Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 21


__ADS_3

Satria dinyatakan lulus walaupun di urutan pertengahan. Satria dan teman-temannya dilarang corat coret baju di lingkungan sekolah. Pihak sekolah melarang anak didiknya melakukan aksi corat-coret baju dan pawai di pinggir jalan. Para anak didik di yayasan Serviam menyarankan, untuk menghibahkan baju mereka pada adik kelas yang kurang mampu. Bahkan sudah menyediakan kardus dan karung untuk menampung baju bekas itu.


Kepala sekolah SMA menghimbau kepada para siswa kelas dua belas yang telah lulus, untuk segera pulang ke rumah. Hal ini untuk menghindari adanya tawuran di jalan, karena adanya pawai dari beberapa sekolah lain.


Satria dan teman-temannya tidak mengindahkan himbauan dari kepala sekolah itu. Mereka langsung menuju ke tempat biasa mereka melakukan balap liar. Mereka sudah membuat janji dengan anggota geng motor lain untuk adu kebolehan mengendarai kuda besi.


Di tempat itu sudah ramai dengan beberapa anggota geng motor. Daerah itu memang sepi karena berada di daerah perbukitan dan dekat dengan pabrik air minum kemasan botol. Ya tempat balap liar itu dekat dengan PT. Aquna. Jalanan yang lebar dan berkelok itu menjadi tempat balapan liar karena masih sepi. Hanya alat transportasi pabrik yang berlalu lalang melewati jalan itu. Itupun hanya di jam-jam tertentu.


Sementara itu di tempat lain, Bumi sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba sains dan matematika antar SMA di Yogyakarta. Dia didaulat sebagai perwakilan SMA De Britto bersama seorang teman perempuan dari kelas yang sama, biasa dipanggil Yuna.


Bumi dan Yuna sedang digembleng oleh guru di perpustakaan sekolah. Mental dan pengetahuan mereka terus diasah setiap hari, agar nanti bisa memenangkan lomba itu. Karena ada urusan, guru tersebut meninggalkan keduanya di perpustakaan dengan latihan soal-soal yang banyak.


"Bum, tolong dong! Aku nggak ngerti maksud pertanyaan nomor enam. Bantu jelasin aja, biar nanti jawabannya aku cari sendiri," pinta Yuna pada Bumi, sembari menunjukkan bukunya.


Bumi pun mengambil buku itu kemudian membacanya sebentar. Lalu, mulai menjelaskan hingga Yuna paham. Sebenarnya jam sekolah sudah habis, semua murid sudah meninggal lingkungan sekolah.


Setelah selesai mengerjakan soal-soal latihan itu, akhirnya mereka pun meninggalkan perpustakaan itu.


"Bum, numpang sampai depan warung bakso "Xx". Boleh?" ucap Yuna saat mereka keluar dari perpustakaan.


Bumi terdiam sebentar, sebenarnya dia buru-buru tetapi segan juga menolaknya.


"Hmm... Ok, yuk!" sahut Bumi akhirnya.


Mereka berdua pun berjalan berdua menuju tempat parkir. Bumi diberikan fasilitas lengkap oleh kedua orang tuanya, walaupun tinggal di kos-kosan. Tidak ingin melihat anaknya susah, sehingga semua fasilitas dipenuhi


Bumi menurunkan Yuna sesuai permintaan, tanpa banyak kata Bumi pun langsung meninggalkan Yuna begitu saja.

__ADS_1


"Terima kasih, Bum," ucap Yuna dengan senyum manisnya, Bumi hanya menanggapi dengan mengacungkan jempol tangan kirinya.


Bumi segera memacu kuda besinya ke arah rumah orang tuanya. Dia ingin mengetahui hasil ujian sang kakak. Walaupun kakaknya masih marah padanya, tidak ada salahnya untuk menanyakan kabar sang kakak.


Tidak sampai satu jam, akhirnya Bumi sampai rumah. Hari sudah mulai sore ketika Bumi masuk ke dalam rumah besar itu.


"Ma!" sapa Bumi ketika tampak olehnya sang ibu sedang duduk di ruang keluarga sendiri.


"Ehh, anak Mama pulang! Tumben bukan weekend pulang. Ada apa, hmm?" sahut sang Mama sembari berdiri menghampiri sang anak.


"Nggak ada apa-apa, Ma. Pengen pulang aja, katanya hari ini pengumuman kelulusan kak Satria. Betul nggak?"


"Kakakmu saja entah kemana sekarang. Sejak tadi belum juga pulang, Mama sudah menunggunya di rumah. Tapi, kamu lihat sendiri 'kan?"


"Bumi masuk kamar dulu, Ma. Nanti dilanjutkan lagi obrolannya," pamit Bumi merasa tidak enak pada Mamanya.


Mama Anastasia nampak berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Perasaannya tidak tenang, keberadaan Satria mengusik pikirannya sejak tadi.


"Ada apa ini? Kenapa sejak tadi aku selalu kepikiran Satria? Semoga tidak terjadi apa-apa pada anak itu," gumam mama Anastasia cemas.


"Mam, minum dulu! Biar Mama tenang," ucap Bumi sembari menyodorkan segelas air jus wortel mix jeruk.


Bumi sengaja membuat dua gelas, satu untuknya dan satu lagi untuk sang mama. Bumi lebih suka membuat jus sendiri, dengan alasan takaran pas sesuai selera dia.


Mama Anastasia mengambil gelas dari tangan anaknya, kemudian meneguknya hingga separuh.


"Buat sendiri?" tanya mama Anastasia setelah berhenti meneguk minumnya.

__ADS_1


"Iyalah, Ma! Biar sesuai selera, lagian tidak ada salahnya kita kerjakan sendiri segala sesuatu yang masih bisa kita kerjakan. Jangan terus merepotkan orang lain, belum tentu dia sanggup membantumu!" jawab Bumi dengan senyuman.


Satu jam kemudian, ada dua petugas polisi datang di kediaman pak Wardhana.


"Selamat sore, Bu. Betul ini rumah saudara Dominicus Satria Wardhana?" sapa petugas kepolisian itu.


"Sore juga, Pak. Itu anak saya, Pak Polisi. Anak saya kenapa, Pak?" jawab mama Anastasia panik.


"Sebaiknya Ibu ikut kami, kami akan menjelaskannya di sana nanti."


"Sebentar, Pak. Saya ambil tas saya sebentar," pinta mama Anastasia.


"Silahkan."


Mama Anastasia langsung bergegas menuju kamarnya untuk mengambil tasnya. Sebelum itu dia meminta Bumi untuk menghubungi sang ayah.


"Bum, telepon papa sekarang! Suruh ke kantor polisi sekarang juga. Mama takut kenapa-kenapa dengan kakakmu," perintah mama Anastasia pada anak bungsunya.


"Oke, Mama. Mama tenang saja, semua pasti baik-baik saja," jawab Bumi menenangkan sang ibu.


Bumi pun dengan cekatan langsung menghubungi sang ayah yang masih di toko. Tak lupa dia juga menyampaikan apa yang diucapkan oleh mamanya. Walaupun sang ayah memarahi dirinya, tidak masuk ke dalam hati. Dia tahu mereka sedang panik sehingga mudah tersulut emosi jika salah ucap.


Mama Anastasia naik ke mobil polisi, hati dan pikirannya benar-benar tidak tenang. Mungkin ini firasat ternyata sejak tadi pagi dia rasakan. Terjadi sesuatu pada anak sulungnya.


"Sebenarnya anak kami kenapa, Pak? Kenapa bisa berurusan dengan pihak kepolisian?" cerca mama Anastasia cemas.


"Anak ibu terlibat dalam geng balap liar. Mereka tidak hanya meresahkan masyarakat, tetapi mereka juga bisa membahayakan diri sendiri juga orang lain. Jalan yang mereka pakai balap liar itu jalan umum, semua orang melintas di jalan tersebut. Jika dipakai balap liar, otomatis warga yang menggunakan menjadi terganggu," jelas salah satu petugas kepolisian pada mama Anastasia.

__ADS_1


__ADS_2