
"Kakak mencari Shanum, ya?" tanya teman Shanum yang bernama Fitri.
"Iya, Shanum mana kok sejak tadi belum kelihatan keluar?"
"Shanum nggak masuk sekolah sudah seminggu, sakit!" jawab Fitri dan diangguki oleh temannya yang bernama Tyas.
"Apa? Lo jangan bercanda deh! Nggak lucu," teriak Bumi tidak percaya.
"Beneran, Kak! Kami tidak bohong," sahut Tyas gadis kuncir dua.
"Dia dirawat di rumah sakit umum pusat, Kakak bisa menjenguknya di sana," timpal Fitri.
"Ok, thanks! Gue cabut dulu yak!" ucap Bumi sembari berlari kecil menuju motornya, lalu dihidupkannya motor. Dengan sekali tarikan, motor itu sudah melaju kencang.
Bumi berlari sekencang-kencangnya begitu turun dari motor. Dia bertanya pada bagian informasi untuk mengetahui di kamar mana Shanum dirawat. Namun, saat berbalik badan, Shanum sedang duduk di kursi roda dengan kedua kakaknya berjalan di belakang Shanum.
"Num? Kamu sudah baikan?" tegur Bumi, ada binar bahagia di raut wajah Bumi kala menatap wajah Shanum.
"Iya, ini kami mau pulang," sahut Shanum sambil tersenyum ramah.
"Siapa, Sha?" tanya Mutia penasaran.
"Kakak kelas Sha pas SMP. Orang tuanya teman almarhum Rama, Mbak," jelas Shanum dengan jantung berdebar takut hubungannya ketahuan.
Bumi langsung menyalami tangan kedua kakak Shanum bergantian. Tak lupa dia juga tersenyum ramah dan menunduk sebagai bentuk hormat kepada yang lebih tua.
"Namamu siapa, Cah Bagus?" tanya mbak Ami.
__ADS_1
"Saya Bumi, Tan," jawab Bumi dengan kepala ditundukkan.
"Owalah, jeneng kok Bumi. Sudah ketemu matahari belum hari ini?" kelakar mbak Ami sembari tertawa kecil, mencairkan suasana agar tidak tegang.
Tampak sekali ketegangan di wajah Shanum dan Bumi. Tegang karena menakutkan hal yang berbeda. Shanum takut kena marah bapak dan kakak-kakaknya, sedangkan Bumi takut hubungannya dengan Shanum harus kandas karena tidak direstui.
Wajar Bumi takut tidak akan mendapat restu karena perbedaan yang sangat mencolok. Padahal belum tentu keluarga Shanum akan melarang hubungan mereka. Apalagi mereka berdua masih sekolah, masih panjang jalan yang harus ditempuh.
Bumi mengikuti mobil yang membawa Shanum pulang. Ya, akhirnya Bumi diijinkan untuk ikut ke rumah pak Yanto. Dengan alasan ingin menjenguk Shanum, dengan mudahnya Bumi mendapat lampu hijau.
Shanum duduk di kursi rotan di ruang tamu. Dia sengaja duduk di kursi panjang agar kakinya bisa diluruskan. Ternyata walaupun masih muda kaki Shanum sudah merasakan kebas. Kaki Shanum seolah tak bertenaga lagi.
"Bagaimana ujian Kakak?" tanya Shanum begitu Bumi masuk dan duduk di dekat Shanum.
"Puji syukur, ujian sudah kelar. Tinggal menunggu hasil saja" jawab Bumi dengan senyum manisnya.
"Rencananya Kakak mau kuliah di mana, setelah lulus nanti?" tanya Shanum pelan.
"Hah, keluar negeri? Jauh amir kuliahnya, Kak," tanya Shanum terkejut mendengar jawaban Bumi.
"Tahu nggak maksudnya luar negeri?" tanya Bumi dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Shanum.
"Ck, gitu aja nggak ngerti! Luar negeri itu maksudnya itu swasta. Kalau tidak bisa masuk jalur undangan, ya pakai jalur umum. Jalur umum tidak masuk juga ya kuliah di perguruan tinggi swasta saja. Tidak perlu jadi beban mau kuliah dimana. Menurut aku ya, sekolah dimana sama saja. Yang penting tujuan utamanya belajar. Kalau tujuan utama hanya prestis, kuliah di kampus elit pun tetap otaknya kosong," jelas Bumi panjang dan lebar sehingga lama ceramahnya.
"Oh, begitu. Shanum mana ngerti kek gitu, baru dengar ini juga istilah kek gitu."
"Ayo, kita makan dulu. Sudah waktunya makan siang lho," ucap mbak Ami tiba-tiba, mengagetkan kedua insan yang lagi melepas rindu dengan saling curi pandang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Mutia datang dengan membawa nasi dan sayur di kedua tangannya. Sedangkan mbak Ami membawa piring serta lauk pauk.
Pak Yanto pun ikut bergabung dengan semuanya.
"Ayo, makan yang banyak. Nggak usah malu-malu, Nak Bumi. Nanti malah malu-maluin," ajak pak Yanto.
Mereka berlima makan dengan khidmat dengan lauk seadanya saja. Tidak ada menu istimewa, hanya sayur nangka muda digulai, tempe goreng dan telur kecap serta sambal tomat.
🌼
Shanum sudah mulai sekolah seperti biasa, Mutia pun kembali mencari pekerjaan yang masih dalam satu kabupaten. Dengan membuang rasa malunya, Mutia kembali memasukkan lamaran kerja ke PT. MM.
Mutia berani melamar ke perusahaan tersebut, karena sang pemilik sudah menikah lagi dengan pemilik perusahaan lain di kota Jogja. Jadi tidak akan ada lagi drama pedekate antara sang pemilik perusahaan dengan karyawannya.
Pagi hari memasukkan lamaran kerja, siang harinya Mutia mendapat panggilan untuk wawancara keesokan harinya. Kabar ini sangat membahagiakan Mutia dan pak Yanto.
Shanum pun ikut senang mana kala mendengar, sang kakak sudah kembali bekerja di perusahaan besar yang telah dia tinggalkan begitu saja.
Shanum tetap kontrol ke dua dokter, yaitu dokter spesialis syaraf dan dokter spesialis penyakit dalam. Awalnya seminggu sekali pergi kontrol, sekarang sudah mulai dua Minggu sekali.
"Bagaimana perkembangan adik saya, Dok?" tanya Mutia usai dokter itu memeriksa sang adik.
"Untuk sementara jaringan sel kanker sudah mulai membaik. Pertahankan pola gaya hidup sehat. Niscaya kesembuhan menanti. Intinya hanya harus sabar mengkonsumsi obat."
"Ini saya resepkan saja obat untuk mengurangi rasa sakit di kepala. Saya juga menambahkan beberapa obat untuk persediaan sebulan. Saya harus berangkat keluar malam ini juga. Tatapi kalian jangan takut, akan ada dokter pengganti saya, nantinya," ucap sang dokter sembari menulis obat apa saja yang boleh dikonsumsi oleh Shanum.
Shanum tampak senang karena mendengar jika kanker yang diderita sudah mulai membaik. Ingat hanya membaik bukan sembuh, ya!
__ADS_1
Sesampainya di rumah, tampak pak Yanto sedang rebahan di kursi bale yang ada di teras. Napasnya memburu seperti sesak di dada.
"Pak, Bapak kenapa?" teriak Mutia panik mendapati sang ayah tampak susah bernapas.