
Seminggu lagi ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan. Akan tetapi, Shanum tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran. Bahkan di rumah pun dia juga tidak bisa belajar dengan benar. Dia selalu melamun memikirkan kata-kata Mutia. Bumi sedang sibuk mengurus daftar ulang kuliahnya. Sehingga Shanum dan Bumi tidak bisa bertemu sementara waktu.
Shanum berusaha keras agar bisa fokus belajar. Rasa kantuknya dia lawan dengan membasuh wajah setiap kali rasa kantuknya datang. Sehingga Shanum tetap belajar walau bagaimanapun keadaannya.
"Jangan terlalu keras pada tubuhmu, Sha! Dia belum bisa diajak kerja keras. Sayangi dirimu sendiri. Sekarang tidurlah, jangan paksa untuk belajar!" ucap mbak Mutia ketika mendapati Shanum mencuci muka demi menghilangkan rasa kantuknya.
Sejak saat itu, Shanum pun tidak begitu memaksakan diri untuk mendapatkan nilai bagus. Dia pasrah saja, berapa pun nilainya yang penting bisa naik kelas.
Akhirnya usai sudah ujian kenaikan kelas. Tadi adalah ujian terakhir dilaksanakan. Bumi sudah menunggu Shanum di depan pintu gerbang sekolah seperti biasa.
"Bagaimana ujiannya? Pasti bisa dong, pacar aku 'kan juara!" Bumi bertanya pada Shanum. Namun, pertanyaannya belum dijawab oleh Shanum sudah dijawab sendiri.
"Kakak ini apaan sih? Tanya tapi dijawab sendiri. Nggak jelas banget!" gerutu Shanum.
"Yakin aja, kalau kamu pasti bisa. Seperti waktu SMP, walaupun tidak sekolah hingga sebulan lebih tapi masih dapat predikat juara," sahut Bumi tersenyum.
"Beda, Kak! Dulu pelajaran masih gampang, sekarang susah semua. Banyak hafalan yang harus dipahami. Susah pokoknya!" bantah Shanum.
"Ke rumah, yuk! Mama katanya kangen berat sama kamu. Sudah lama gak ketemu kamu," ajak Bumi.
"Yee, kek sama siapa kok pakai kangen segala. Kenal juga baru aja. Kenapa tiba-tiba kangen? Penuh tanda tanya nih, si mama," jawab Shanum dengan bibir mengerucut sebagai tanda protes.
"Maklumlah! Dulu sewaktu bu Lelly masih ada 'kan kalian sering bertemu. Setelah bu Lelly nggak ada kamu jarang ketemu mama," jelas Bumi agar Shanum mau diajak ke rumahnya.
Akhirnya, mereka pun pulang ke kediaman pak Wardhana. Di rumah pak Wardhana, mama Anastasia sudah menunggu kedatangan Bumi dan Shanum. Tadi anak bungsunya itu berjanji akan membawa calon mantunya ke rumah.
"Siang, Tante," sapa Shanum begitu turun dari boncengan motor Bumi.
"Siang. Ayo masuk, biar adem!" sahut mama Anastasia sembari merangkul pundak Shanum.
"Mama tuh kangen banget sama kamu, Nduk! Sudah berapa bulan coba kita tidak bertemu?"ucap mama Anastasia masih memeluk pinggang Shanum.
__ADS_1
Shanum meringis menahan malu, karena perlakuan mama Anastasia yang begitu baik padanya.
"Ma, dia punyaku! Kenapa Mama ya mendominasi Shanum sih?" protes Bumi karena sejak tadi Shanum dikuasai sang mama.
"Enak aja punya kamu! Kapan kamu nikahi dia? Main ngaku-ngaku saja, kamu?"
"Sekarang juga bisa, Ma. Kalau Shanum mau," jawab Bumi dengan serius.
"Yakin Shanum mau? Keknya enggak deh, soalnya kamu itu kek kutub Utara. Terlalu dingin buat manusia. Hahaha!" ejek mama Anastasia.
Melihat kebahagiaan mama Anastasia dan kekasihnya yang sedang bercengkrama. Shanum pun jadi merindukan saat-saat bersama sang ibu. Baik ibu kandungnya maupun bu Lelly, sang ibu angkat.
"Mau 'kan, Num? Nikah sama aku," tanya Bumi tiba-tiba pada Shanum sehingga membuat wajah Shanum memerah seketika bak tomat masak.
"Masih kecil, sudah mikir nikah aja kamu, Bum!" tegur sang mama.
"Bumi 'kan sudah mampu, Ma! Bumi sudah dapat penghasilan, walaupun tidak sebanyak papa. Kalau untuk biaya hidup kami berdua cukuplah," ujar Bumi dengan sombongnya.
Ya, Bumi memiliki usaha sendiri. Sebuah toko buku kecil yang lengkap dengan mesin fotocopy dan rental komputer. Toko itu terletak di tempat yang strategis, sehingga selalu ramai oleh pembeli. Bahkan kini tokoh itu juga menyewakan buku untuk pelajar dan mahasiswa.
"Shanum masih ingin sekolah dan kuliah dulu, belum memikirkan menikah," jawab Shanum jujur.
Sebenarnya dia ingin menceritakan tentang larangan keluarganya. Namun, Shanum tidak ingin merusak suasana dalam rumah itu. Tidak mungkin dia mematahkan senyum seorang ibu. Nanti, Shanum akan menceritakan semuanya pada Bumi di saat hanya berdua.
"Tant..."
"Mama, panggil mama jangan tante lagi!" potong mama Anastasia dengan senyumnya.
"Tan eh Ma, Shanum mau pamit pulang. Nanti takutnya kakak sama bapak sudah menunggu. Shanum tidak ingin membuat mereka khawatir," pamit Shanum sembari meraih tangan mama Anastasia untuk dicium punggung tangannya.
"Kok, pulang? Padahal Mama sudah minta papa pulang bawa makanan. Ya udah deh, kalau kamu buru-buru. Lain kali kesini lagi, ya!"
__ADS_1
"Iya, Ma. Semoga Tuhan berbaik hati mengijinkan Shanum bertemu lagi dengan Mama dan papa dalam keadaan sehat."
Mama Anastasia dengan berat hati melepaskan Shanum pergi dari rumahnya. Hatinya mengatakan ini terakhir kalinya sang calon menantu idaman menginjakkan kaki di rumah ini.
🌼
"Kak, ada yang mau Shanum bicarakan soal kita," ucap Shanum lirih, masih ragu dengan keputusannya saat ini.
Shanum hanya berusaha ingin jujur saja. Tidak ingin mengecewakan sang kakak yang telah berjuang untuknya. Ditambah lagi keadaan sang ayah yang menyedihkan.
"Mau ngomong apa? Kita cari tempat yang enak buat ngobrol. Mau di alun-alun atau di taman GOR?" sahut Bumi penasaran.
"Terserah Kakak aja, dimana baiknya," jawab Shanum.
Bumi membelokkan motornya ke arah GOR, tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di GOR. Bumi mengajak ke pendopo taman dekat monumen perjuangan. Tempat itu masih ramai anak-anak sekolah yang sedang bersandau gurau. Banyak juga pedagang kaki lima di tempat itu.
Bumi membeli dua buah kelapa muda tanpa es untuk mereka berdua. Dia juga membeli beberapa bungkus roti untuk teman ngobrol nanti.
"Ada apa? Sepertinya serius," tanya Bumi sembari memberikan satu buah kelapa muda pada kekasih hati.
Shanum menerima kelapa muda tersebut, kemudian menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokan. Setelah itu, dia mengambil napas sepenuh dada dan membuang perlahan.
"Kakak janji, ya! Tidak akan marah setelah mendengar ini," pinta Shanum sebelum memulai ceritanya.
"Kenapa mesti janji sih? Kamu tahu sendiri aku nggak bisa marah sama kamu. Mana mungkin aku marah," sahut Bumi dengan entengnya.
"Kalau tidak mau berjanji, Shanum tidak mau ngomong!" ancam Shanum.
"Baiklah, janji tidak marah!"
Hhh...
__ADS_1
"Saat bapak dirawat di rumah sakit, Kakak sering ke rumah, jadi banyak tetangga yang melihat dan disampaikan ke mbak Mut. Mbak Mut marah dan kecewa. Dia ingin kita pisah," cerita Shanum akhirnya.
"Apa?"