Semak Belukar

Semak Belukar
Episode. 15


__ADS_3

Sudah hampir dua hari mereka bersembunyi. Matahari juga belum menampakkan cahayanya. Benar-benar membuat frustasi mereka berempat. Intan sudah tidak sabar lagi untuk segera keluar dari tempat itu. Ade berusaha tetap menenangkan intan untuk terus bersabar, belum saatnya mereka keluar dari sana. Keadaan diluar sungguh masih sangat berbahaya.


"Udah dua hari kita disini. Di luar juga udah tenang. Kenapa kita nggak segera cari jalan keluar? ". Tanya ade


" masih terlalu bahaya diluar. Bulan aja belum muncul. Pedoman kita cuma cahaya bulan untuk menemukan jalan keluar". Jelas aries


"Tapi persediaan makanan disini udah semakin menipis. Kalau ini nggak berakhir juga gimana? ". Tanya intan


"Kita cuma bisa berdoa dan berharap semua segera berakhir". Jelas aries.


Jhenta hanya berdiam diri mendengarkan percakapan mereka. Waktu berputar begitu cepat. Dari pagi ke siang, siang kemalam, begitu seterusnya.


*****


Sudah hampir seminggu mereka berdiam diri disana. Stok makanan dan minuman sudah mulai menipis. Kegelapan malam masih terasa. Namun perut-perut mereka hampir tidak kuat menahan lapar berkelanjutan.


"Mau nggak mau sepertinya kita harus keluar cari makanan". Ucap aries


"Kita mau cari kemana? Bukannya kamu bilang semua tempat berbahaya?". Ucap ade


"Memang. Cuma kalau kita berdiam diri aja, kita bakal mati kelaparan. Aku juga heran, biasanya cuma tiga atau empat hari aja kayak gini. Ini udah seminggu. Makanan dan minuman udah nggak cukup lagi buat kita berempat." lanjut aries


"Terus kita mau cari kemana? Semua gelap gulita. Semua tempat udah kita lewati kan? "Ucap ade


"Nggak semua..."


Ucapan jhenta mengagetkan semua orang. Mereka menatap jhenta heran dan bingung.


Jhenta bangkit dari duduknya, mengambil senter dan sebuah pisau tajam.


"Kita selama ini berjalan menuju arah depan pohon ini, tapi kits nggak pernah berjalan kearah sebaliknya. Kebelakang atau kesamping pohon ini." Jelas jhenta


"Memang. Cuma bukannya kita bakal semakin jauh dari pohon beringin itu? Bukannya kita akan semakin jauh dari jalan keluar? "Tanya intan

__ADS_1


"Nggak masalahkan. Kita cuma mau cari bahan makanan tambahan dan minuman. Bisa jadi kita bakal nemuin petunjuk lain untuk keluar dari sini. " Ucap jhenta.


Mereka semua terdiam sejenak memimirkan ucapan jhenta. Ada benarnya juga ucapan jhenta menurut mereka. Mereka mengangguk-angguk setuju dengan ide jhenta.


"Kita bagi team aja. Penerangan jugs nggak banyak baterai yang tersisa. Aku dan jhenta kearah belakang pohon ini. Intan dan ade kearah samping pohon ini, gimana? " Ucap aries seraya mengambil senter dan tas punggung.


"Aku kali ini sama jhenta. Ada yang ingin aku omongin sama jhenta" Ucap ade tiba-tiba


"Maksud kamu apa?! Kamu nggak mau pergi sama aku lagi gitu?! " Ucap intan ketus.


"Udah.. Udah.. Nggak usah berantem. Mau sama siapa aja oke. Yang penting kita kumpul disini setelah satu jam." Ucap aries


Dengan berat hati intan harus menerima keputusan aries. Mereka berjalan keluar perlahan. Jhenta dengan ade berjalan kearah belakang pohon, Sedangkan intan dan aries berjalan kearah sampinf pohon itu. Mereka sepakat untuk kembali setelah satu jam.


Jhenta berjalan perlahan tapi pasti diikuti langkah kaki ade. Mereka berjalan sambil mengamati sekeliling. Berharap ada sesuatu yang bisa mereka bawa untuk stok makanan beberapa hari lagi. Mereka terus berjalan mengikuti langkah kaki mereka tanpa arah dan tujuan.


"Jhenta... "


Jhenta menoleh kearah ade yang tiba-tiba memanggil namanya, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya sambil terus mengamati sekeliling.


"Maaf untuk apa? " Tanya jhenta


"Untuk semua yang udah terjadi disini".


"Nggak masalah. Dengan gini aku jadi tau semuanya." Jawab jhenta


"Aku bener-bener nggak bermaksud buat nyakitin perasaan kamu jhen."


"Iya aku tau. Aku juga nggak mikirin kali." Jawab jhenta sambil terus berjalan.


"Kamu tau kan keluargaku nggak kaya. Aku hidup pas-pasan. Aku kuliah juga kadang kamu yang bantu. Sedangkan intan jauh lebih kaya. Keluarganya orang terpandang. Dia anak tunggal. Dia pewaris pasti kekayaan keluarganya. Tempramentnya memang buruk. Mungkin karena terlalu dimanja. Aku hanya berpikir bahwa mungkin dengan aku nikah sama dia, hidupku bisa lebih baik. Aku bisa melanjutkan S2 ku. Aku bisa memiliki usaha yang mapan"


Tiba-tiba jhenta berhenti. Menoleh kearah ade dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu berpikir bahwa kalau kamu hidup denganku, menikah denganku, kamu bakal susah. Nggak bisa lanjutin S2 kamu, nggak bakal punya usaha yang mapan gitu? " Ucap jhenta dengan nada geram.


"Nggak gitu. Kamu dengerin dulu. Aku berpikir bahwa nanti saat aku udah sukses. Aku bakal nikahin kamu. Aku bakal ninggalin intan. Aku bakal bahagiain kamu. Bagiku cuma kamu satu-satunya orang yang paling aku ingin hidup bersama. " Jelas ade.


"Kamu kira aku bakal bahagia? Kamu kira selama ini yang aku butuhin cuma harta? Kamu kira aku apa?!! "Geram jhenta.


"Aku cuma berpikir untuk bahagiain kamu. Kamu baik. Kamu selalu bisa buat aku nyaman. Kamu selalu ada buat aku. Aku cuma mau yang terbaik buat kamu. Please.. Please kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu". Ucap ade.


"Kalau kamu memang mikirin kebahagiaanku. Seharusnya kamu nggak lakuin ini semua. Aku nggak butuh harta, nggak butuh yang lain. Aku cuma butuh kamu. Aku kuliah, kerja sambilan buat bantu kamu tujuannya agar kita bisa sukses bareng sampai puncak dengan cara kita, bukan dengan cara nikung dan jalan singkat" ucap jhenta sambil berlinang air mata.


"Aku tau aku salah, tapi ini semua udah terlanjur, aku nggak bisa mundur lagi." ucap ade.


"Tinggalin kalau memang nggak bisa mundur! "Ucap jhenta sambil membalikkan badan melanjutkan perjalanan.


"Aku nggak bisa. Jabatan direktur udah aku tanda tanganin" Ucap ade.


"Kalau begitu aku yang akan pergi." Ucap jhenta.


Ade sudah kehabisan kata-kata lagi untuk menjelaskan maksud hati yang selama ini dia tahan. Jhenta dan ade melanjutkan perjalanan mereka. Sesekali jhenta mengarahkan senter kesekitar mereka.


"Kira-kira buah itu bisa dimakan nggak? "


Jhenta menunjukkan jarinya pada sebuah pohon dengan buah yang lebat dan cukup menggiurkan. Ade berjalan mendekati pohon itu. Mengamati buah itu seksama. Mengambil sebuah lalu membelahnya dengan pisau.


"Bisa. Ini bisa dimakan. Aku nggak tau namanya apa, cuma aku pernah lihat. Teksturnya mirip kesemek dan kiwi. Tapi ini bisa dimakan." Jelas ade


Ade dan jhenta memetik beberapa dan memasukkannya kedalam tas mereka. Setelah dirasa cukup banyak, mereka segera kembali ketempat aries dan intan. Sesampainya disana intan dan aries sudah menanti mereka.


"Kamu ngobrol apa aja sama jhenta?" Tanya intan sambil menyeret tangan ade menjauh dari jhenta dan aries.


"Cuma obrolan biasa. Bukan penting, hanya sekedar aja". Jelas ade


"Jujur aja! Ingat kalau sampai kamu berani ninggalin aku, jangan harap kamu bisa hidup tenang! ". Ketus intan

__ADS_1


Ade hanya diam mendengar ucapan intan. Mereka segera masuk kedalam tempat persembunyian mereka berharap kegelapan ini segera sirna.


__ADS_2