Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 51


__ADS_3

Shanum menoleh ke arah suara itu. Ternyata teman sewaktu SMP yang dulu ikut membully dirinya. Shanum pun diam saja tidak mau menanggapi ocehan orang itu.


Beberapa menit kemudian Shanum turun dari angkot karena sudah sampai. Dia berjalan santai menuju pintu gerbang sekolah. Bumi sudah berdiri di dekat pintu gerbang itu.


"Hhhh ... mau apalagi sih? Harus berapa kali dibilang. Masih aja ngeyel!" gerutu Shanum pelan.


"Num, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku janji akan lebih perhatian lagi sama kamu. Aku mohon," pinta Bumi mengiba dengan raut wajah pucat.


Bumi tidak bisa tidur satu malaman penuh. Dia memikirkan apa kesalahannya selama ini. Setelah menemukan apa saja kesalahannya, dia pun bertekad untuk meminta maaf pada Shanum dan berjanji akan memperbaiki diri. Namun, Shanum tetap pada pendiriannya.


"Kak, ijinkan Shanum fokus belajar terlebih dahulu. Shanum seminggu lagi ujian kenaikan kelas. Setelah itu Shanum harus fokus persiapan ujian kelulusan. Apa Kakak tidak ingin melihat Shanum berhasil? Shanum minta maaf jika mengecewakan Kakak, Shanum hanya ingin tenang menghadapi ujian. Shanum mohon pengertian Kakak," ujar Shanum panjang kali lebar, jika tidak takut terlambat masuk ke kelas. Mungkin ditambah lagi dengan tinggi.


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku akan memberi waktu agar kamu bisa fokus belajar. Asal kamu tahu, kamu tidak akan terganti di hatiku. Lebih baik aku mati jika tidak bisa bersamamu," ucap Bumi akhirnya, dia memilih mengalah. Membiarkan Shanum fokus belajar. Namun, bukan berarti melepaskan Shanum begitu saja. Cintanya pada Shanum begitu dalam, sehingga tak mudah untuk Bumi melepas Shanum.


🌼


Kini waktu ujian kenaikan kelas telah tiba. Shanum lebih rajin belajar karena kondisi tubuhnya sudah mulai kuat. Berkat pola makan sehat yang dijalani, Shanum lebih sehat dari biasanya.


"Num, kok Lo tenang banget ngerjain ujiannya. Kamu pasti bisa jawab semuanya, ya?" tanya Jimmy penasaran karena Shanum tidak menunjukkan kepanikan seperti teman-teman mereka ya sibuk mencari contekan.


"Bisa nggak bisa, yang penting dikerjakan. Mau salah atau betul urusan belakangan, yang penting semua terjawab," jawab Shanum cuek. Kembali ke mode semula, dingin dan cuek juga jutek.


"Ishh, mantap! Yang penting semua diisi, iya nggak?" ujar Jimmy sembari memainkan alis matanya.


"Ck, malah ngeledek! Dasar teman gak punya belas kasihan!" gerutu Shanum kesal.


"Ehh, ngeledek gimana sih? Dah ahh gue pulang duluan, ya! Byee Sha lala..." ucap Jimmy sambil meninggalkan Shanum.


"Woooo!" teriak Shanum setelah sadar dia diledek Jimmy.


Shanum pun berjalan meninggalkan kelas, semua temannya sudah bubar. Shanum berjalan sendiri menuju tempat dimana angkot biasa mangkal. Tanpa Shanum tahu, Bumi mengawali dari kejauhan.

__ADS_1


Setiap hari Bumi hanya bisa melihat Shanum dari kejauhan. Dia benar-benar tidak ingin mengganggu Shanum. Kini Bumi baru merasakan kehilangan gadis yang selalu membuatnya tersenyum itu. Dulu dia begitu terlena telah memiliki gadis cantik yang terlihat kuat tersebut. Oleh karena itu, Bumi kurang perhatian dan lebih mengutamakan temannya.


Bumi merasa menyesal telah menuduh Shanum memiliki laki-laki lain. Dia melihat sendiri bagaimana mantan kekasihnya itu, lebih banyak menghabiskan waktu sendiri tanpa teman. Shanum kembali seperti dulu sewaktu SMP, dingin dan cuek. Tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kini Bumi pun memilih untuk fokus belajar setelah memastikan Shanum tidak memiliki kekasih.


🌼


Hari ini adalah hari pertama Shanum menjalani pelatihan kerja lapangan tahap kedua. Berhubung ini adalah tahap kedua, semua anggota kelompok bimbingan bu Hetty langsung berkumpul di PT. CN.


"Num, sudah lama nunggu di sini?" tanya Arfian yang tiba-tiba muncul dari dalam.


"Baru turun dari angkot. Kok Lo sudah dari dalam, Fi?"


"Iya, gue tadi paling awal sampai sini. Jadi langsung masuk aja, sudah kenal ini sama pegawai di sini," jelas Arfian.


"O... yang lainnya mana nih?"


"Paling bentar lagi juga sampai! Kita nunggu di dalam aja, yuk!" ajak Arfian, Shanum pun langsung mengekor di belakangnya.


Setelah dilakukan serah terima antara pihak sekolah dengan pihak perusahaan, bu Hetty pun meninggalkan PT. CN. Sedangkan, para murid langsung menjalankan tugas mereka. Belajar bekerja, terjun langsung mempraktekkan ilmu yang didapat di bangku sekolah.


"Shanum..."


"Num, ada yang mau kenalan nih!"


"Ciee, yang mau kenalan malu-malu meong kek kucing garong!"


Masih banyak lagi suara-suara celetukan para karyawan di sana, sehingga suasana pun menjadi riuh. Shanum hanya diam saja, dia tetap melanjutkan memilah dan menghitung uang hasil setoran para sales marketing.


"Shuuttt... Num! Num!" bisik Elsa pelan.


Shanum pun mengangkat kepalanya, masih dengan tangan memegang uang kertas nominal 20 ribuan.

__ADS_1


"Apa?" tanya Shanum polos.


"Lo bu*deg atau kenapa sih? Masak nggak dengar mereka ngoceh!" celetuk Luluk kesal.


"Bukan bu*deg atau gak dengar! Males aja nanggapin, mereka itu cuma bercanda ngapain juga masuk ke hati!" sahut Shanum seraya kembali menghitung uang di tangannya.


"Ck, nggak pernah berubah! Kelewat oon apa b**doh sih?" ucap Luluk kasar.


"Ngapain Lo dengerin omongan orang bercanda! Bagus Lo kerjain itu duit di depan Lo!" sembur Arfian, sang ketua kelompok.


Akhirnya mereka terdiam dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah selesai memilah dan menghitung uang sesuai pecahan nominalnya, mereka berpencar sesuai tugas masing-masing.


Kebetulan hari ini Shanum membantu di bagian keuangan. Selesai memilah dan menghitung uang tadi, Shanum diminta untuk membuat slip setoran bank menggunakan komputer. Setelah selesai dia diminta untuk mengerjakan tagihan pembayaran pada toko-toko rekanan.


Shanum berada di bagian keuangan bersama Arfian. Mereka berdua bekerja sama mengerjakan tugas itu dalam pengawasan pak Rano. Tepat jam dua belas siang, pekerjaan itu selesai.


Usai istirahat yang diisi dengan makan bersama di warung terdekat, Shanum dan Arfian ke gudang. Mereka berkumpul di gudang membantu menyusun barang yang tercampur. Memilah barang sesuai dengan kotak karton kemasan.


Mereka bertujuh memilah barang sambil bercanda. Bahkan si gesrek Rumini tidak segan memainkan produk yang rusak.


"Jorok, Min! Cewek kok nggak ada kalem-kalemnya," jerit Arfian yang hampir terkena cipratan shampoo yang kemasannya bocor.


Keributan itu mengundang kepala gudang mendekati mereka.


"Adik-adik!" tegur sang kepala gudang, pak Tara.


"Maaf, Pak! Ini si Mimin kurang kerjaan," ucap Arfian, mewakili teman-temannya.


"Ada apa kok keknya heboh?"


"Itu, Pak! Si Rumini mainin shampoo yang bocol," adu Elsa, yang tidak bisa mengucap kata R.

__ADS_1


Ucapan Elsa langsung mengundang gelak tawa seisi ruangan.


__ADS_2