
Setelah mandi dan makan malam, aku duduk didekat api unggun, rasanya seperti mimpi kami benar-benar tidak bisa keluar dari hutan bersemak ini. Cece dan yang lainnya beristirahat ditenda. Kami gantian berjaga malam ini. Dua teman ade pun ikut berjaga tak jauh dari tempatku. Ade duduk disebelahku. Menatapku dengan senyumnya.
"Maaf ya yang tadi siang. Aku nggak bermaksud nyakiti perasaan kamu. Aku hanya panik dan nggak mau kita semua kenapa-kenapa"ucapnya.
Aku hanya tersenyum kecut. Aku benar-benar nggak nyangka dia akan berkata seperti itu tadi siang.
"Udah, nggak apa-apa kok. Aku maklumi apapun yang kamu ucapkan. Itu semua demi keselamatan mereka semua". Jelasku.
"Makasih ya kamu udah bisa selalu pahami aku". Ucapnya.
"Memang gitu kan seharusnya".
Dia tersenyum begitu manis sambil menggenggam tanganku. Aku hanya balas tersenyum kepadanya.
"Jhen.."
Aku menoleh, dia memanggilku begitu lembut.
"Iya de, kenapa? "
"Kamu tau kan, kita udah pacaran lebih dari tiga tahun." ucapnya.
"Iya, terus kenapa? "Tanyaku.
"Kita pacaran bertahun-tahun namun belum sama sekali melewati batas sedikitpun"
"Maksud kamu apa?! " tanyaku bingung.
Dia hanya tersenyum menatapku dengan seribu pertanyaan yang masih melayang-layang dibenakku.
Malam semakin larut, perlahan-lahan rasa kantuk menghampiri. Ini masih jadwal jagaku. Aku duduk di depan api anggun, mataku terasa sangat berat, mungkin aku udah ketiduran tadi. Aku lihat sekelilingku ade udah nggak ada lagi di sampingku. Aku bangun dari duduk, ku ambil senter lalu berjalan sekeliling tenda. Langkahku terhenti, aku cepat-cepat bersembunyi dibalik salah satu pohon.
Aku benar-benar nggak nyangka dia bakal lakuin itu di belakangku. Jantungku berdegup sangat kencang, emosi merasuki tubuhku, darahku bergejolak panas, sakit kali hatiku. Aku cuma bisa nahan tangis dan sesak di dadaku. Semua rasa sakit ini benar-benar menyakitkanku.
"Aaaaaaaakhh!!!!!!! "
Aku langsung berlari mendengar suara teriakan itu berasal, aku udah nggak peduli lagi mereka tau aq udah lihat semua perbuatan mereka atau nggak, yang jelas ada sesuatu yang terjadi di tenda teman-temanku.
"Kenapa? Kenapa? " tanyaku panik
"Aku.. Aku... Aku.... "
Ninda kelihatan panik banget sampai nggak bisa ngomong apa-apa lagi, wajahnya pucat sekali. Aku melihat sekeliling, aku menghitung jumlah teman-temanku.
"Nita mana?? Nita mana?!! "Teriakku.
Ninda malah menangis semakin kencang, cece dan diva berpelukan ketakutan. Teman-teman ade mungkin sedang mencari nita.
__ADS_1
"Jawab!! Nita kemana!!! " teriakku.
"Aku tadi sama nita jalan kepinggir sungai, kami mau buang kecil, aku nggak tau tiba-tiba aja nita hilang, cuma sisa sendalnya aja sebelah" ucap ninda sambil terus menangis.
Aku benar-benar panik saat ini. Aku yang buat mereka ikut masuk kemari. Aku panik banget, tangan dan kakiku sampai gemeteran.
"Ada apa?! Kenapa? Kok nangis? "
Aku benar-benar jijik melihat ade dan intan yang baru saja muncul entah dari mana.
"Kenapa sayang? Kok ninda nangis? "
Lagi dan lagi, aku merasa benar-benar jijik mendengar kata sayang dari mulutnya.
"Nita hilang, nggak tau kemana, tiba-tiba dia hilang gitu aja" jawabku singkat.
"Hilang kemana? Kok bisa? " tanya intan.
"Ya lo tanya aja sama nita hilang kemana dia! Kalau tau hilang kemana kami nggak akan sepanik ini lah" ucapku ketus
"Eh, kok jadi elu yang ngegas gitu, biasa aja dong! "Ketus intan.
"Wajar dong aku ngegas! Kalian berdua dari mana aja, bukannya bantuin jaga malah kelayapan nggak jelas! " jawabku.
"Suka-suka gue lah mau kemana, apa hak lo ngatur-ngatuk gue! " ucap intan.
Rasanya benar-benar ingin aku makan si intan itu. Emosi kali aku dibuatnya. Males kali aku sama dia.
"Udah gini aja, kita bagi team, aku, jhenta dan intan nyari nita di sebelah barat, cece, diva dan ninda nyari nita dari sebelah timur, oke? Deal? " ucap ade.
"What?! Aku sama kalian berdua?seriously?!! "
Aku auto kaget dong disatuin team sama intan dan ade. Benar-benar pemikiran yang sangat luar biasa bagus saran ade.
"Deal ya? " tanya ade
"Deal! " jawab intan, cece, ninda, diva
"Jhenta? Kamu dealkan sayang? " tanya ade.
"Persetan dengan semua ini!! "
Aku mengambil senterku dan membawa peralatan sekedarnya yang kira-kira dibutuhkan nanti. Aku masukkan dalam ransel kecilku. Merekapun juga bersiap-siap.
"Kamu kenapa jhenta? "
Aku menoleh, ade sudah ada di sampingku. Aku melihat ke arah intan, dia sedang menatap kami saat ini.
__ADS_1
.
"Nggak apa-apa kok sayang! "Ucapku
"Kayaknya kamu nggak suka banget sama intan, kenapa? "Tanya ade.
Aku hanya tersenyum kecut, aku benar-benar udah malas berurusan dengan mereka. Pikiranku hanya aku tujukan pada nita. Mungkin dia sedang ketakutan saat ini dalam gelapnya malam.
Aku bangkit lalu tersenyum pada ade yang di balas dengan tatapan lembutnya. Sungguh munafik menurutku.
"Ayo kita berangkat! "Ucapku.
Kami pun berangkat menuju arah yang sudah dibagi tadi. Di sepanjang jalan kami hanya diterangi sinar bulan dan suara hewan malam. Angin berhembus perlahan dari balik dedaunan. Benar-benar sepi kali.
"Nita!! Nita!!"
Aku sesekali memanggil namanya. Mungkin aja dia dengar panggilanku.
"Eh! Lo gila ya teriak-teriak tengah malam gini! Gimana kalau ada hewan buas yang dengar teriakan lo!? "Ucap intan.
"Lo pikir kita di marga satwa, ini masih belakang asrama, selow aj"jawabku santai.
"Udah berantem mulu kalian! "Ketus ade.
Langkah kami berhenti sejenak, seperti terdengar suara-suara aneh disekitar kami. Kami berkumpul membentuk lingkaran saling merapatkan tubuh.
"Srakkkk!! ".
Suara itu terdengar sangat jelas. Gila... Apa yang bakal keluar dari kegelapan, harimau kah, singa, macan atau yang lainnya. Pikiranku kacau, rasa takut menghampiriku, so pasti takutlah, mana mungkin kami nggak takut.
Sepasang sorot mata menatap kami. Kami terdiam membisu, tanpa bergerak sedikitpun. Tepat di depan mataku, hanya berjarak 10 meter.
"Roaaaarrrrrr!!!! "
Kami berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat itu. Makhluk itu mengejar kami sangat cepat. Kami berlari tanpa arah dan tujuan, yang jelas kami harus lari sekuat mungkin dan sejauh mungkin. Kami nggak tau itu auman singa, macan atau harimau, nggak tau dan nggak mau tau.
Sial sekali nasipku. Saat kami berlari aku malah jatuh ke parit kecil di depan kami, kaki terkilir sakit kali.
"Jhenta! " teriak ade.
"Tolong! Kakiku sakit banget! "Rintihku.
"Ayo lari!! "Ucap intan
"Tapi jhenta? "
"Udah tinggal aja, seseorang harus di korbankan untuk keselamatan orang lain".
__ADS_1
Ucapan intan benar-benar keterlaluan, dan mereka benar-benar ninggalin aku sendirian. Bahkan mereka nggak noleh sama sekali. Aku di sini kesakitan, aku juga masih mau hidup, aku juga masih mau ketemu orang tua ku, tapi mereka nggak peduli sama sekali, air mataku pun rasanya nggak berarti lagi. Mungkin memang ini takdir seorang jhenta.