
Aku melangkahkan kakiku kembali ke asramaku, sejenak aku berhenti di depan pintu gerbang asrama, aku pandangin asrama itu dengan teliti, deretan kamar perkamar. Pohon rindang yang berbaris rapi memberi sensasi sejuk dan redup. Aku pandangin sekeliling dengan cermat. Namun tiba-tiba pandanganku tertuju pada semak belukar di balik pagar duri di belakang asrama. Aku pandang perlahan dan perlahan.
"Woy!!! Ngelamun di depan gerbang, masuk ih"
Astagfirullah, kagetin banget seriu. Tiba-tiba andini muncul di belakangku. Dia teman satu kamarku yang baru. Wajahnya manis, tinggi, kulitnya putih bersih, gayanya feminim banget, nggak seperti aku, sedikit tomboy, dengan gaya yang macho, kulitku juga nggak seputih dia, rambutku panjang terikat ekor kuda. Aku memang sedikit tomboy dan selalu penasaran dengan hal baru.
Wait.. Wait.. Wait.. Walaupun aku tomboy, aku masih normal ya.. Aku masih suka dengan lelaki tentunya. Aku punya pacar, namanya ade nugraha. Dia satu kampus juga denganku, jurusan teknik elektro. Walaupun beda jurusan, kita sering ketemu di kantin. Kata orang sih dia jelek, tapi bagiku dia berkharisma, suaranya begitu indah jika bernyanyi, dan yang paling penting adalah dia romantis, bukan rokok makan gratis ya.. Wkwkwk..
Oke, kembali lagi ke asrama, kali ini aku memberanikan diri untuk bertanya pada andini. Kebetulan balkon asramaku menghadap semak-semak itu. Aku duduk dibalkon bersama andini. Dia sedang sibuk dengan buku designnya, karena dia memang jurusan design grafis. Sedang aku hanya dengan secangkir teh panas. Besok aku kosong tidak ada pelajaran.
"Din, aku mau tanya" ucapku.
__ADS_1
"Kenapa, jhen? " ucapnya.
"Kamu kan udah lama di asrama ini, udah 2 semester ya.. ".
"Iya jhen. Aku tau, kamu pasti mau tanya tentang semak di depan itukan" ucapnya sambil menunjuk kearah semak tersebut.
Semak belukar itu begitu rimbun. Ada beberapa pohon besar yang tumbuh dan diselimuti tanaman rambat yang begitu rindang, seolah-olah memberi kesan menyeramkan. Sedikit gelap dan horor rasanya.
"Kenapa? "
Aku semakin penasaran kenapa andini melarangku. Dia menatapku dalam, menutup buku sainsnya, bergeser duduk disebelahku sambil menatap lepas.
__ADS_1
"Kata senior sebelum kita, semak belukar itu sudah ada sebelum asrama ini dibuat. Dan tidak seorangpun yang mau memotong ataupun masuk kedalam sana, jhen".
Aku semakin dan semakin penasaran dengan ucapan andini.
"Banyak orang yg bercerita sama, jhen. Cuma mereka tidak memberi penjelasan kenapa. Mereka cuma bilang, siapapun dilarang keras masuk kedalam semak berhutan itu. Konon katanya, mereka yang sudah masuk kedalam sana tidak akan bisa keluar lagi, jhen. Makanya asrama kita dibatasi dengan pagar kawat berduri. Dulu itu ada beberapa anak yang mencoba masuk kedalam sana, dan sampai sekarang belum kembali. " ucap nita
Aku tercengang. Begitu halu dan mustahilnya cerita itu terdengar. Seperti kisah di film horor saja pikirku. Aku tersenyum tipis mendengar cerita andini.
"Kalau kamu nggak percaya ya silahkan besok cek mading kampus yang ada didepan aula seni. Di situ ada daftar nama-nama anak jurusan seni yang menghilang tiga tahun lalu. Coba aja kamu cek besok. " ucap andini sembari berlalu masuk ke dalam kamar.
Aku masih tidak percaya dengan cerita mistis itu. Terlalu berlebihan aku rasa hanya untuk seonggok semar belukar di belakang asrama. Koyol, koyol sekali pikirku.
__ADS_1