
"Aaaght"
Mereka berlari tanpa arah sehingga tanpa menyadari menabrak sesuatu.
"Aduh..!!"
Mereka jatuh bersamaaan.
"Jhenta..!! "
Ucapan ade menyadarkan mereka semua. Mereka bertabrakan dengan jhenta. Ade langsung bangkit menghampiri jhenta, membantunya bangkit. Cece, intan dan diva pun bangkit menghampiri jhenta.
"Jhenta, kamu kemana aja? Aku nyariin kamu dari tadi. Kamu tau khawatirnya aku! "
Belum selesai ade berbicara, tomi muncul dari belakang jhenta bersama seseorang yang nggak pernah mereka kenal.
"Tomi, ini siapa? Andre mana?? "Tanya ade
"Oh ya.. Kenalin, aku aries" ucap pria tak dikenal itu.
"Aris?? "
"Udah, ceritanya panjang. Nanti aja diceritainnya. Yang penting kita harus ketempat aman dulu". Ucap jhenta
"Iya. Ayo ikut aku". Ucap aries.
Mereka mengikuti aries dari belakang melalui beberapa jalan setapak masuk lebih dalam kedalam hutan. Melewati beberapa celah batu. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai kesebuah pohon besar dengan rongga didalamnya hampir menyerupai goa.
"Ayo masuk. Ini senyaman rumah sendiri. Kalian tenang aja, didalam lebih aman ketimbang diluar pada jam segini." ucap aries
Mereka berpandangan sejenak. Lalu melangkah maju mengikuti aries. Tempat itu gelap, Sangat gelap sampai mereka tidak mampu melihat sekeliling. Aries berjalan lurus terus kemudian membuka beberapa celah dalam rongga pohon itu sehingga cahaya bulan masuk perlahan menerangi tempat itu.
Tempat itu tertata rapi. Ada kasur parasut untuk tidur, beberapa peralatan makan, buah-buahan dan beberapa potong daging. Ada beberapa tumpuk tas dan baju juga disudut ruang itu.
"Duduklah. Tempat ini mungkin nggak lebar, namun masih muat menampung kita semua tidur malam ini sampai pagi. "
Jhenta dan teman-temannya duduk bersandar kedinding. Mereka mengistirahat kan kaki mereka. Kaki mereka sudah terasa begitu lelah karena seharian ini berlari.
"Mana kaki kamu? Coba aku lihat. Biar aku obati." ucap aries pada jhenta.
Jhenta menunjukkan kakinya pada aries. Kakinya memang terasa sangat sakit. Memar karena terperosok saat berlalu beberapa waktu yang lalu. Aries mengambil beberapa obat dari tas yang tersandar disalah satu sudut ruang itu.
"Kamu siapa?" tanya ade bagitu penasaran.
"Aku aries. Salah satu mahasiswa yang hilang tiga tahun yang lalu." jawab aries sambil terus mengobati luka kaki jhenta.
"Iya aku pernah dengar masalah mahasiswa yang hilang itu. Jadi kamu salah satu dari mereka? " tanya intan.
__ADS_1
"Iya, aku salah satu dari mereka yang selamat"ucap aries.
"Terus teman-teman kamu yang lain kemana? Kok cuma kamu yang selamat? "Lanjut cece.
Aries hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala. Mereka terdiam, mereka mengerti maksud dari aries.
"Ini tempat apa sebenarnya? Kenapa kita nggak bisa keluar dari sini? "Tanya ade.
"Ini seperti labirin dengan beberapa hal mistis. Aku udah tiga tahun disini. Mengamati dan mencari jalan keluar. Tapi nggak ada juga dan belum ketemu sampai saat ini" jelas aries
"Jadi maksud kamu kita bakal terkurung disini selamanya? "Tanya diva.
"Nggak juga, selama kita bekerja sama. Kita pasti bakal nemuin jalan keluarnya"ucap aries.
"Aku nggak mau mati konyol disini"ucap cece.
Mereka menatap cece yang masih sangat ketakutan dan mulai menangis.
"Oh ya.. Nita, ninda ma andre kemana? "Tanya jhenta.
Mereka hanya terdiam membisu tanpa jawaban. Cece dan diva semakin menjadi-jadi tangisannya.
"Mereka nggak selamat. Nita terbunuh didepan kami. Sedangkan ninda, nggak tau gimana keadaannya sekarang" jelas ade.
"Andre juga nggak mungkin selamat. Kami dikejar beberapa makhluk aneh. Andre jatuh terperosok kejurang. Beruntung aku ketemu jhenta dan aries." ucap tomi.
"kalian istirahat dulu. Nggak aman diluar sana. Disini lebih aman. Besok aku akan bawa kalian keliling. Aku akan tunjukin tempat seperti apa sebenarnya ini. Kita akan cari jalan keluar sama-sama" ucap aries.
Mereka merebahkan tubuh mereka. Mereka terlalu lelah untuk memikirkan esok hari. Aries menutup celah pintu masuk mereka tadi dengan pintu buatan yang dia buat sendiri.
Jhenta masih duduk terpaku menatap langit luar dari balik celah sempit. Memikirkan semua yang hari ini telah terjadi dalam hidupnya.
"Maafin aku, aku nggak bermaksud buat ninggalin kamu tadi" ucap ade lirih.
Jhenta hanya terdiam. Ade duduk tepat dihadapannya. Memegang erat tangannya.
"Aku beneran nggak bermaksud buat ninggalin kamu tadi, aku khilaf sesaat. Aku bener-bener nggak bermaksud" ucap ade.
" kamu memang nggak berniat, tapi biarin aku mati disana. Kamu tau betapa takutnya aku saat itu. Bahkan kamu menolehpun nggak. Kamu lari sama wanita itu". Ucap jhenta sambil meneteskan air mata mengenang perlakuan ade siang tadi.
"Aku tau aku salah. Aku khilaf sesaat. Tapi kamu lihat, aku disini, aku kembali disini. Aku kembali buat kamu" ucapnya
"Kami kembali disaat semua udah terlambat, dan aku juga nggak tau niat kamu kembali untuk aku atau untuk hal lain"
"Aku tau aku salah. Aku mintaa maaf. "Pinta ade.
Jhenta berlalu meninggalkan ade. Menjauh darinya. Mencari tempat untuk membaringkan tubuhnya. Ade hanya terdiam membisu. Baru kali ini dia melakukan kesalahan fatal.
__ADS_1
*****
"Jhenta"
Jhenta tersadar dari tidurnya. Suara itu membangunkannya. Begitu jelas dan dekat berhembus ditelinganya.
"Suara itu lagi." gumamnya
Jhenta kembali membaringkan tubuhnya. Mencoba kembali menutup matanya.
"Jhenta, keluarlah".
Suara itu muncul kembali. Jhenta bangkit dari tidurnya. Mencari asal suara itu. Sepertinya dari luar. Jhenta melangkahkan kaki perlahan melewati teman-temannya yg sedang tertidur pulas. Membuka pintu perlahan.
"Jhenta, disini".
Suara itu muncul dari sebelah pohon besar itu. Jhenta mengikuti arah suara itu berasal.
Tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok hitam yang sebelumnya selalu dia lihat dibelakang asrama. Sosok yang selalu memanggilnya. Sosok yang selalu muncul dalam mimpinya.
"Nggak! Nggak mungkin! Nggak mungkin itu kamu! Nggak mungkin!! Nggak mungkin! "Teriak jhenta sambil melangkah mundur perlahan ketakutan.
Sosok itu berjalan mendekat dan semakin mendekat tepat di hadapan jhenta.
"Menjauh!!! Pergi!!! Kamu bukan dia!! Pergi!! "
Sosok itu membisikkan beberapa kata kepada jhenta. Membuatnya jatuh terduduk berlinang air mata.
"Nggak..!!!! Kamu bukan dia!!! "
Teriakan jhenta membangunkan mereka semua. Mereka berlari keluar mencari keberadaan jhenta.
"Nggak mungkin... Nggak mungkin..!".
Jhenta masih larut dalam pikirannya saat ade, cece, intan, diva, aries dan tomi menghampirinya.
"Kamu kenapa jhen? "Ucap ade sambil menyadarkan jhenta.
Jhenta hanya diam membisu. Tatapan matanya kosong. Entah apa yang dikatakan oleh sosok itu dan siapa sebenarnya sosok itu.
Mereka membawa jhenta kembali masuk. Mencoba menenangkan hatinya. Dia hanya duduk terdiam mendekap kedua lututnya sambil terus berlinang air mata.
"Jhenta kenapa? Kok tiba-tiba jadi kayak gini. " tanya diva.
"Aku juga nggak tau. Tiba-tiba dia teriak. Lalu jadi kayak gini". Jelas intan.
"Sepertinya ada yang dia lihat dan dia dengar tadi diluar" ucap aries.
__ADS_1
"Ya udah kita tunggu sampai pagi. Sebentar lagi pagi, abis itu kita cari jalan keluar"ucap ade.