Semak Belukar

Semak Belukar
Episode. 14


__ADS_3

"Jhenta! Ayo lari sebelum semua terlambat! "


Teriakan aries membuyarkan pikirannya. Hati dan pikirannya berkecamuk. Pemandangan didepan matanya benar-benar menyayat hati.


Jhenta berlari mengikuti aries. Menjauh sejauh mungkin dari mereka. Luka yang diberikan oleh intan masih begitu terasa. Bagaimana diva harus tewas didepan matanya masih terus membayangin pikirannya. Dia tidak ingin lagi terlibat dengan urusan intan dan ade lagi.


Langkah kaki jhenta tiba-tiba terhenti. Jantungnya berdetak kencang. Dia menoleh kebelakang sesaat.


"Kenapa jhen? " tanya aries


"Aku nggak bisa ninggalin dia gitu aja ris. Aku nggak mau kehilangan lebih banyak lagi. Dia juga manusia. Terlepas dari apapun perbuatannya ke aku. Aku nggak berhak balas kejahatan dengan kejahatan."


"Bodoh kamu jhen! "Ucap aries.


"Aku nggak bisa setega itu ris. Aku harus kembali. Kita harus bantu mereka ris. Bukan demi siapapun, tapi demi hati nurani kita"


"Kenapa juga kita harus peduli? Mereka udah jahat sama kamu kan? " ucap aries geram.


"Iya memang, tapi kalau kita ninggalin mereka, bukannya kita sama aja kayak mereka ris." jelas jhenta.


"Ya ampun jhenta!. Ughh....!! ".


Mereka memutuskan untuk kembali dan menolong intan. Aries berjongkok membantu ade menarik intan. Tarikan itu begitu kuat. Mereka benar-benar tidak bisa melihat apa yang menarik intan. Intan menangis sejadi-jadinya. Jhenta teringat bahwa disaku celananya ada korek. Jhenta bangkit dari tempatnya. Menyalakan koreknya dan mengarahkan korek itu kearah kaki intan. Betapa terkejutnya dia melihat apa yang menarik intan. Pikirannya sulit percaya apa yang dia lihat.


"Jhenta! "


Jhenta berlari mencari sesuatu yang bisa digunakan disekitar mereka. Hanya ada ranting pohon disekitar mereka, tapi ranting itu terlalu rapuh.


"Kalian punya pisau atau apa gitu? Benda tajam atau semacamnya? " tanya jhenta ada aries dan ade.


"Ada diranselku. Coba kamu lihat. Tapi untuk apa? " ucap ade.


"Buat motong". Jawab jhenta singkat


"Motong apa?!! Lo mau motong kaki gue! Gila lho! " ucap intan geram.

__ADS_1


"Eh.. Lu udah kayak begini bisa belagu.! Bukannya bersyukur kita balik! " ketus aries.


Jhenta mengambil pisau dari ransel ade. Berjalan dengan wajah serius kearah kaki intan. Bersiap-siap mengarahkan pisau tajam itu.


"Gila lo jhenta! Jangan kaki ku. Aku tau aku salah selama ini. Kau egois udah mentingin diri sendiri. Aku minta maaf. Please jangan potong kakiku! ".


"Permintaan maaf mu aku tolak. Apa kamu kira dengan minta maaf kamu bisa menghidupkan kembali yang udah mati?!" ucap jhenta perlahan namun pasti.


"Aku tau aku salah. Aku janji nggak akan ulangi kesalahan yang sama." ucap intan


"Terlambat!".


"Gila lho jhenta! "


Jhenta mengayunkan pisau itu dengan cepat, hanya sekali tebasan yang kuat.


"Jangaan......!!!!!".


Intan berteriak sekencang-kencangnya sampai terdengar hampir diseluruh tempat itu.


Mereka memperhatikan sebenarnya apa yang dipotong oleh jhenta.


"Ini bukannya sulur pohon ya? Akar gitu kan? "


Mereka mengamati seksama. Apakah akar atau sulur tanaman rambat. Jhenta mengambilnya dan memasukkan dalam tas ade.


"Ayo lanjut lagi. Kita nggak bisa lama-lama disini, kalau kalian mau lama-lama disini silahkan". Ucap aries.


Mereka bergegas megikuti langkah aries dalam kegelapan. Jam di tangan jhenta menunjukkan pukul 11.00 wib, hampir tengah hari tapi matahri bahkan belum menampakkan diri. Jangankan matahari, bulan dan bintang pun takkan muncul.


Setelah beberapa saat berjalan menyusuri celah-celah sempit, akhirnya mereka kembali kepohon berongga tempat yang selama ini di tinggalin oleh Aries.


Mereka segera masuk kedalam. Aries dengan sigap menutup segera pintu masuk, bahkan cela-cela dipohon itu pun ikut ditutup aries. Benar2 gelap gulita didalam sana. Mereka tidak dapat saling melihat satu sama lain.


Jhenta mengambil korek yang tadi dia bawa. Mencoba mencari cahaya dalam kegelapan. Tiba-tiban aries menyambar korek yang jhenta pegang.

__ADS_1


"Jangan ada cahaya dan suara. Hari ini akan terasa lebih panjang." ucap aries


"Kenapa? "Tanya jhenta penasaran.


"Kamu tunggu dan dengarkan baik-baik aja. Jangan bersuara. "ucap aries.


Mereka berdiam diri sudah hampir dua jam lebih. Hanya terdengar suara deru angin dan beberapa suara hewan saling bersautan.


"Aku nggak tahan kalau harus gelap-gelapan gini! Pengap! " ucap intan sambil meraih korek d tangan jhenta.


Intan menyalakan korek api ditangannya untuk mencari lilin atau sebagainya yg dapat dinyalakan untuk menerangi ruang itu.


"Kretttaaakkkkkk!!!!!! "


Suara itu mengagetkan semua. Mereka terdiam membisu.


"Matikan koreknya!!!" teriak aries.


Intan kaget langsung mematikan korek yang ada ditangannya. Mereka terdiam membisu. Dalam sekejap saja sudah terdengar suara kegaduhan diluar. Suara-suara aneh seperti sesuatu terseret. Aries munutup telinganya. Sepertinya suara itu menimbulkan trauma mendalam baginya. Jhenta mendekati aries dan mencoba menenangkannya.


Suara-suara itu perlahan menjauh dari tempat mereka. Keheninganpun datang menyelimuti. Begitu hening tanpa suara. Aries bangkit dari tempat duduknya. Menyalakan beberapa ranting pohon didalam tungku buatan didepan mereka.


"Itu suara apa tadi? Kenapa kamu ngelarang kita nyalain cahaya? "Tanya intan.


"Kalau kamu mau mati ya silahkan aja nyalakan cahaya!". Jawab aries ketus.


"Aku nanya baik-baik ya sama kamu! " ucap intan geram.


"Udah.. Udah.. Jangan ribut. Nanti kita cari tahu". Ucap jhenta menenangkan.


Mereka duduk disekeliling api unggun. Jhenta memperhatikan jam ditangannya masih menunjukkan pukul 13.00 wib. Masih siang tapi diluar masih tetap gelap.


"Aku sendiri nggak tau itu suara apa. Yang jelas setengah dari teman-temanku mati karena itu." ucap aries memulai cerita.


"Kamu bisa nggak jelasin gimana kalian dulu bisa sampai kemari? "Tanya jhenta.

__ADS_1


"Awalnya sama kayak yang jhenta dengar. Suara-suara aneh. Tapi nggak cuma satu orang aja. Beberapa orang dari kami. Aku termasuk salah satunya. Suara itu mengganggu pagi, siang dan malam. Jadi kami memutuskan untuk mencari tau asal suara itu dan kami berakhir disini. Sehari, dua hari semua terlihat normal. Hari ketiga satu teman kami hilang, lala. Kami nyari dia seharian nggak ketemu. Hari berikutnya dia kembali dengan sendirinya. Kami sama seperti kalian, mencari jalan keluar. Kami berjalan terus tapi nggak juga ketemu ujungnya. Esoknya lala menyayat pergelangan tangannya sendiri didepan kami, tapi anehnya dia nggak mati. Kami panik seketika dan berusaha menolongnya. Kami mengikatnya dipohon. Dia malah tertawa terbahak-bahak dan mengatakan bahwa kami semua akan mati disini. Tiba-tiba langit menjadi gelap seperti di film-film. Kami kira mendung. Tapi semakin lama semakin gelap dan gelap sampai kami nggak bisa lihat apapun. Kami masuk ketenda masing-masing dan menyalakan api unggun. Saat itu aku dan tiga temanku bertugas mengumpulkan ranting-ranting kering. Cahaya api unggun itu lumayan membantu. Tapi suara seperti tadi itu muncul dan semakin gaduh. Mereka semua yang ada ditenda dan didekat api unggun nggak ada yang bisa diselamatkan. Bahkan lala juga. Aku, angga, sila mundur menjauhi tempat itu, tapi rama nggak mau mundur. Tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk dadanya dan menyeretnya kearah api unggun. Kami bertiga terus berlari menjauh. Kami terpisah. Aku menemukan tempat ini secara tidak sengaja. Aku bersembunyi disini sampai matahari kembali bersinar. Keesokannya aku mencari dua temanku. Tapi mereka bernasip sial. Hanya tinggal aku sendiri. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan berusaha bertahan hidup disini. Mempelajari semua yang ada disini sampai aku lupa udah berapa tahun disini. Aku hampir menyerah dengan hidupku sampai akhirnya aku bertemu jhenta. Aku kira cuma aku sendiri. Lalu aku bertemu dengan kalian semua."


__ADS_2