Semak Belukar

Semak Belukar
Episode. 6


__ADS_3

Aku mengemasi beberapa barang yang sekiranya perlu aku bawa untuk sekedar persiapan. Kompas, selimut, tali, korek api, pisau kecil, kebutuhan ibadah, baju ganti dan beberapa makan, minuman dan kebutuhan lain. Jantungku berdetak kencang, ada perasaan ragu-ragu dalam hatiku. Namun keyakinanku sudah bulat. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi.


"Jhenta, tolong aku"


Suara itu terdengar lagi. Hawa dingin kembali terasa dipunggungku. Aku bergidik merinding, namun segera aku tepis semua perasaanku. Aku menunggu ade didepan asramaku. Kebetulan hari ini minggu, jadi petugas asrama libur pagi hari, sore baru kembali beliau. Hari ini kami sepakat untuk menjelajah semak belukar di belakang asramaku. Ade berencana membawa beberapa teman MAPALA nya. mereka sudah ahli dalam hal bertahan hidup di alam liar. Tapi kami masih belum tahu apa yang akan kami hadapi di dalam sana.


Lima belas menit berlalu, ade dan 3 orang temannya baru kelihatan, dan tentu saja sahabat yang selama ini bersamaku ikut serta.


"Aku kira kalian nggak bakal ikutan!". Ucapku


"Nggak mungkinlah kami tinggalin kamu sendiri. Kita kan sahabat". Ucap diva.


"Aku nggak tau kita bakal keluar hidup-hidup atau nggak, kita bisa kembali atau nggak, dan aku nggak pernah maksa kalian untuk ikut".


"Alah.. Udah deh, cuma semak belukar dan pohon rindang aja pun, hadapi aja kali, selow.. Santuy.. " ucap nita.


"Ya udah,, kita selfi dulu yuks.. Petualangan dimulai. " ucap cece.


"Ya udah, 3,2,1... Cheerrrssss".


Kami semua tidak pernah tahu foto itu akan jadi foto terakhir kami bersama atau foto itu tetap menjadi hanya foto kenangan. Yang pasti, petualangan kami di mulai hari ini.


Kami melangkahkan kaki kami perlahan menuju ke dalam hutan yang ditutupi semak belukar itu. Langkah demi langkah kamu telusuri semak belukar itu. Deretan pepohonan rindang berdiri tegak disekeliling kami. Matahari masih terasa hangat. Kami masuk perlahan semakin dalam kedalam semak berhutan itu. Mahahari menerobos masuk perlahan di balik sela-sela dahan pepohonan. Semakin kedalam dan lebih dalam.


Langkah kami terhenti. Pohon beringin besar dan rindang dengan akar-akarnya menggelantung di depan kami. Tinggi dan besar, sangat rimbun dan rindang. Pohon itu terlihat biasa saja, mungkin karena masih pagi jadi terlihat biasa aja. Entah kalau sudah malam, akan terlihat seperti apa. Mungkin efek seremnya baru berasa.


Aku mengamati sekeliling pohon tersebut, sangat besar seperti tiada ujungnya. Sesekali ku lihat jam ditanganku. Sudah menunjukkan pukul 12.00 wib. Sepertinya sudah saatnya kami kembali ke asrama, karena penjaga asrama biasanya kembali pukul 14.00 wib.


" balik yok, udah jam 12 nih, sebentar lagi penjaga balik, aku nggak mau kena marah. Lebih serem dari bapak tiri kalau marah. "

__ADS_1


Mereka hanya menatapku sambil tertawab terbahak-bahak seolah-olah mengejekku karena ucapanku.


"Udah santai aja kali, bentar lagi kita balik. Aku mau jalan sebentar melihat sekeliling. Mana tau bisa buat acara camp di sini kapan-kapan sama anak-anak mapala" ucap ade.


Aku hanya terdiam membisu mendengar ucapannya. Ade pun bergegas pergi bersama kedua temannya. Aku duduk tidak jauh dari pohon itu. Aku amati dari setia detil yang ada dipohon itu. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah dahan pohon yang lumayan tinggi. Aku bergegas bangkit dari dudukku.


", nit, diva, intan, cece, ninda! Kemari deh, lihat sebentar kemari! " pintaku pada mereka.


Mereka bergegas menghampiriku. Aku menunjuk disalah satu dahan pohon itu. Sesosok bayangan hitam sedang menatap kami. Bulu kudukku berdiri. Jantungku berdetak sangat kencang. Merekapun sama sepertiku. Sejenak berlalu bayangan itu hilang.


"Kita harus keluar dari sini sekarang juga! "Ucapku.


"Aku setuju, kita harus keluar sekarang. Ada yang nggak beres nih. "Ucap diva.


"Aku takut.. " jawab cece sambil menangis.


Aku berjalan menuju jalan yang tadi ade dan teman- temannya lalui. Aku berteriak memanggil mereka sepenuh tenaga.


"Ade..!! Tomi..!! Andre..!! Kalian dimana?! "


Aku terus berteriak sampai tiba-tiba mereka muncul di belakangku.


"Apaan teriak-teriak! Budeg tau.. Kami kan belum jauh" ucap ade.


"Aku nggak mau tau, pokoknya kita harus balik sekarang, ada yang nggak beres dengan tempat ini. "Ucapku pada mereka.


"Ini masih siang, sayang. Jangan ngigau dulu ih! " ejek ade.


"Aku serius, kita harus keluar sekarang, ada yang salah dengan tempat ini sayang! "

__ADS_1


"Aaaaaaaaa........!!!!! "


Kami berempat bergegas lagi menuju arah jeritan itu berasal. Ada nita, diva, intan dan ninda yang tampak ketakutan.


"Cece mana? Cecec mana? "Tanyaku.


Mereka hanya diam membisu. Mereka benar-benar ketakutan dan panik. Kami berempatpun panik.


"Kalian jawab donk! Jangan diam aja! Cece kemana!! " teriakku karena panik.


"Kami nggak tau jhen, tadi kami berjalan menuju jalan yang tadi kami lalu... Lalu... Lalu... " jelas intan ketakutan.


"Lalu apa?!! "Tanyaku lagi.


"Lalu ada yang seperti menarik cece, jhent! Kami udah berusaha menghentikannya. Tapi tarikannya sangat kuat. Sekejam mata saja cece udah hilanh jhen.. Aku takut.. "Ucap nita sambil menangis.


"Kita harus keluar sekarang juga! Please!! "


Baru kali ini aku lihat ninda begitu ketakutan. Sudah 10 menit sejak hilangnya cece dan kami masih terlalu panik.


"Nggak. Aku nggak mau ninggalin cece di sini. Kita harus temui cece. Nggak peduli bagaimana pun kondisinya, kita harus temuain cece, dia temen kita". Ucapku.


"Gila lu jhen! Lu nggak lihat kita semua ketakutan disini! " ucap intan ketus.


"Aku tau. Kita semua takut. Tapi coba kalian bayangin gimana takutnya cece diluar sana. Pokoknya kita harus temukan cece dulu. "


"Benar-benar nih anak.! Kalau memang kamu mau cari cece. Silahkan cari! Kami nggak ikutan. Kami mau pulang! Dengan atau tanpa kamu! ". Ketus diva.


Aku nggak tahu lagi harus ngomong apa dengan mereka. Aku benar-benar panik. Disatu sisi aku takut, di sisi lain aku benar-benar nggak mau ninggalin cece sendirian disini. Dilema berkecamuk didalam hatiku saat ini. Aku hanya berpikir bahwa keselamatan cece juga harus diutamakan. Bagaimanapun dia juga adalah teman terbaikku, sahabta baikku. Aku nggak mungkin mengorbankan nyawa seseorang, karena setiap orang berharga, setiap orang punya hak untuk hidup, semua orang berhak mendapatkan perlakuan yang adil. Namun disatu sisi aku juga memikirkan keselamatan teman-temanku yang lain. Akulah yang menyebabkan mereka ikut serta dalam petualangan ini. Hati dan pikiranku berkecamuk. Aku harus mampu menentukan langkahku selanjutnya, aku nggak akan ninggalin cece, sekalipun aku harus mati, nggak apa-apa, setidaknya aku harus tahu bagaimana keadaan cece dan aku harus membawanya bersamaku, hidup atau mati.

__ADS_1


__ADS_2