
Malampun menjelma. Desiran angin terdengar begitu sendu dibalik jendela asrama. Angin bertiup berlahan membawa sejuta asa dan angan yang menjelma dalam mimpi.
Aku masih disini. Di asrama yang penuh tanda tanya. Jam didinding masih menunjukkan waktu 20.00 wib. Sehabis shalat isya, ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Menatap langit-langit kamarku. Angin bertiup begitu kencang sepertinya diluar. Aku masih berdiam diri diatas kasurku.
"Jhen, duduk di balkon yoks"
Ajakan andini membuatku bangkit dari tempat tidurku. Aku membuka pintu balkon. Kusandarkan tubuhku. Kami ngobrol seputar kehidupan sehari-hari kami. Diselingi dengan tawa kecil dan candaan yang receh banget.
"Jhenta"
Aku memalingkan pandanganku seketika kearah rimbunan pohon. Suara itu tak terdengar asing buatku. Ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Namun kemudian aku kembali pada pembicaraan kami.
"Jhenta, kamu jhenta kan"
Suara itu lagi. Aku bangkit dari tempat dudukku, menatap dalam kembali ke arah rimbunan Pohon dan semak di depan kami.
__ADS_1
"Kenapa jhen? " tanya andini
Aku masih terfokus pada rimbun pohon yg hanya diterangi oleh cahaya rembulan malam itu. Mataku hanya tertuju pada satu titik. Jalan setapak ditengah rimbunan pohon. Entah sejak kapan jalan itu ada. Mungkin terlihat jelas karena kamarku dilantai tiga asrama.
"Jhenta! "
Aku tak menghiraukan panggilan andini. Tiba-tiba mataku terfokus pada jalan setapak itu. Aku cermati, samar-samar, begitu samar. Ada seseorang sepertinya yang tengah berdiri di tengah jalan itu. Aku cermati betul-betul. Beneran orang atau cuma pantulan cahaya bulan.
Sepertinya memang orang. Laki-laki sepertinya. Kalau hantukan biasanya perempuan. Ini laki-laki, berarti bukan hantu donk. Pertanyaannya itu orang atau orang-orangan.
"Dini, sini deh. Coba kamu lihat, itu orang atau pantulan bulan". Ucapku kepada andini.
"Itu..! " ucapku sambil menunjuk ke jalan itu
"Nggak ada apa-apa jhen. " ucap andini
__ADS_1
"Coba lihat yang bener, ada tu lagi berdiri. "
Andini melihat jauh kearah jalan setapak itu. Namun dia tidak melihat apapun. Berkali-kali aku tunjuk ke arah yang sama, berkali-kali pula dia jawab tidak ada. Seketika bulu kudukku berdiri. Angin dingin berhembus perlahan dan sosok itu masih di situ tidak bergerak.
"Ayo masuk, udah malam. Mungkin cuma cahaya bulan. "
Ajakan andini membuyarkan pandanganku. Aku melangkah masuk sambil menyadarkan diri kalau memang itu hanya pantulan cahaya bulan. Namun sesekali ku lirik. Dia masih disitu, diam tanpa gerakan. Iya berarti itu cahaya bulan. Fix, gitu aja supaya malam ini tak terbayang-bayang. Aku tutup pintu balkon kamarku. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur, berharap malam segera berganti dengan cahaya mentari yang hangat. Aku tutup perlahan mataku. Sejenak berlalu, desiran angin tak lagi terdengar, hanya terdengar sayup-sayup langkah kaki di koridor asrama.
"Astaga!!! "
Tiba-tiba aku tersadar, ini tengah malam. Langkah kaki tengah malam di koridor asrama. Mataku terbelalak, bulu kudukku berdiri, punggungku terasa dingin. Aku terdiam membisu tanpa kata. Langkah itu tak terdengar lagi.
"Jhenta"
Suara itu lagi. Memanggilku lirih. Sepertinya kali ini terdengar begitu dekat, Sangat dekat. Jam dinding baru menunjukkan pukul 00.10 wib. Baru lewat 10 menit tengah malam. Sial kali pikirku aku malah jadi tidak bisa tidur.
__ADS_1
"Jhenta"
Suara itu kembali terdengar berulang kali malam ini. Membuatku terjaga dari tidurku.