Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 8


__ADS_3

Shanum dan Satria sampai di sekolah saat suasana belum begitu ramai dan tidak sepi. Satria sengaja membawa Shanum ke lingkungan SMA. Setelah itu mengantarkan Shanum sampai di kelasnya.


Banyak yang memperhatikan keduanya, apalagi Satria seolah-olah tidak ingin berpisah dengan Shanum. Mengajak bicara Shanum, walaupun hanya dijawab singkat.


Sesampainya di depan kelas Shanum, Satria belum juga mau pergi dari tempat itu. Shanum yang tidak tahu maksud Satria diam saja membiarkan Satria tetap berdiri di depan pintu kelas, sedangkan dia asik membuka buku pelajaran.


Shanum sudah biasa membaca buku pelajaran, sembari menunggu jam pelajaran dimulai. Banyak siswa perempuan yang histeris melihat Satria berdiri di depan pintu kelas Shanum.


Mereka mendengungkan nama Satria, bahkan ada yang menanyakan maksud Satria berdiri di sana.


"Eh ada Kak Satria tuh!"


"Mana? Mana?"


"Kak Satria ngapain berdiri di situ? Bukannya Kak Satria sudah SMA ya?"


"Iya, ya! Ngapain dia berdiri di situ dari tadi?"


"Coba tanya aja, yuk!"


"Yuklah, capcuss!"


Akhirnya mereka bertiga memberanikan diri mendekati Satria dan bertanya.


"Pagi, Kak Satria. Kakak nunggu siapa di sini?" tanya salah satu diantara mereka dengan suara dibuat semanja mungkin.


"Hmm... lagi nunggu bidadari keluar dari kelas ini," jawab Satria dengan tenang.


"Hah! Bidadari? Bidadari dari kahyangan atau bidadari di hati Kak Satria nih?" ledek salah seorang dari mereka.


"Bidadari di hati Kakak," jawab Satria sambil tersenyum ramah.


Di dalam kelas, Shanum belum menyadari jika Satria masih berdiri di depan kelasnya. Dia tetap melanjutkan membaca buku pelajaran tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan suara para siswa yang ribut.


Bel tanda masuk pun berbunyi, semua siswa berkumpul di depan kelas masing-masing. Mereka mulai berbaris dan disiapkan oleh ketua kelas.


Di saat semua siswa berbaris, Satria masih berdiri di depan kelas itu. Dia tampak ingin mengajak Shanum berbicara.


"Shanum!" panggil Satria sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Iya, Kak?" sahut Shanum tetap berdiri dalam barisan.


"Nanti pulang sekolah tunggu aku di kantin ya?" kata Satria dengan rasa percaya diri yang penuh.


"Ciee... Shanum!" teriak beberapa teman sekelas Shanum.


"Satria! Kamu mau mengulang SMP lagi?" teriak seorang guru perempuan yang ber-name tag Fransiska Utari.


"Nggaklah Bu! Bu Siska ada-ada saja," sahut Satria seraya berjalan meninggalkan tempat itu.


Bu Siska hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Satria.


"Dasar bocah gendeng! Bukannya semakin baik malah tambah parah. Nggak kasihan sama orang tua, disekolahkan mahal-mahal cuma jadi berandal!" Sumpah serapan keluar dari mulut guru perempuan itu.


"Kalian jangan ikuti jejak seniormu itu! Sekolah yang bener! Jangan pacaran dulu! Ingat itu Shanum, jangan buat malu ayah kamu. Di sini kamu membawa beban nama baik ayahmu," kata bu Siska mengingatkan pada murid-muridnya.


"Sekarang kita masuk kelas dan mulai belajar! Lihatlah, hanya kalian yang belum masuk ke kelas!" imbuh bu Siska.


*


*


Betapa bahagianya Shanum saat mengetahui ayah angkatnya itu datang. Dia jadi bisa membuat alasan untuk tidak pulang bareng Satria. Tadinya dia bingung mencari alasan agar tidak diantar pulang oleh Satria.


Shanum langsung berlari masuk ke dalam rumah begitu mobil terparkir sempurna di garasi. Pak Sena hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anak perempuan kesayangannya itu.


"Ibuuu..." teriak Shanum sambil berlari mencari ibu angkatnya Lelly.


"Bocah wadon kok ora isoh alus babarblas!" gerutu bu Lelly seraya menggelengkan kepalanya.


(Anak perempuan kok gak bisa lembut sama sekali)


Shanum langsung mencium punggung tangan sang ibu begitu mendapati ibunya sedang menyiapkan makan siang. Shanum tak lupa mencium kedua pipi ibunya.


"Kenapa? Kangen?" tebak bu Lelly sambil menahan tawa melihat tingkah menggemaskan anak perempuan satu-satunya itu.


Ya, pak Arsena dan bu Lellyana sudah menganggap Shanum seperti anak kandungnya sendiri. Mereka memperlakukan Shanum sama dengan memperlakukan Anton dan Marcell.


Shanum mengangguk malu menjawab pertanyaan sang ibu.

__ADS_1


"Ganti baju, cuci tangan dan kaki! Habis itu kita makan bersama," ucap bu Lelly sembari mengusap lembut kepala sang anak.


Mereka bertiga makan dengan tenang. Tiba-tiba mata Shanum berkaca-kaca mengingat ayah kandungnya yang tinggal sendiri di rumah.


"Kenapa lagi, hmm?" tanya bu Lelly lembut.


Shanum menggelengkan kepala, tetapi air matanya tiba-tiba menetes tak terbendung lagi.


"Kenapa, Nduk?" tanya pak Sena dengan suara lembut.


"Shanum ingat Bapak. Kasihan Bapak di rumah sendiri, tidak ada yang menemani. Bapak sudah makan belum ya, Rama, Ibu?" ucap Shanum lirih dengan air mata berderai.


"Nanti habis makan kamu pulang ke rumah Bapakmu. Bawa juga oleh-oleh buat dia, biar ada temen nonton televisi," ujar bu Lelly sembari mengusap lembut punggung tangan Shanum.


"Beneran boleh pulang ke rumah Bapak?" tanya Shanum antusias, air matanya tiba-tiba mengering seketika.


Wajah sendu itu kini bersinar lagi. Ada senyum bahagia menghiasi wajah gadis remaja itu.


*


*


"Bapak! Shanum pulang. Paakkk!" teriak Shanum sambil menggedor pintu utama.


Saat ini pak Yanto berada di sawah memanen jagung. Hasil bumi kali tidak laku dijual di sawah, alhasil harus dipanen sendiri dan diolah agar laku dijual ke tengkulak nantinya. Pak Yanto ditemani oleh Mutia, karena saat ini dia hanya menunggu wisuda saja.


Budhe Sri yang tinggal di depan rumah pun keluar mendengar suara Shanum.


"Oh, Shanum tha? Bapakmu ke sawah sama Mutia tadi," ujar budhe Sri dari luar pagar.


Rumah pak Yanto tidak sebesar rumah pak Sena, begitu juga dengan halamannya. Lingkungan rumah pak Yanto sangat rapat penduduk, sehingga rumah satu dengan yang lainnya tidak memiliki jarak. Halaman rumah pak Yanto berpagar semen setinggi satu meter.


"Oh, ya Budhe. Di sawah yang mana? Shanum mau menyusul mereka, Budhe," sahut Shanum seraya berjalan mendekati budhe Sri.


"Sawah sebelah mana Budhe nggak tahu, hanya saja mereka bilang mau manen jagung gitu saja. Coba kamu lihat saja mereka di sawah, nanti juga ketahuan!" jawab budhe Sri dengan mata jelalatan ingin melihat bingkisan yang dibawa oleh Shanum.


"Iya, Budhe. Kalau begitu Shanum pergi ke sawah ya, Budhe," pamit Shanum sembari menuntun sepedanya keluar dari halaman.


"Shanum betah ya ikut ke gereja? Lama tidak pulang ke sini," sindir budhe Sri yang tidak ditanggapi oleh Shanum.

__ADS_1


Semenjak Shanum ikut pamannya, banyak suara sumbang yang sering terdengar oleh telinga keluarga pak Yanto. Padahal sejak bayi, sang paman yaitu pak Arsena sudah ingin mengambil Shanum sebagai anaknya. Namun bu Lestari tidak mau memberikannya, hanya boleh menyayangi dan menganggap Shanum sebagai anak. Tidak untuk diadopsi. Semua itu karena untuk menjaga agar tidak adanya suara sumbang, tetapi suara sumbang itu harus terdengar di telinga keluarga pak Yanto.


__ADS_2