Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 55


__ADS_3

Shanum kembali menjalani aktivitasnya mengikuti pelatihan kerja lapangan setelah acara reuni. Di tempat PKL, banyak karyawan perusahaan distributor itu yang mendekati Shanum. Namun, tak satupun dari mereka ditanggapi oleh Shanum.


Para karyawan itu bahkan ada yang sampai nekat mengikuti Shanum dari belakang, hanya untuk sekedar tahu alamat rumah Shanum. Mereka beralasan hanya ingin mengenal dekat dengan Shanum, ketika ditanya alasan datang ke rumahnya.


Malam ini bulan tidak menampakkan sinarnya, sehingga bumi pun tampak gelap gulita tanpa lampu penerang. Shanum masih asik bermain-main di teras belakang. Banyak kertas yang digunting-gunting tanpa tahu maksudnya.


"Kamu ngapain sih, Num? Bikin sampah aja tahumu!" tanya Mutia sembari duduk di samping Shanum.


"Hehehe ... suntuk Mbak! Jadi, ya gunting gambar atlet idola dari pada bengong," sahut Shanum masih asik menggunting koran dan tabloid bergambar Taufik Hidayat.


Di saat teman-temannya mengidolakan boyband dan atlet bola, Shanum malah mengidolakan Taufik Hidayat dan Valentino Rossi. Sang kakak yang tahu kesukaan adiknya pun ikut mencarikan poster atlet tersebut.


"Habis ini kamu bereskan sampahnya, jangan ada sampah yang tertinggal di sini!" Mutia pun meninggalkan Shanum, setelah berpesan agar Shanum membereskan semua kekacauan yang telah dibuat.


"Siap, Boss! Pasti Sha bereskan semua ini, tenang aja!" jawab Shanum sambil mengacungkan jempol kanannya.


Tak berapa lama setelah Mutia masuk, terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Mutia pun membuka pintu, dahinya mengkerut. Merasa tidak mengenal sang tamu.


"Malam, Bu. Shanum ada?" sapa sang tamu.


"Sejak kapan saya nikah dengan ayah anda?" sahut Mutia dengan wajah memerah menahan amarah.


Deg ....


Tamu itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kikuk. Setelah mendengar kata-kata ketus dari tuan rumah. Tamu itu merasa heran dengan sikap tuan rumah, yang tidak ada ramahnya sama sekali.


Mutia masih berdiri di tengah gawang pintu menghalangi jalan. Dia sengaja tidak membiarkan sang tamu masuk karena belum kenal. Bukan bermaksud tidak sopan pada tamu, tetapi terlebih karena menjaga diri. Apalagi di rumah itu hanya ada dia dan adiknya saja.


Mutia masih dengan setia menunggu sang tamu berbicara, sampai benar menurut pikirannya. Mutia memang benar-benar seorang wanita keras kepala, bukan?


"Maaf, Mbak. Saya ingin bertemu Shanum," ucap Dayu dengan nyali yang sedikit mengkeret.


"Mencari Shanum malam-malam begini? Apa saya tidak salah dengar?" sembur Mutia.

__ADS_1


Shanum yang hendak mengambil sapu mendengar suara keributan. Dia pun mendekati sumber suara. Dan melihat sang kakak berdiri di tengah gawang pintu.


"Mbak, ada apa?" tanya Shanum sembari mendekati sang kakak.


Betapa terkejutnya dia, melihat karyawan perusahaan tempatnya PKL sudah di depan pintu.


"Ini ada tamu, cariin kamu. Kamu mengenal dia?"


"Bang Dayu?" ucap Shanum mengangguk menjawab pertanyaan dari mbak Mutia -nya.


Mendengar jawaban dari adik kesayangannya, Mutia pun menggeser posisinya. Memberi ruang gerak sang tamu agar bisa masuk.


"Masuk, Bang! Ada perlu apa? Kok malam-malam kesini," ucap Shanum tanpa rem sama sekali.


Dayu tersenyum diberondong pertanyaan dari wanita pujaan hatinya. Dayu mengambil tempat duduk di depan Shanum.


"Mau main aja, boleh?" jawab Dayu apa adanya.


"Mbaakkkk ...." rengek Shanum manja.


"Shanum saat ini tugas dan kewajibanmu itu belajar. Bukan pacaran! Akan ada saatnya nanti, yang jelas bukan sekarang," terang Mutia dengan suara lembut agar adiknya tidak tersinggung.


Dayu merasa tidak enak mendengar kata-kata kakaknya Shanum. Betul apa yang dikatakan oleh sang kakak, namun perasaan di hatinya tidak bisa ditahan lagi. Entah kenapa dia begitu terpesona dengan Shanum.


Baru beberapa kali melihat Shanum, Dayu merasa menemukan perempuan sebagai tempat pulangnya di saat lelah seharian bekerja. Wajah teduh Shanum, sikap cuek Shanum, dan segala yang ada pada diri Shanum membuatnya tertarik.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Dayu nekat mendatangi rumah Shanum. Sebenarnya dia takut melewati jalanan ke arah rumah Shanum. Siapa yang tidak takut malam hari melewati jalan sepi, kanan kiri jalan hanya ada persawahan sepanjang lima kilometer.


Tidak ada percakapan yang berarti antara Dayu dengan Shanum. Keduanya hanya diam saja, sedangkan Mutia sudah tenggelam dengan pekerjaannya.


Setengah jam kemudian, Dayu pamit karena tidak tahu harus ngomong apa ke Shanum. Kata-kata yang sudah dirangkai sebelumnya, menguap begitu saja karena mendengar ucapan Mutia. Sehingga Dayu pun memutuskan untuk pulang saja dari pada saling diam tanpa ada yang mau memulai.


"Num, kamu pacaran sama pemuda tadi?" introgasi sang kakak begitu tamu sudah pergi.

__ADS_1


"Siapa juga yang pacaran? Mbak Mutia jangan asal tuduh, ya!" bantah Shanum.


Hhhh ....


Mutia hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Mutia sebenarnya tahu maksud kedatangan tamunya tadi. Hanya saja dia memilih diam, tidak mau ikut campur.


Hari-hari Shanum lalui dengan ceria, dia masih mengikuti anjuran sang kakak untuk menjaga pola makannya. Alhasil, sekarang Shanum jarang sakit atau pun mengeluh lemas seperti sebelumnya.


Sementara itu, Bumi tengah meregang nyawa karena penyakitnya terlambat diketahui. Ternyata dia mengidap penyakit mematikan sejak SMP, tetapi tidak ada yang tahu. Bumi ketahuan sakit, saat dia tiba-tiba pingsan saat menjelang makan malam.


Malam itu ....


Mama Anastasia menghampiri anak bungsunya yang sedang mengurung diri di kamar, lantaran ada Serra di rumah itu hari ini. Bumi malas bertemu dengan Serra dan memilih bertapa di kamar.


"Bumi ... ayo kita makan malam dulu! Sejak siang kamu belum makan lho," bujuk sang mama pada anaknya.


Bumi sedang berbaring memeluk guling. Wajahnya terlihat sangat pucat bagai kapas putih. Matanya terpejam erat, badannya menggigil hebat. Melihat hal itu, mama Anna pun mendekat pada anaknya.


Tangannya diulurkan ke arah wajah sang anak.


"Panas .... Sepertinya kamu sakit. Sudah berapa lama kamu seperti ini, Bumi?" ucap mama Anna panik.


Mama Anastasia mengguncang tubuh Bumi agar terbangun. Sayangnya, bukan terbangun tapi malah keluar darah dari hidung Bumi. Spontan mama Anastasia berteriak memanggil semua penghuni rumah besar itu.


Sambil menunggu, mama Anastasia mengusap darah yang keluar dari hidung Bumi. Dengan telaten, perempuan berusia empat puluh tiga tahun itu membersihkan darah di wajah sang anak.


Pak Wardhana yang pertama masuk, merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


"Kenapa, Ma?" tanya pak Wardhana dengan napas memburu karena sehabis lari.


"Bumi, Pa. Lihatlah bagaimana keadaan anak kita, Pa! Dia pingsan, Papa," jerit mama Anastasia histeris.


Bumi pun segera dilarikan ke rumah sakit tanpa menunggu lama.

__ADS_1


__ADS_2