menjawab.
"Apa dia mantan lu?" tanya Tono.
Rangga langsung terkejut.
"Kagak njir!" jawabnya.
"Crush lu yang lama ilang?" tanya Tono lagi.
"Cuih! Ogah gue punya crush kek gitu! Gue udah punya crush yang lebih cakep dari dia," jawab Rangga panjang sambil mengingat wajah Apsa.
"Adek lu yang gak pernah lu temuin?" tanya Tono lagi ke tiga kalinya.
Bertubi-tubi pertanyaan dari Tono membuat Rangga mulai kesal.
"Ah! Kalian bisa diem gak sih! Kepo amat sama kehidupan gue! Pokoknya dia orang yang paling gue benci!" jawab Rangga dengan emosi.
"Yaudahlah terserah dia aja kalo gak mau kasih tau," ucap pasrah Nia dengan Rangga. Robby dan Tono hanya mengangguk-ngangguk.
°°°
Saat Robby, Nia dan Tono sudah menyuruh adik kelas mereka yang mereka jemur di tengah lapangan untuk kembali ke kelas. Lima menit setelah itu Anna datang melewati lorong sekolah agar ia tidak bertemu dengan teman-teman kelasnya.
Saat Anna datang Rangga mulai berseru seperti kesal.
"Lama amat lu!" serunya.
Anna menjawab, "sepuluh menit emangnya lama?"
"Lama lah goblok!" jawab Rangga dengan kasar. Lalu Rangga beranjak dari duduknya lalu menarik tas Anna dan melemparnya ke dudukan taman lalu ia menarik Anna menuju ke lapangan.
"Aduh kak sakit," eluh Anna merasa sakit dengan genggaman tangan Rangga yang sangat kencang. Rangga mengabaikan seperti tidak peduli dengan rasa sakit Anna.
Saat sudah di tengah lapangan, Rangga berhenti berjalan lalu ia melihat ke langit-langit lalu menunduk lagi.
__ADS_1
"Lu duduk di sini," perintah Rangga kepada Anna.
Ternyata saat Rangga melihat ke langit ia mencari dimana matahari terik berada setelah itu ia menyuruh Anna duduk persis mengarah ke matahari. Tujuan Rangga agar Anna benar-benar kepanasan nantinya.
Anna tidak protes sedikitpun. Ia menatap ke atas melihat matahari yang sangat terik di hadapannya. Lalu beralih menatap Rangga yang dipandangannya terlihat silau karena terkena sinar matahari.
"Lu disini! jangan berdiri," perintah Rangga lagi. Anna hanya mengangguk.
Lalu Rangga kembali ke tempatnya duduk sambil mengawasi Anna dari jauh.
Melihat Rangga berlaku kasar kepada Anna membuat Nia khawatir.
"Ga! lu gak perlu kasar begitu ke Anna!" kesal Nia kepada Rangga.
"Cih" Rangga hanya membalas decihan karena ia kesal sedari tadi Nia membela Anna.
Robby menghela nafas saja melihat tingkah temannya tersebut. Lalu, "yaudah kalo gitu gue sama Nia ke kelas adek-adek dulu. Ton, lu di sini aja awasi Anna." ucap Robby pamit sambil menyuruh Tono menemani Rangga.
Tono hanya mengangguk setuju.
Robby menghampiri Tono lalu merangkul leher Tono dan menarik Tono menjauh dari Rangga dan Nia lalu berbisik, "Ton, Lu harus awasin Rangga juga. gue takut dia apa-apain adek kelas itu." Tono mengangguk lagi dengan jawabannya.
Lalu Robby dan Nia pergi meninggalkan mereka.
.
.
"Panas bangetttt..." gumam Anna yang sudah merasakan panas.
Angin pun hanya sesekali muncul lalu pergi, Anna juga belum sempat sarapan tadi pagi. Saat tadi di kantin juga ia tak sempat membeli makanan dan malah melukai kakinya sendiri walaupun tidak di sengaja. Sinar matahari juga membuat kepalanya sedikit merasa pusing.
Tetapi Anna harus bisa menahannya.
Anna melihat ke arah Rangga yang sedang bermain handphone.
Anna membatin, 'Ku pikir lagi...sejak kapan kita memulai pertengkaran kak? Aku benar-benar tidak mengerti apa kesalahanku kepadamu hingga kau sampai memperlakukanku seperti ini. Tetapi semenyebalkan dirimu kenapa aku tidak bisa membalasmu' batin Anna mengingat-ngingat sambil memandangi Rangga yang sedang fokus dengan handphonenya dan tidak menyadari bahwa Anna menatap dirinya.
'Kau selalu perlakukan aku dengan buruk sejak dulu. Aku selalu kesal, selalu sakit hati, aku ingin sekali membalas dirimu lebih dari umpatan tetapi aku tidak bisa karena perasaan di hatiku ini lebih besar dibanding perasaan benciku kepadamu' ucap dalam hati Anna lagi dengan mata berbinar seperti ingin menangis. Sambil ia menatap Rangga lalu Rangga sadar ia seperti di tatap seseorang dan ia menoleh ke Anna tetapi Anna langsung bersikap seperti bukan dia yang menatap dan Rangga fokus lagi ke handphonenya.
.
__ADS_1
.
Perasaan di hati Anna kepada Rangga memang sudah sederas sungai tetapi sungai bisa surut jika iklim berubah.
Apakah Anna akan terus membawa perasaan itu di hatinya, atau seiring berjalannya waktu suatu saat ia akan melepaskan diri dari perasaan itu.
Tetapi saat ini Anna ingin membawa perasaan itu di hatinya tanpa Rangga tau.
***
Di kelas sepuluh A2 kelas Anna. Beberapa menit teman-teman Anna di kelas untuk istirahat dan ngadem karena kelas mereka ber-AC, Robby dan Nia sudah berada di sana. Mereka berdua harus menyelesaikan tugasnya dan Tono masih berada di sekitar lapangan untuk mengawasi Anna dan Rangga juga.
Enny yang sebangku dengan Anna bertanya-tanya kemana tas Anna dan Anna sendiri berada dimana pikirnya. Apakah Anna di izinkan pulang atau masih di sekitar sekolah, Enny benar-benar bingung. Ia mencoba berdiskusi dengan Dinda.
"Din," toelnya kepada Dinda agar Dinda berbalik kepada dirinya.
"Hmm?" jawab Dinda singkat.
"Tas Anna gak ada, dia dimana ya?" bisik Enny kepada Dinda.
Dinda langsung melirik bangku di samping Enny yang kosong tidak ada tas Anna.
"Lah! Anna kemana?" tanya Dinda balik dengan berbisik juga.
"Makanya itu gue tanya!" seru Enny.
Lalu Dinda dan Enny fokus lagi ke kakel osis karena mereka sudah mulai berbicara.
"Pasti kalian lelah?" tanya Robby basa basi.
Dan teman-teman kelas Anna hanya menjawab dengan gumaman, "tentu saja lah." sambil mereka melirik Robby dan Nia dengan sinis.
Robby melihat itu hanya menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal.
Lalu Nia kali ini yang berucap, "karena waktunya masih panjang. aku akan menjelaskan untuk besok, karena besok adalah hari terakhir orientasi siswa. Besok kalian mulai berpakaian rapi, sudah memakai seragam sekolah lengkap karena besok perkenalan wali kelas kalian dan...jika tidak lengkap kalian akan dihukum lagi nanti sama Rangga, oke?" jelas Nia.
Mendengar nama Rangga membuat para adik-adik kelasnya itu langsung merinding.
"Iyaaaaa...kak..." jawab mereka serempak.
Nia mengaangguk-ngangguk saja.
__ADS_1
"Kalau begitu kumpulin kertas folio kalian, di kardus ini," minta Nia kepada adik-adik kelasnya sambil mengetuk-ngetuk kardus yang ia bawa. Dan para adik-adik kelasnya itu langsung maju untuk mengumpulkan kertas mereka.
Setelah terkumpul semua, Nia keluar untuk memberikan kardus berisi kertas folio itu ke ruangan osis. Sedangkan Rangga menjaga kelas sampai bel pulang.