Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 46


__ADS_3

Bumi pulang ke ruko, dia tidak lagi tinggal di kos-kosan setelah usahanya berkembang. Dia langsung masuk ke kamarnya. Melempar ke sembarang arah tas ransel dari punggungnya.


Prank...


Bumi menghempaskan semua barang yang ada di meja belajarnya dengan kedua tangannya. Lampu duduk yang biasa digunakan saat belajar itupun pecah. Tidak hanya itu saja, gelas mug pemberian Shanum yang digunakan sebagai tempat alat tulis pun pecah berkeping-keping.


Hatinya terasa hancur seperti gelas mug itu, tiada tersisa. Setelah membaca surat dari Shanum, pikiran Bumi menjadi kacau. Seolah kakinya saat ini tidak tepat memijak.


"Apa salahku, Num? Kenapa tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak. Apa kamu tidak merasakan betapa besar cintaku padamu?" ucap Bumi lirih dengan setetes air mata jatuh.


"Sakit, Num! Sakit. Apa kamu tahu itu?"


"Hahaha... mana mungkin kamu tahu! Kamu terlalu cuek dan acuh jadi orang, sehingga tidak bisa merasakan cintaku. Kamu juga tidak mikir perasaanku. Kamu melambungkan aku setinggi langit, kemudian menghempaskan aku begitu saja ke dasar laut."


Bumi terus meracau karena bingung dan sakit hati atas tindakan Shanum. Dia benar-benar tidak menyangka jika Shanum berani memutuskan hubungan mereka yang sudah berjalan hampir dua tahun.


"Apa kamu sakit hati karena aku tidak datang saat bapak meninggal? Itu karena aku tidak tahu, Num. Atau kamu sakit hati karena melihat aku jalan sama Serra?" gumam Bumi, mencoba mencari kesalahan yang dilakukannya sehingga membuat Shanum nekat memutuskannya.


Bumi terus berbicara sendiri di kamarnya seperti orang gila.


"Apa karena aku jarang menemui kamu akhir-akhir ini? Atau, kamu sudah menemukan laki-laki lain yang menggantikan aku?"


Bumi masih saja bertanya-tanya apa kesalahan yang telah dia lakukan. Tanpa dia tahu sejak tadi Bayu memperhatikan semua yang dilakukan Bumi. Bahkan gumaman yang keluar dari mulut Bumi pun terdengar jelas di telinga Bayu.


"Lo minum dulu! Biar lebih tenang. Shanum mengirim surat perpisahan? kenapa tidak Lo temui aja dia. Tanyakan baik-baik apa maunya. Kalau sekiranya Lo sanggup memenuhi permintaan dia, ya balikan terus penuhi permintaan dia." saran Bayu bijak.


"Tumben Lo ngomong lempeng. Biasanya juga oleng sampai nabrak marka jalan," celetuk Bumi setelah menghabiskan setengah gelas air hangat.


"Ya elah, salah lagi gue! Padahal gue cuma kasih saran. Mau diterima syukur, kagak juga nggak apa-apa. Tapi, jangan ejekin gue mulu napa?" cerocos Bayu kesal.

__ADS_1


Bayu menghempaskan bobot tubuhnya di ranjang empuk milik Bumi. Tidur telentang dengan kedua tangan diayunkan seperti orang berenang.


"Kenapa Lo lama banget nggak jumpai Shanum? Kasihan anak itu, dia seperti orang linglung sewaktu ke rumah. Dia mutusin Lo mungkin karena sudah tidak tahan lagi. Lo itu diincar banyak cewek, jadi wajar kalau dia insecure. Seharusnya Lo itu jadi tempat sandarannya, bukan malah meninggalkan dia sendiri."


"Gue baru tahu kalau dia terkena kanker, ayahnya juga sudah meninggal saat dia opname. Bahkan dia sampai masuk ICU karena kritis. Sayangnya gue tahu baru kemarin dari Ipung. Teman sekelas Shanum waktu SMP. Kalau bukan karena Ipung yang cerita, gue nggak bakalan tahu."


"Lo jadi cowoknya malah nggak tahu kalau cewek Lo sakit. Sedangkan Ipung yang tidak dekat sama Shanum aja tahu!"


Bayu terus berbicara tanpa rem. Dia menceritakan apa yang dia ketahui pada Bumi. Bayu hanya ingin Bumi memperbaiki kesalahannya dan bersama Shanum lagi. Dia tidak tega melihat Shanum dan Bumi bersedih.


"Gue baru tahu tadi, pas baca surat dari dia. Selama ini dia tidak pernah mau bercerita tentang keadaannya jika tidak ditanya. Aku benar-benar bo*doh!"


"Baru nyadar Lo! Kalau sudah sadar buruan Lo perbaiki diri Lo sebelum semua terlambat," ejek Bayu.


🌼


Teman-teman Shanum benar-benar berkunjung ke PT. CN. Mereka pun memaksa Shanum untuk ikut, sehingga mau tidak mau Shanum ikut juga ke PT. CN. Mereka bertujuh disambut baik oleh karyawan yang ada di kantor.


"Eh, ada Arfian dan kawan-kawan. Ayo masuk sini!" sambut pak Rano, karyawan tertua di kantor itu.


Shanum dan yang lainnya menyalami satu persatu karyawan. Mereka saat ini sedang berada di ruangan tempat menyambut tamu.


"Kalian sudah makan siang belum?" tanya pak Tara, nama lengkapnya Warkuntara, ST. Beliau adalah kepala gudang di PT. CN.


"Sudah..."


"Belum..."


Jawab mereka tidak kompak, dan itu mengundang kekehan pak Tara dan pak Rano.

__ADS_1


"Yang benar yang mana ini? Kalau belum makan ayok ke warung rame-rame. Atau dibungkus saja, salah satu dari kalian yang beli?" tawar pak Rano, kepala keuangan.


Mereka saling sikut siapa yang akan menjawab. Akhirnya Arfian sebagai anak laki-laki satu-satunya di antara anak PKL itu menjawab.


"Dibungkus saja, Pak. Biar saya yang beli ke warung," jawab Arfian dengan percaya diri.


Pak Rano langsung mengeluarkan dompetnya dari kantong celana. Mengambil sejumlah uang lalu menyerahkan pada Arfian.


"Ini beli makan sekalian minumnya. Tolong belikan saya kopi kesukaan saya dan sisanya beli aja gorengan," ucap pak Rano sembari menyodorkan uang berwarna biru tiga lembar.


"Baik, Pak. Terima kasih," ucap Arfian seraya menerima uang itu dan menyimpannya dalam kantong celana.


"Bagiamana sekolah kalian?" tanya pak Tara.


Shanum dan kawan-kawan hanya tersenyum, menjawab pertanyaan dari kepala gudang itu.


"Sebentar lagi kalian balik ke sini, bukan? Setelah terima raport tentunya," tanya pak Rano ramah.


"Hehehe... iya, Pak. Sebulan lagi kami mulai mengikuti pelatihan kerja lapangan. Kami masih ditempatkan di sini, kok," sahut Elsa malu-malu.


"Sebenarnya kami kesini mau bertanya tentang pembagian tugas kami nanti. Saya dengar, katanya ada di antara kami yang akan ditempatkan di kantor cabang. Apa itu betul?" tanya Rumini tiba-tiba.


"Memang ada PT. CN yang lain di kabupaten ini?" Kaka memotong ucapan Rumini.


"PT. CN memang ada cabang di perbatasan kabupaten. Ini sengaja untuk memperluas jangkauan marketing. Jika kita tidak membuka cabang di daerah terpencil, maka kemungkinan terjual produk itu semakin sedikit. Jika buka cabang di daerah itu akan lebih menghemat biaya." jelas pak Tara.


Pak Tara bertanggung jawab atas kantor cabang tersebut bersama pak Rano. Namun, pak Rano akan ditarik kembali ke pusat akhir tahun ini. Sebagai karyawan senior di PT. CN, posisi pak Rano tidak tergantikan. Kecuali pak Rano sendiri yang merekomendasikan.


Mereka terus berbincang tentang kantor cabang baru di pinggir kabupaten. Bahkan hingga sore hari, jam kerja karyawan hampir habis. Kantor itu kembali ramai karena mereka yang kerja lapangan sudah kembali ke kantor untuk membuat laporan kerja.

__ADS_1


"Bang Dayu!"


__ADS_2