
"Kamu nggak apa-apa? " tanya aries yang tiba- tiba muncul dihadapan jhenta.
"Aku baik-baik aja" ucap jhenta singkat.
"Baguslah".
"Kamu yakin malam ini aman? "Tanya jhenta
"Iya aku yakin. Ini jauh dari jangkauan pohon itu. Kamu nggak akan bayangin bagaimana rasa nya berada didekat pohon itu pada malam hari. "Ucap aries.
"Pohon itu hidup? " tanya jhenta.
"Lebih dari itu. Dia bahkan bisa membuat ilusi yang terlihat benar-benar nyata." jawab aries.
"Pasti berat buat kamu".
"Nggak juga sih. Cuma lumayan". Ucap aries sembari tersenyum simpul.
"Ya udah ayo tidur. Aku jaga malam ini". Lanjut aries.
Jhenta kembali masuk ketendanya untuk beristirahat. Malampun sudah menunjukkan hampir tengah malam. Jhenta satu tenda dengan diva.
Udah berkali-kali jhenta mencoba memejamkan mata, namun matanya enggan terpejam, sedangkan diva dan yang lain udah larut dalam mimpi. Jhenta keluar dari tenda menuju api unggun. Di sana masih ada aries yang berjaga.
"Kamu nggak tidur? "Tanya aries.
"Nggak bisa tidur. Mungkin sebentar lagi"jawab jhenta sembari duduk disamping aries.
Mereka saling bertukar cerita perihal kehidupan mereka sehari-hari. Bukan obrolan penting. Hanya obrolan biasa yang mengundang senyum simpul.
"Kalian semua harus mati!!!!".
Cece sudah berdiri tak jauh dari mereka dengan sebuah pisau ditangannya. Pandangan mata nya menunjukkan aura yang menyeramkan. Senyum sinisnya begitu menakutkan. Jhenta dan aries langsung bangkit dari duduknya.
"Kamu kenapa ce? Nggak usah bercandalah dengan kita. Nggak lucu tau! "Ucap jhenta.
"Taruk ce pisaunya, kita tau semua pasti tertekan disini. Semua bisa dibicarakan baik-baik".
Ade, diva dan intan keluar dari tenda mereka masing-masing. Mereka benar-benar terkejut melihat cece. Bajunya bersimbah darah. Matanya menatap begitu menyeramkan. Mereka perlahan berjalan mundur kearah aries dan jhenta.
"Lo kenapa ce? Perasaan lo tadi baik-baik aja. Kenapa lo jadi kayak gini? "Ucap intan.
Cece cuma terus tersenyum sinis dengan meraka.
"Sebelum ini, apa yang pernah cece alami? "Tanya aries.
"Dia pernah keseret.. Terus.. Terus dia ilang"jelas diva.
" terus aku nemui dia tergeletak gitu aja" tambah jhenta.
"Berarti dari awal dia bukan cece. Karena mereka yang udah ketangkep nggak akan dibiarin gitu aj. Dia cuma ilusi. "Jelas aries.
"Terus dia siapa? " tanya intan.
"Jelmaan pohon itu. Ilusi nyata". Jelas aries
__ADS_1
"Berarti kamu yang udah buat ninda ma nita mati? Andre juga?! " ucap intan.
"Hahahahaha...!!! Kalian semua harus mati disini. Nggak ada yang akan keluar dari tempat ini hidup-hidup! "
Ucapan cece itu mengagetkan semuanya. Kaki mereka bergetar ketakutan. Mereka berjalan mundur perlahan.
"Tomi mana? "Tanya ade tiba-tiba.
"Ya mana kita tau, kan kamu yang satu tenda ma dia, gimana sih? ". Ketus intan
"Kalau ada aku nggak bakal nanya! "Ucap ade
"Temen kalian itu udah mati! Sekarang giliran kalian!!! "
Cece tiba-tiba maju menyerang mereka. Aries menghalau ayunan pisau cece dengan lengannya. Membuat lengannya terluka. Aries mendorong cece hingga terjatuh.
"Lari... Lari...!!" teriak ade.
Mereka berlari sekuat tenaga. Malam begitu gelap. Mereka lari tanpa membawa apapun. Terus berlari menyusuri tepian sungai yang semakin lama arusnya semakin deras. Cece memburu mereka. Jaraknya tidak jauh dari mereka. Pisau tajam itu kini berlumuran darah.
"Larilah sekencang mungkin. Kalian tetap akan mati ditanganku!! "
Teriakan cece benar-benar menakutkan. Mereka terus berlari sekuat mungkin. Mereka berlari memasuki hutan. Jarak pandang mereka sangat terbatas. Cahaya bulan malam ini begitu redup. Hampir tak terlihat apa yang ada didepan mereka. Bayangan cece masih terus mengejar mereka.
"Aaaaght! "
Diva berteriak begitu hebat. Tubuh tomi tepat tergantung didepan matanya berlumuran darah. Mereka semua terkejut setengah mati.
"Lari div, kita harus cari tempat sembunyi dulu"ucap jhenta menarik tangan diva.
"Sial!! Lari nya cepet banget tuh demit! " gumam aries.
"Mau sembunyi ya? Kalian kita aku nggak bisa nemuin kalian? Bau kalian benar-benar segar! Aku bisa mencium bau ketakutan kalian dari sini"
Mereka menahan napas. Jantung mereka berdetak begitu kencang.
"Kena kamu!! "
Ayunan pisau cece pengenai lengan jhenta. Tiba-tiba aja cece sudah berada tepat disamping mereka.
"Aaaght!! " jhenta mengerang kesakitan. Lengannya berdarah.
Mereka kembali berlari menjauh dari tempat itu sesegera mungkin.
"Lengan kamu terluka jhenta". Ucap aries.
"Sakit banget. Aku kira nggak akan sesakit ini. Kayak di film-film itu". Rintih jhenta.
"Kita cari tempat aman dulu. Baru kita obati luka kamu". Ucap aries.
"Sepertinya kita nggak bisa lolos dari sini"ucap intan
"Cece masih tepat berada dibelakang kita. Aku udah capek. Kalian lari hati-hati. Sebelah kanan kita jurang. Kemungkinannya cuma dua. Mati ditangan cece atau mati jatuh kejurang". Ucap diva.
"Kalau gitu, sepertinya ada yang harus ditinggalkan untuk menghentikan cece dan menyelamatkan kita semua" ucap intan
__ADS_1
"Maksud kamu? ".
Belum selesai diva berbicara, intan menghalangi kaki diva sehingga dia terjatuh kejurang. Beruntung dia masih sempat berpegangan pohon.
"Diva!!! " jhenta segera berlari menghampiri diva yang sudah hampir terjatuh. Mengulurkan tangannya mencoba membantu diva naik.
"Eh gila! Itu temen lo sendiri!! "Teriak aries ke intan.
"Kalau nggak gitu kita semua bakal mati konyol disini"ketus intan.
"Tapi itu temen lho sendiri! Gila!! " ucap aries.
"Terserah deh. Aku masih mau hidup!! Ayo buruan de! "Ucap intan mengajak ade.
"Kita harus tolong diva! "Ucap ade.
"Nggak usah jadi sok pahlawan deh!! Ayo buruan lari! "Ucap intan.
Ade pun mengikuti ucapan intan meninggalkan mereka dan menghilang dalam gelap malam.
"Bertahan div!! Aku nggak akan lepasin kamu! "Ucap jhenta sambil menarik tangan diva.
Jurang itu begitu dalam dan terjal. Hampir tidak terlihat dasar jurangnya. Lengan jhenta terus mengeluarkan darah karena berusaha menarik diva. Ariespun membantu menarik diva.
"Aku nggak mau mati disini jhen.!". Ucap diva
"Aku nggak akan biarin kamu mati.! Berusahalah untuk naik div!! ".
"Larilah kalian.. Ayo lari"
Suara cece begitu dekat terdengar. Mereka diam membisu. Jhenta dan aries tetap berusaha menarik diva keatas. Sepertinya ada yang menahan kaki diva dari bawah. Sangat sulit ditarik. Darah terus mengalir dari lengan jhenta. Dia menahan sakit yang teramat dalam. Air mata mulai menetes kepipinya. Dia tahu bahwa mustahil bisa menyelamatkan diva sedangkan cece udah semakin dekat. Diva pun memahami kesulitan diva dan aries.
"Jhen.. Lari.. "Ucap diva lirih
"Nggak!! Aku nggak akan biarin kamu! Aku nggak akan tinggalin kamu!" ucap jhenta.
"Lari.. Aku tau kamu udah usaha. Mungkin memang cuma sebatas ini aja aku bertahan"ucap diva.
"Nggak..!! Aku nggak mau..!! Aku udah kehilangan banyak! Aku nggak mau kehilangan kamu! " air mata jhenta semakin deras mengalir dipipinya.
"Maafin aku jhen. Maaf udah nyusahin kamu"
"Diem! Kita pasti bisa selamat"ucap jhenta
"Maafin aku jhen. Maaf". Ucap diva.
Diva perlahan melepaskan genggaman tangannya dipohon. Perlahan-lahan mencoba melepaskan genggaman tangan jhenta dan aries.
"Nggak..!!! Kamu nggak boleh lakuin ini div! Please jangan lepasin! Jangan lepasin!! Please div! Please! ".
"Maafin aku jhen".
"Divaaaa!!!!!!!!!! ".
Sekejap mata diva menghilang dari pandangan mata jhenta.
__ADS_1
"Nggak!! Nggak.. Diva!!!!! "Teriak jhenta
"Ayo lari!!! Ayo.. "Ucap aries sambil menyeret tangan jhenta berlari menjauh dari tempat itu menuju tempat yang lebih aman.