
Hari demi hari Shanum lalui dengan senyum yang dipaksakan. Wajahnya masih terlihat murung dan sedih. Namun, setiap kali mengingat pesan dari Bumi, dia langsung memaksakan senyumnya.
Badan Shanum tiba-tiba terasa lemas, padahal sudah lama dia tidak merasa lemas disertai demam. Jadwal kontrol berobat dan cek darah akan dilakukan besok. Jadi, Shanum memutuskan untuk tidak menceritakan keluhannya pada sang kakak.
"Aduuhhh, kenapa kakiku kembali seperti ini? Bagaimana aku ke kamar mandi nanti? Mbak Mut pasti marah kalau sampai aku kambuh lagi," gerutu Shanum di dalam kamarnya.
Sejak pulang sekolah Shanum sudah mengurung diri. Dia hanya keluar saat mandi dan makan saja, selebihnya dihabiskan di dalam kamar. Badannya mulai gemetaran usai mandi tadi, sehingga dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Mbak Mut kenapa belum pulang juga? Padahal sudah jam tujuh malam. Semoga tidak lama lagi dia pulang," gumam Shanum gelisah.
Sampai jam sembilan malam Mutia belum juga pulang. Shanum sudah gelisah karena merasakan ngilu pada sekujur tubuhnya. Keringat dingin sudah membasahi tubuh ringkih itu.
Shanum pun memejamkan matanya, memaksa untuk tidur. Padahal dia sudah meminum obatnya tadi setelah makan malam. Akan tetapi, sepertinya obat itu tidak bereaksi sama sekali.
Tak lama setelah Shanum terlelap, Mutia baru saja pulang kerja. Wajah gadis itu tampak lelah karena seharian bekerja memeras otak. Mutia langsung membersihkan dirinya yang terasa lelah.
Usai membersihkan diri, Mutia mendekati sang adik. Usapnya rambut Shanum dengan pelan. Tangannya tak terasa menyentuh kening sang adik yang terasa panas.
"Panas sekali! Sebenarnya ada apa dengan anak ini? Kenapa akhir-akhir ini selalu murung?" gumam Mutia sendu.
Mutia mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Shanum. Sembari menunggu hasilnya, Mutia mengambil air hangat untuk mengompres adiknya.
"39. Hmm, tinggi sekali! Semoga tidak berakibat fatal pada kekebalan tubuhnya," ujar Mutia kembali menyimpan alat pengukur suhu badan itu.
Ya, sakit yang diderita Shanum menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Oleh karena itu Shanum mudah lelah dan lemas. Bahkan dia tidak bisa berjalan jika kambuh.
Badannya akan terasa ngilu dan gemetaran tanpa jeda. Untuk itu Shanum harus segera berbaring atau dia akan terjatuh, jika memaksakan diri untuk berdiri apalagi berjalan. Namun begitu, sakit Shanum sudah jarang kambuh.
Keesokan harinya, seperti biasanya Shanum dan Mutia bersiap untuk menemui dokter. Demam Shanum sudah mulai berkurang. Hanya saja badannya masih gemetaran, sehingga Shanum pun berjalan sangat pelan.
__ADS_1
Seperti biasanya, darah Shanum diambil sampelnya sebelum dicek denyut jantungnya. Shanum dan Mutia menunggu hasil laboratorium sembari melakukan konsultasi dengan dokter.
Beberapa saat kemudian, hasil laboratorium keluar. Raut wajah dokter yang menangani Shanum tampak kecewa.
"Apakah kata-kata saya tidak didengar? Apakah begitu sulit menjaga pola makan dan pola hidup sehat? Semua itu saya lakukan agar pasien-pasien saya segera sembuh."
"Kenapa saya sangat ingin pasien saya sembuh Semua itu karena tidak baik jika tubuh kita terlalu banyak menkonsumsi obat kimia. Sifat obat kimia hanya meredakan sakit, bukan mengobati."
"Mengobati sakit kanker itu cukup dengan pola hidup sehat dan mengkonsumsi makanan yang tidak bersifat karsinogen. Oleh karena itu, memasak juga harus diperhatikan tingkat kematangannya," jelas sang dokter.
Shanum dan Mutia mendengar penjelasan sang dokter dengan serius dan sesekali mengangguk paham.
"Hasil tes darah kembali memburuk. Apa ada konsumsi junk food atau makanan yang dibakar?" tanya sang dokter dan diangguki oleh Shanum, walaupun hanya sekali dia jajan di food court.
"Seberapa sering?"
"Hanya sekali, Dok. Itupun hanya sedikit yang dimakan," jawab Shanum dengan jujur.
"Bisa! Sangat bisa sekali. Sumber penyakit itu berasal dari pikiran dan perasaan. Jika pikiran kita tidak tenang atau terlalu stress, maka tubuh kita melepaskan hormon adrenalin dan kortisol."
"Kondisi ini membuat detak jantung dan tekanan darah meningkat. Pernapasan menjadi lebih cepat, serta otot menjadi tegang. Oleh karena itu, semua pasien dengan riwayat penyakit berat tidak boleh stress," jelas sang dokter.
"Memang Shanum mikirin apa?" celetuk Mutia memotong penjelasan dari dokter di depannya.
Shanum hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari sang kakak. Dia tidak mungkin bercerita tentang Bumi. Bukankah sejak dulu dia dilarang pacaran? Jadi, tidak mungkin dia menceritakan tentang kekasih hatinya yang telah menghadap Tuhan.
Shanum pun mengulas senyum tipisnya. Dia harus tetap tersenyum apapun yang terjadi. Seperti pesan dari laki-laki yang pernah memenuhi hatinya, bahkan sampai saat ini.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menanganinya, Shanum pun bertekad untuk sembuh. Menjalani pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sesuai anjuran dokter. Banyak istirahat dan masa bodoh dengan apa yang orang bilang.
__ADS_1
Hidupnya tidak bergantung pada orang-orang yang membicarakannya. Tetap berjalan ke depan tanpa perlu mendengar banyaknya cibiran yang ditujukan pada dia. Semua dihadapi dengan senyum.
Shanum mulai ikhlas melepas kepergian sang pujaan hati. Mencoba berdamai dengan hati sendiri. Untuk tidak merasa bersalah karena telah memutuskan hubungan dengan Bumi, sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
"Num, ke CN yuk!" ajak Elsa atau biasa disapa Ica, sepulang sekolah.
"Kapan?" tanya Shanum sembari menghalangi wajahnya dari panas matahari.
"Sekaranglah! Ya, masak dua tahun lagi?" jawab Ica kesal.
"CN yang mana, nih?"
"CN pusat aja, gue mau ketemu sama bang Dayu. Mau 'kan?"
"Boleh, sih. Tapi sebentar aja, jangan lama-lama! Gue mau kerjain tugas yang harus dikumpul besok," sahut Shanum sedikit ragu menolak.
"Iyaa, cuma sebentar kok. Lagian ngapain lama-lama di sana, nggak ada bang Ardi yang bisa digoda," jawab Ica meyakinkan.
"Lo suka sama bang Ardi?" tanya Shanum karena terkejut mendengar nama Ardi disebut.
Bagaimana tidak terkejut, selama mereka PKL Ardi begitu gencar mendekatinya. Bersaing dengan Dayu, tetapi tidak satupun diantara mereka yang mampu menaklukkan hati Shanum. Tanpa ada yang tahu, Shanum mulai terbiasa dengan perhatian dari Ardi.
"Ya, enggaklah! Kalau gue suka ma bang Ardi yang ada ntar Lo gorok leher gue," jawab Ica cengengesan.
"Nggak lucu! Mana ada gue gorok leher Lo? Emang gue algojo, tukang eksekusi orang?" sembur Shanum ketus.
Banyak yang mengira jika Shanum memilih Ardi sebagai kekasih. Padahal Ardi lebih memilih mundur karena Shanum menolaknya. Walaupun begitu, hubungan mereka berdua tetap baik, bak abang adik
"Eh, emangnya lo nggak pacaran sama bang Ardi?" tanya Ica penasaran dan hanya dijawab anggukan saja oleh Shanum.
__ADS_1
"Ishhhh, orang ganteng kek gitu kok ditolak. Postur tubuhnya juga bagus lho, padahal!" protes Ica.