
Bumi bingung dengan sikap Shanum yang sepertinya menjauh. Kekasihnya itu tidak seperti dulu lagi yang selalu ceria setiap kali berjumpa.
"Kamu kenapa, Num? Kenapa kamu tiba-tiba diam dan tak seceria dulu? Apa kamu sudah menemukan laki-laki lain sebagai penggantiku? Kalau memang sudah ada, aku akan mundur teratur. Asalkan kamu bahagia, aku rela..."
Bumi melewati hari dengan persepsinya sendiri, tanpa bertanya pada Shanum ataupun introspeksi diri. Dia memilih menyibukkan diri dengan menambah berbagai kegiatan. Salah satunya memperbesar usaha yang ada. Awalnya hanya menyewa bangunan kecil, sekarang sudah menyewa ruko.
Bumi semakin jarang menemui Shanum, dia sibuk kuliah dan mengurus usaha miliknya. Sebenarnya dia sangat merindukan sang kekasih. Namun, usahanya semakin ramai. Sehingga kini sudah ada tiga orang anggotanya untuk menjaga toko tersebut.
Shanum mengikuti pola makan sehat atas saran dokter. Tidak lupa dia juga rutin check up kesehatan setiap dua Minggu sekali. Sudah tiga bulan sejak tahun baru, Shanum dan Bumi tidak bertemu. Shanum percaya jika Bumi tidak akan berbuat macam-macam di kota Gudeg itu.
Setiap hari, Shanum membaca majalah Annida dan Ummi pemberian Mutia. Mutia sengaja memberikan majalah itu agar Shanum tidak merasa kesepian di rumah sendiri. Dari majalah itulah Shanum belajar banyak hal tentang wanita dalam sudut pandang ajaran agama orang tuanya.
"Num, ke Gramed yuk!" ajak Elsa setelah pulang sekolah, kebetulan hari ini pulang lebih cepat dari hari biasanya. Ada rapat guru dalam rangka mempersiapkan ujian akhir nasional.
Semenjak menjadi satu kelompok PKL, sekarang Shanum memiliki banyak teman. Tidak seperti sewaktu SMP yang selalu sendiri.
"Gramed yang mana, gedung BCA atau yang di mall?" Shanum menjawab pertanyaan Elsa dengan pertanyaan.
"Yang lengkap di mana?"
"Pusatnya! Di gedung BCA, tapi jauh dari sini. Bagaimana?"
"Naik angkot apa becak ke sananya?"
"Aku ngikut aja, yang penting nggak jalan!" sahut Shanum cepat.
"Ngangkot aja, yuk!" ajak Elsa. "Min, ikut yuk! Biar makin rame," lanjut Elsa menghadap ke arah Rumini.
"Es dawet, ya?"
"Iya!" Elsa menjeda ucapannya sejenak.
"Pakai duit Lo sendiri, tapi!" sambung Elsa kemudian diiringi tawa renyahnya.
__ADS_1
"Kampret Lo!"
"Jadi nggak, nih? Keburu panas! Kalau nggak jadi aku langsung pulang," teriak Shanum sembari meletakkan telapak tangannya di atas kepala.
"Eh, kalian mau jalan nggak ajak-ajak, ya!" teriak Anggi dan Kaka kompak.
"Ini, si Elsa ngajakin ke Gramed. Ikut?" sahut Shanum kalem.
"Ikut Ka?'' tanya Anggi pada Kaka dan langsung diangguki oleh gadis berambut keriting itu.
Akhirnya mereka berenam pergi ke gedung BCA. Luluk mengikuti dengan langkah terburu-buru dari belakang.
"Hebat ya, kalian! Jalan nggak ngajak gue, untung gue lihat jadi bisa ngejar kalian!" teriak Luluk ketika Shanum dan teman-temannya akan menaiki angkutan umum.
"Kalau mau tinggal gabung aja, ngapain nge gass!" jawab Rumini dengan santai.
"Kalian tega banget sih, ninggalin gue!" protes Luluk lebay.
"Dihh!" ucap Kaka sembari memutar bola matanya.
Akhirnya mereka semua terdiam saat di dalam kendaraan roda empat berwarna kuning itu. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di gedung BCA.
Mereka berpencar mencari buku sesuai keinginan. Namun, hanya Elsa dan Shanum yang akhirnya membeli buku. Anggi, Luluk, Rumini dan Kaka tidak jadi membeli dengan alasan belum butuh.
Shanum membeli sebuah Al Qur'an terbaru yang dilengkapi dengan CD cara belajar membaca Al Qur'an. Shanum bertekad untuk memperbaiki diri. Mengisi waktu luangnya untuk belajar lebih banyak hal tentang kehidupan.
Saat akan membayar, Elsa mencolek bahu Shanum.
"Num, Lo kenal gak sama cowok itu? Gue keknya pernah lihat cowok itu. Dimana ya?" tanya Elsa dengan suara pelan.
Shanum langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Elsa. Shanum terkesiap, raut wajahnya berubah seketika. Namun, dia langsung memasang wajah datar agar tidak ketahuan oleh Elsa, jika dia sedang risau.
"Kenapa memangnya dengan cowok itu?" tanya Shanum pura-pura tidak kenal dengan cowok itu.
__ADS_1
"Ganteng banget! Sudah itu dia perhatian banget sama pacarnya. Lihat ke sana, Num! Gue jadi pengen punya pacar kek dia," ucap Elsa dengan wajah berbinar melihat Bumi bersama seorang cewek.
Ya, laki-laki yang mereka lihat itu adalah Bumi. Pacar Shanum yang sudah lama tidak ada kabar beritanya. Tiba-tiba terlihat sedang berdua dengan seorang gadis dan terlihat mesra.
Ingin rasanya Shanum menangis di saat dan di tempat itu juga. Akan tetapi dia ingin menunjukkan pada semua, bahwa dia bisa tanpa Bumi. Mungkin Tuhan sedang memberikan petunjuk padanya, jika Bumi bukanlah yang terbaik untuknya.
"Cepet dikit jalannya, gue sudah laper banget nih!" ucap Shanum sembari berjalan cepat keluar dari toko buku itu.
"Iya, gue juga laper banget. Kita beli makan di mana?" Luluk menimpali.
"Warung lotek aja, yuk!" ajak Shanum.
Shanum selalu memilih makan lotek atau gado-gado jika makan di luar. Hanya makanan itu yang tidak mengandung penyedap berlebihan.
Akhirnya mereka membeli lotek yang ada di seberang jalan. Semua kompak memesan lotek dengan lontong dan minum es teh manis. Hanya Shanum yang memesan minuman berbeda, dia memesan wedang jeruk anget tanpa gula. Walaupun makan di luar, Shanum harus tetap melakukan diet.
Shanum melampiaskan kemarahannya pada makanan di piringnya. Hal itu mengundang perhatian teman-temannya.
"Num, Lo mau balas dendam pada siapa sih? Sampai begitunya makan lotek," celetuk Luluk dengan wajah serius.
"Hah?" Shanum bingung dengan arah pembicaraan Luluk yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Lo santai aja, makannya! Nggak bakalan kita tinggalin Lo kok." Rumini menimpali sambil menyendok lontong dan menyuapkannya ke mulut sendiri.
Shanum yang tersadar dengan arah pembicaraan teman-temannya itu pun merasa malu. Lalu dia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Hehehe, kek orang marah ya cara makan gue?" Shanum menyendok sayur di piringnya dengan pelan.
"Padahal selama ini Lo kalem kalau makan. Bahkan terkesan seperti putri keraton. Tapi hari ini Lo lain, makan Lo seperti orang yang hendak menghajar orang sampai babak belur," ucap Anggita keheranan.
"Sorry, gue laper banget! Tadi gue sudah bilang ya, kalau gue laper banget," sahut Shanum dengan alibinya.
"Eh, benar sih! Lo tadi bilang laper, tapi gak gitu juga kali makannya! Santai saja nikmati pelan-pelan biar kita tahu bagaimana rasa masakan Ibu warung." Kaka menimpali.
__ADS_1
"Udah, lanjut makannya. Jangan ngobrol lagi! Nanti kesedak pas makan cerita aja!" ucap Elsa dengan suara keras, sehingga mampu membuat teman-temannya terdiam dan melanjutkan makannya.