Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 50


__ADS_3

Shanum membawa dua botol air mineral kemasan 600 ml dan beberapa bungkus jajanan. Kemudian meletakkan di tengah-tengah, antara Bumi dan dirinya.


"Minum, Kak!" ucap Shanum sambil membuka segel tutup botol, lalu menenggaknya begitu terbuka.


"Terima kasih," jawab Bumi singkat, dan tidak ditanggapi oleh Shanum.


Bumi merasakan ada aura kebencian dari Shanum padanya. Shanum yang dikenalnya dulu tidak sedingin sekarang. Shanum yang dulu hanya terlalu cuek dan tidak peka dengan sekitarnya. Sedangkan saat ini, Shanum lebih dingin dan jutek. Enam bulan tidak bertemu telah merubah seorang Shanum. Wanita pujaan hatinya itu tidak juga menunjukkan senyum manis. Dia tetap dingin dan angkuh.


"Num, kenapa kamu tiba-tiba memutuskan hubungan kita. Dua tahun, Num. Seharusnya kita bisa bertahan menghadapi badai. Apa salahku, sampai kamu tega memutuskan aku?" ucap Bumi sendu.


Hhhh ...


"Kita banyak perbedaan, Kak. Bukankah sudah Shanum jelaskan di surat itu. Apa tulisanku tidak jelas? Kok Kakak sampai harus bertanya lagi pada Shanum," sahut Shanum tanpa mau melihat ke arah Bumi, pandangan lurus ke depan, ke lapangan tenis yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Alasanmu terlalu dibuat-buat! Sejak awal kita tahu itu. Kenapa baru sekarang kamu permasalahkan?" Bumi tampak tidak terima dengan alasan Shanum memutuskannya


"Atau kamu sudah bertemu laki-laki lain? Sehingga kamu meninggalkan aku," tanya Bumi lagi.


"Laki-laki lain? Kalau aku mau, sudah sejak dulu aku lakukan, Kak. Sebenarnya pertanyaan itu lebih pantas ditujukan pada Kak Bumi. Kakak sudah mendapatkan penggantiku, makanya tidak ada waktu lagi untuk bertemu ataupun menyapa."


"Aku sadar diri, Kak. Aku hanya perempuan yatim piatu yang miskin dan penyakitan. Tidak pantas bersanding dengan Kakak yang anak seorang pengusaha sukses. Selain itu body dan wajah Kakak sangat memudahkan untuk mencari perempuan di luar sana. Kalau Kakak bosan, seharusnya Kakak beri kepastian pada Shanum. Shanum manusia yang masih punya perasaan. Bukan barang yang bisa dipermainkan oleh manusia."


"Berbulan-bulan Shanum menanti kabar, menunggu kedatangan Kakak. Tapi bukannya datang, Kakak malah memilih berjalan dengan perempuan lain. Siapa pun pasti memilih mundur teratur dari pada maju hancur..."


"Perempuan lain?" tanya Bumi lalu terdiam, mengingat perempuan mana yang pernah bersamanya selama ini. Beberapa menit kemudian, Bumi teringat dengan kejadian di gedung BCA.


"Kamu salah paham, Num! Dia bukan pengganti. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di sini," bantah Bumi, dia menunjukkan dadanya.

__ADS_1


Shanum berdecih mencibir.


"Hhhh ... Dia bukan pengganti karena memang dialah pemilik tempat itu, bukan aku," sahut Shanum cepat.


"Kamu salah, Num. Tidak ada yang memiliki tempat itu selain kamu. Dia itu anak teman mama yang kebetulan satu kampus sama aku," jelas Bumi frustasi, dia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kesalahpahaman ini pada Shanum.


"Sudahlah, Kak. Lebih baik kita jalan sendiri dulu. Introspeksi diri. Lagian Shanum juga harus PKL selama dia bulan. Tidak ada waktu untuk berpacaran," sahut Shanum cepat.


Bumi menghirup udara sepenuh dada kemudian menghembuskan napasnya kasar. Bumi benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Shanum yang keras kepala. Tidak mempercayainya, bahkan tidak mau mendengar penjelasannya. Sekarang dengan mudahnya Shanum mengajak introspeksi diri.


Bumi tahu semua kesalahan yang dilakukannya. Namun, tidak bisakah kesalahannya dimaafkan? Permintaan Shanum untuk tidak datang ke rumah, ditanggapi dengan benar-benar menghilang dari pandangan Shanum. Bahkan dirinya tidak pernah mencari tahu kabar kekasihnya itu.


Seandainya dia tetap meminta Bayu untuk mencari kabar tentang Shanum. Mungkin keadaannya tidak seperti sekarang. Kehilangan wanita yang sangat dicintainya, padahal rasa cinta itu masih ada.


"Maaf, Kak. Mungkin kita tidak berjodoh. Jalan yang kita tempuh berbeda. Sebaiknya kita berjalan sendiri agar tidak ribet karena berebut jalan mana yang akan dilalui. Sudah jelas beda jalan, mana bisa melangkah di jalan yang sama. Yang ada tidak akan pernah sampai tujuan karena memaksakan jalan yang sama dengan tujuan yang berbeda."


"Aku masih mencintaimu, Num. Sangat mencintai!"


"Shanum harap kita masih bisa berteman, Kak. Shanum benar-benar minta maaf karena telah mengecewakan Kakak. Semoga Kakak bahagia bersamanya," ucap Shanum dengan tulus .


🌼


Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Badan Shanum tiba-tiba demam tinggi, saking tingginya suhu tubuh itu, Shanum mengigau dalam tidurnya.


"Maaf, Kak. Hubungan ini harus berakhir, kita masih bisa menjadi teman 'kan?"


Mutia terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Shanum. Shanum terus meminta maaf pada Bumi.

__ADS_1


"Apa anak ini baru putus pacaran? Sepertinya dia tertekan," gumam Mutia pelan.


Mutia mencari obat penurun panas, dalam hatinya dia berharap semoga Shanum tidak apa-apa saat ini.


"Shanum ... bangun dulu, yuk! Minum obat," ucap Mutia sambil menarik tangan Shanum agar terbangun.


Shanum pun membuka matanya dan menurut saja apa kata kakaknya. Usai minum obat, Shanum tertidur pulas sampai pagi.


"Masih sakit? Kalau masih sakit tidak usah masuk sekolah, nanti biar Mbak yang mintakan ijin," tanya Mutia sembari menyentuh dahi Shanum dengan punggung tangannya.


"Sudah enakan kok, Mbak. Shanum bisa sekolah seperti biasa. Mbak Mut tenang saja, Shanum sehat kok," jawab Shanum dengan wajah tak sepucat tadi malam.


"Alhamdulillah! Kalau begitu kamu sarapan, habis itu minum obat terus berangkat sekolah," ucap Mutia yang diangguki oleh adiknya itu.


Shanum pun memakan sarapannya kemudian minum obat sebelum berangkat sekolah. Dia seperti biasa, ke sekolah naik angkutan dari depan gang rumahnya.


"Pagi, Cantik!" sapa Ipung saat melihat bidadarinya berdiri tak jauh darinya.


"Apaan sih, Pung! Kurang kerjaan banget deh," sembur Shanum ketus.


"Dipanggil cantik itu biasanya cewek itu seneng. Lha ini, langsung menyolot. Pasti ada yang nggak beres nih! Pagi-pagi sudah jutek aja, ntar cantiknya ilang lho. Kenapa? Ada apa? Ayok cerita!" cerocos Ipung tanpa rem.


"Diih!" sahut Shanum cuek.


Tak lama kemudian, angkutan umum yang mereka tunggu pun datang. Shanum masuk duluan, sedangkan Ipung tidak ikut masuk.


"Dagghhh Cantik!" teriak Ipung begitu angkutan kota itu mulai berjalan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Kok cowoknya ditinggal? Nanti diambil orang lho," celetuk seseorang yang duduk tidak jauh dari Shanum.


__ADS_2