
"Kayaknya udah aman".
"Iya semoga aja. Yang lain belum kembali kesini, gimana nih? "
"Udah tenang aja ntar juga balik".
Ade dan intan sudah sampai keperkemahan mereka. Mereka duduk di depan api unggun sambil menunggu teman-temannya yang lain kembali. Wajah ade bagitu pucat pasih, dia terlihat masih begitu ketakutan.
"Kamu kenapa, de? "Tanya intan.
Ade cuma diem aja, nggak jawab sama sekali pertanyan intan tadi. Dia hanya berkali-kali mengusap wajah dan rambutnya. Matanya seakan-akan mulai berkaca-kaca, hatinya tidak tenang, pikirannya kacau, perasaannya tidak tenang.
"Kamu kenapa? "Tanya intan.
"Lo sadar nggak kita baru aja ninggalin jhenta sama makhluk itu!! "Ketus ade
"Iya, salah satu kita memang harus di korbankan kan "Ucap intan
"Tapi nggak harus jhenta kan!! "
"Udah deh nggak usah lebay, kamu sendiri yang bilang akan ninggalin jhenta demi aku kan, bagus donk kalau dia ngilang sekarang. Iya kan? "
"Kamu benar-benar keterlaluan..! "
"Kok kamu jadi nyalahin aku?! "
"Kalian kok udah balik? "
Tiba-tiba diva, cece dan ninda muncul dari kegelapan.
"Lho? Jhenta mana? ". Tanya diva.
"Jhenta hilang". Ucap intan.
"Hilang? Hilang gimana maksudnya? "
"Iya tadi kami itu dikejar mahkluk aneh, nggak kelihatan badannya, cuma matanya aja, nggak tau makhluk apa. Kami lari sekencang mungkin, tiba-tiba jhenta hilang, nggak ada dibelakang kami"jelas intan.
"Nggak, nggak, nggak mungkin jhenta ngilang gitu aja! "Ucap ninda.
"Ya emang itu kenyataannya. Mungkin dia mau keluar dari hutan ini sendirian, siapa yang tau kan. Lagiankan memang dia yang bawa kita kemari, pasti dia tau jalan keluarnya". Ucap intan.
"Kamu jangan asal bicara ya, tan. Jhenta itu nggak mungkin kayak gitu" ketus diva.
"Siapa tahukan! " balas intan.
"Udah!! Udah!! Cukup!! ". Teriak ade.
Ade bangkit dari tempat duduknya. Mengambil beberapa peralatan dan barang-barang yang sekiranya diperlukan.
"Aku mau balik nyari jhenta. Kalian mau ikut atau nggak itu terserah kalian! ". Ucap ade
" kamu nggak bisa seenaknya gitu aja dong, de. Kamu nggak mikirin keselamatan kita semua?! Gila lo! "Ketus intan.
"Karena aku mikirin keselamatan kita semua makanya aku mau balik nyari jhenta! Aku nggak mungkin ninggalin dia. Nita pun belum ketemu. Hidup atau mati aku harus lihat dengan mata kepalaku sendiri dari pada aku menyesal seumur hidup! "Ucap ade.
__ADS_1
" gila lo!! Lo nggak mikirin perasaan aku, de! "Ucap intan.
"Bagiku, jhenta lebih dari segalanya. Kalian kalau nggak mau ikut di sini aja". Ucap ade
"Kami ikut" ucap diva, cece dan ninda serentak.
"Ok.. Ayo! "
Mereka sepakat untuk kembali mencari jhenta bagaimanapun keadaanya saat ini. Mau nggak mau intanpun ikut serta. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang tadi mereka lalui. Perassan mereka bercampur baur antara takut, berani dan cemas.
Mereka terus melangkah lebih dalam, walaupun belum ada tanda-tanda kebaradaan jhenta dan nita. Mereka terus mencari tanpa henti.
Malam kian larut. Suara hewan malam terasa begitu mencekam dalam kesunyiaan dan keheningan. Angin bertiup semakin syahdu menerabas melewati kebekuan malam. Hanya terdengar sayup-sayup dedaunan bernyanyian dan suara nyanyian hewan malam. Terkadang terdengar senyap-senyap suara lolongan anjing liar yang menggetarkan jantung.
Derap langkah kaki pun hampir tak terdengar. Irama detak jantung semakin kencang dan berirama. Keringat dingin mulai berjatuhan. Begitu memilukan dan dingin.
"Stop!! Jhenta tadi jatuh disini! "
Ade dan teman-teman jhenta menghentikan langkah mereka di tempat jhenta tadi jatuh. Ade memperhatikan sekeliling. Tidak ada bercak darah atau apapun. Hanya jejak sepatu yang terlihat tidak jejak.
"Ini jejak sepatu jhenta. Kemungkinan dia selamat dan berhasil melarikan diri. Arahnya ke arah dalam hutan. Sepertinya menuju kearah pohon beringin besar di tengah hutan. Kita ikuti.! " ucap ade.
Merekapun sepakat mengikuti jejak sepatu yang ditinggalkan jhenta. Mereka berjalan dengan seberkah harapan dan kepastian.
Jejak jhenta menghilang pas didepan pohon beringin besar ditengah hutan.
"Pohon ini kenapa ada dimana mana? "Tanya cece
"Bisa jadi ini pohon yang lain. " ucap diva.
"Nggak mungkin pohon bisa jalan, kan dia ada di pinggir jalan sana, nggak mungkin dia pindah ke tengah hutan" ucap intan.
"Aku inget sebuah kisah, tentang pohon yang bisa membuat orang yang disekitarnya hanya berjalan berputar-putar saja. Mereka merasa udah jalan jauh banget, namun akhirnya mereka hanya kembali ke pohon itu. Begitu seterusnya. "Ucap ninda
"Kamu jangan nakutin ih! " ucap diva
"Aku serius, jangan-jangan memang kita lagi diposisi itu, kalau iya berarti kita harus menemukan akar pohon terpanjang, karena kita cuma bisa keluar dengan mengikuti akar itu" kata ninda.
Mendengar ucapan ninda, mereka bergegas mencari akar terpanjang dipohon itu.
"Nggak ada tuh akar terpanjangnya". Ucap diva
"Iya kok nggak ada ya?, atau mungkin karena malam jadi nggak kelihatan"ucap intan
"Mungkin itu cuma mitos aja" ucap ade.
"Bisa jadi" Ucap ninda.
"Aaaagh......!!!! "
Suara itu benar-benar mengagetkan, menggema diseluruh tempat. Mereka berlari memburu asal suara itu. Suaranya terdengar tidak asing bagi mereka. Sesegera mungkin menghampiri asal teriakan itu.
Langkah mereka terhenti. Mata mereka terpaku pada seseorang tengah berdiri dihadapan mereka. Wajahnya tidak asing bagi mereka, namun terlihat begitu lusuh dan berantakan. Keadaannya sungguh memprihatinkan. Jantung mereka berdetak begitu kencang. Ade memberanikan diri mendekat lebih dekat. Sosok itu berdiri tepat didepan mereka. Menatap mereka dengan pandangan mata yang kosong dan raut wajah yang begitu memelas.
Ade mendekat perlahan sambil diperhatikan. Sosok itu sepertinya bukan makhluk penunggi hutan itu, Karena aura wajahnya terlihat familiar banget, hanya sedikit lusuh.
__ADS_1
Ade semakin mendekat, memperhatikan dengan seksama.
"Nita? " tanya ade
Mereka begitu tercengang mengetahui bahwa itu nita. Dia hanya menghilang beberapa jam yang lalu, namun keadaannya sungguh memprihatinkan seperti sudah menghilang bertahun-tahun yang lalu.
"Nita, kamu kenapa bisa disini?" tanya ade.
Nita hanya diam membisu. Tidak satu katapun terucap dari bibirnya. Tatapan matanya kosong tanpa harapan. Dia hanya berdiri dan diam membisu.
Ade memperhatikan sekeliling mereka. Perlahan-lahan ade berjalan mundur menghampiri ninda, cece, intan dan diva.
"Ada yang nggak beres nih, bisa jadi itu bukan nita. Coba kalian perhatikan sekeliling. Bukankah yang dibelakang nita itu pohon beringin yang tadi kita temui. Yang selalu kita temui kemanapun kita pergi?" ucap ade.
Ninda, cece, intan dan diva memperhatikan sekeliling mendengar ucapan ade. Seketika rasa takut menghampiri mereka. Malampun semakin larut. Angin seketika bertiup begitu kencang.
"Pergi! "
Ucapan nita begitu mengejutkan mereka. Mereka saling berpegang tangan. Jantung mereka berdetak begitu kencang.
"Pergi! Larilah sejauh mungkin. Jangan pernah menoleh kebelakang! Larilah! Kalian semua akan mati! Pergi sejauh mungkin. Sembunyi! "
Darah segar mengalir perlahan dari mulut nita. Pandangan matanya begitu memelas.
"Cepat pergi! "
Tiba-tiba tubuh nita terbang keatas dan mendarat dengan keras ketanah tepat didepan mata mereka.
"La.. La.. Lari"
Ade berteriak sekencang mungkin. Mereka segera berlari sejauh mungkin dari tempat itu tanpa menoleh kebelakang. Mereka berlari tanpa arah, mereka hanya terus berlari sejauh mungkin.
"Aaah!!! "
Ninda terjatuh dibelakang mereka. Mereka berbalik dan menghampiri ninda. Belumpun mereka sempat menolong ninda. Tiba-tiba saja tubuh ninda terseret kebelakang. Seperti ada yang menariknya sekencang mungkin. Mereka memburu tubuh ninda. Menahannya agar tidak terseret lebih jauh.
"Tolong aku! Aku nggak mau mati! "ucap ninda memelas.
"Kami nggak akan lepasin kamu! pegang yang erat! " teriak intan.
Malam begitu gelap sampai tak terlihat apa yang menarik ninda begitu kuat.
"Aku nggak kuat lagi! Jangan lepasin aku! "Tangis ninda.
"Kami nggak akan lepasin kamu".
Tarikan itu begitu kuat. Mereka berlima menahan tubuh ninda sekuat tenaga.
"Aaaaahhh!!!!!! "
Tubuh ninda menghilang dalam gelap malam.
Mata mereka terbelalak.
"Lari..!! Lari.. Ayo lari!! " teriak ade
__ADS_1
Mereka segera bangkit dan kembali berlari sekuat tenaga. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat dan barusan mereka alami. Mereka terus berlari tanpa arah dan tujuan. Yang ada dalam benak mereka hanya mereka harus berlari menyelamatkan diri mereka sendiri.