
"Tentang Shanum? Ada apa dengan Shanum?" berondong Bumi dengan perasaan tak menentu.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak, tapi karena apa dia tidak tahu. Mungkin karena rasa cemas memikirkan hubungannya yang hambar akhir-akhir ini. Sebenarnya dia ingin menemui Shanum, akan tetapi keterbatasan waktu yang membuatnya selalu urung menemui sang kekasih.
"Shanum sehat-sehat saja. Kemarin dia datang ke rumah sebentar. Padahal biasanya dia kalau ketemu Dewi pasti ngerumpi, tapi kemarin datang cuma buat antar surat buat Lo," jelas Bayu.
Bayu kemudian membuka tas ranselnya, mengambil surat beramplop putih. Lalu menyerahkan pada sang sahabat.
"Ini! Dari Shanum buat Lo. Wajahnya lesu banget pas dia ke rumah. Seperti memikul beban berat. Harusnya Lo sebagai cowoknya, lebih banyak meluangkan waktu sama dia. Bukan dengan perempuan lain!" ucap Bayu.
"Iya, gue salah! Gue mau menemui Shanum, setelah selesai kuliah hari ini. Semoga saja dia masih mau bertemu dengan gue."
"Kalau itu sih, gue gak tahu! Lebih baik Lo baca dulu surat itu, baru bertindak dari pada salah langkah," saran Bayu yang diangguki oleh temannya itu.
"Ok, gue ikut saran Lo. Thanks!"
"Gue cabut dulu, ada kuliah lima menit lagi!" pamit Bayu sembari melangkah meninggalkan Bumi di parkiran.
Bumi pun urung ke kelas, dia berjalan mencari tempat yang sunyi dan tenang. Dibukanya amplop tersebut, kemudian menarik keluar kertas itu dan membuka lipatan Nya.
Sementara itu kota lain, Shanum sedang fokus menatap papan tulis. Mendengar dan merekam setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru, hingga suara bel tanda istirahat berbunyi.
Semua murid berhamburan keluar kelas ada yang menuju kantin, koperasi atau bank mini. Bahkan ada juga yang ke lapangan basket. Shanum memilih duduk di bawah pohon rindang depan kelas. Di situlah dia dan teman-temannya duduk bercengkrama dan bercanda.
"Eh, Num! Lo dapat salam dari bang Dayu," ucap Elsa saat Shanum ikut duduk bergabung dengan teman-teman PKL.
"Wuaahhh, berapa kilo Ca salam buat Shanum?" celetuk Kaka.
"Salam itu diikat, Bo*doh! Bukan ditimbang. Salah pertanyaan Lo, Ka!" protes Luluk.
__ADS_1
"Berapa ikat Ca, salam buat Shanum?" tanya Rumini tidak mau kalah.
Shanum diam aja melihat teman-temannya yang heboh. Dia sedang sibuk mengingat orang bernama Dayu. Akhirnya dia pun bertanya karena dia tidak merasa mengenal orang bernama Dayu.
"Dayu apa Bayu, Ca? Perasaan gue nggak kenal orang bernama Dayu, deh! Nggak salah ucap 'kan, Lo?" tanya Shanum dengan dahi berkerut.
"Iya, Ca! Dayu siapa sih, jadi penasaran gue," ucap Anggi menimpali.
"Bang Dayu staf marketing PT. CN. Ck, yang orangnya manis itu lho. Perawakannya kecil agak pendek. Pokoknya yang kecil tapi ganteng deh," jelas Elsa dengan wajah tersipu.
"Lo suka sama dia, Ca?" tanya Luluk.
"Sembarangan! Gue sama bang Dayu itu cuma sebatas abang adik saja. Kenapa, sirik Lo?" bantah Elsa.
"Astaga, Elsa! Begitu aja nyolot. Gue tuh cuma heran, Lo muji dia kek cewek muji cowoknya tahu! Kali aja Lo suka sama abang itu," ketus Luluk tidak mau kalah.
"Kalau penasaran sama Dayu, kenapa nggak ke sana aja(PT. CN) buat mastiin? Nggak usah meributkan orang lain, kasihan 'kan kalau dia keselek karena kalian gunjing sejak tadi," usul Arfian begitu berdiri di tengah-tengah kerumunan para cewek.
"Wuih keren! Saran dari Arfian boleh juga tuh. Gimana kalau kita sepulang sekolah main kesana?" Usul dari Arfian langsung diterima dengan baik oleh Rumini.
"Lo tuh ya Min, kalau masalah keluyuran nomor satu!" celetuk Luluk.
"Hayah, bukan gue aja yang suka keluyuran ya! Lo Lo pada juga hobi keluyuran, iya 'kan?" sahut Rumini membela diri.
Melihat obrolan yang kian memanas akhirnya, Shanum beranjak dari duduknya.
"Eh, mau kemana Lo, Num? Lo yang jadi topik utama malah ngacir," protes Kaka.
"Ke kelas! Pusing kepala gue dengar ocehan kalian yang nggak jelas!" jawab Shanum kesal sembari terus melangkah kakinya menuju kelas.
__ADS_1
"Shanum kenapa tuh? Nggak biasanya dia ninggalin kita ngobrol begitu saja seperti sekarang ini. Heran nggak sih?"
"Telinga Lo kemana tadi? Nggak dengar apa kalau dia ngeluh pusing."
"Hooo, telinga... telingaaa!"
Mereka terus bersahutan tapi tidak dihiraukan oleh Shanum. Dia masuk ke kelas kemudian minum. Usai menyimpan botol minumnya, Shanum meletakkan kepalanya di atas meja.
Shanum sedang memikirkan bagaimana sikap Bumi setelah membuka surat darinya. Berat sebenarnya melepas, namun ini demi kebaikan mereka berdua. Untuk apa diteruskan jika tiada kabar berita. Yang ada malah saling berprasangka dan mengganggu pikiran.
"Apakah keputusanku salah? Aku hanya ingin tenang menyongsong masa depan. Jika aku masih pacaran seperti ini, bukannya malah mengganggu konsentrasi belajarku... Hhh"
Shanum memenuhi rongga paru-parunya dengan udara, kemudian membuang karbondioksida dengan kasar. Gelisah itu yang dirasakan oleh gadis yatim piatu berparas manis tersebut.
"Lo kenapa?" tanya Elsa tiba-tiba. Elsa mengikuti Shanum ke kelas dan memperhatikan temannya itu.
"Eh, Ca! Nggak apa-apa kok. Cuma sedikit pusing aja," jawab Shanum dengan senyum palsu. Ya, Shanum hanya bisa menampilkan senyuman palsu karena sejatinya suasana hati tidak ingin tersenyum.
"Gara-gara gue tadi, ya? Sorry, gue cuma menyampaikan amanah saja. Nggak ada maksud apa-apa ke Lo," ucap Elsa, dia merasa tidak enak pada Shanum. Tiba-tiba saja temannya itu murung, begitu dia menyampaikan salam dari bang Dayu.
"Enggak kok, bukan karena itu! Gue masih penasaran sama yang namanya Dayu. Gue nggak kenal dia lho, kenapa bisa nitip salam?" jawab Shanum dengan wajah yang berbinar, menunjukkan antusias membahas laki-laki bernama Dayu.
"Dibilang bang Dayu itu sales canvas di PT. CN. Dia sering merhatiin Lo pas PKL. Terus dia itu setiap hari lewat depan rumah gue. Jadi, kemarin sore pas gue lagi duduk-duduk di teras bang Dayu lewat. Gue sapalah, masak diam aja. Ntar gue dikira sombong lagi. 'Kan nggak lucu si ramah Elsa tiba-tiba sombong."
"Eh, dia langsung berhenti gitu. Dianya parkirin motornya terus ikut duduk di teras. Habis itu cerita-cerita, ujungnya nanyain Lo. Dan, akhirnya dia nitip salam buat Lo. Begitu ceritanya!" cerita Elsa agar Shanum merasa tidak dijadikan bahan ghibahan.
Shanum hanya diam sambil manggut-manggut tanda mengerti cerita Elsa.
"Tenang aja, Num! Walaupun Lo belum tahu yang mana orangnya, sebulan lagi 'kan kita PKL lagi di sana. Nanti deh, gue kasih tahu yang mana orangnya," ucap Elsa.
__ADS_1