Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 59


__ADS_3

Shanum pergi ke sekolah seperti biasa, menggunakan angkutan umum. Di saat menunggu angkot datang, Shanum pergi ke telepon umum. Dia menghubungi Dewi, mengabarkan akan datang sepulang sekolah.


Kebetulan yang mengangkat telepon adalah Bayu karena tidak ada kuliah hari ini. Shanum pun mengatakan maksud kedatangannya nanti pada Bayu. Bayu pun menyambut gembira mendengar hal itu.


Hari ini ada rapat para guru di sekolah Shanum, maka semua murid dipulangkan lebih cepat dibandingkan dengan biasanya. Jam sepuluh pagi, Shanum sudah sampai di rumah Dewi dan Bayu.


"Hai, Kak! Dewi mana? Belum pulangkah?" sapa Shanum saat dirinya baru sampai.


"Dewi masih sekolah, Num! Masih pagi kok. Lo jam segini sudah sampai di sini. Cabut apa pulang?" jawab Bayu dengan pertanyaan.


"Kebetulan ada rapat guru jadi pulang cepet. Dewi belum pulang ya, Kak?" jawab Shanum.


Shanum melangkah mengikuti Bayu menuju gubuk kenangan. Sesampainya di gubuk itu, Shanum meneteskan air matanya. Dia teringat saat duduk-duduk bersama Bumi yang tidak mau jauh darinya.


"Jangan ditangisi, do'akan saja!" ucap Bayu tiba-tiba, mengagetkan Shanum.


Shanum pun seketika menghapus air matanya dan memaksakan senyumnya.


"Ng-nggak kok, Kak! Shanum nggak nangis, hanya kemasukan debu tadi," bantah Shanum tetapi hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Bayu.


"Ck, serah lo aja deh! Tumben ke sini, ada yang bisa gue bantu?"


Hening


Keduanya terdiam dengan pandangan entah. Shanum diam karena merasa segan pada Bayu. Sedangkan Bayu diam karena menunggu jawaban Shanum.


Akhirnya Bayu angkat bicara, tidak tega melihat kesedihan di mata kekasih sang sahabat. Walaupun Shanum menyatakan putus, toh Bumi tidak pernah menganggap Shanum mantan. Bagi sahabatnya, wanita yang kini berada di depan dia adalah kekasih.


"Kalau lo diem begini, gue nggak tahu apa yang lo mau!" ucap Bayu seraya menghembuskan napas dengan kasar. "Lo mau ke makam Bumi atau ke rumah orang tuanya? Gue akan temenin lo, kemana pun lo mau!"

__ADS_1


Ya, Bumi telah menitipkan Shanum pada Bayu, sehari sebelum dia pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Bayu pun menyanggupi hanya sebatas menolong Shanum, tidak lebih.


"Hmm, kalau kedua-duanya boleh?" tanya Shanum sembari memainkan jari jemarinya.


"Siiapp! Ayo berangkat keburu panas," jawab Bayu tegas.


Mereka pun berangkat dengan menggunakan motor Bayu. Bumi dan Bayu adalah type cowok yang lebih memilih motor dari pada mobil. Lebih cepat dan bebas macet. (Kek ayang othor gabut nih, paling males bawa mobil. Padahal tingkat keamanan 'kan lebih baik mobil. Alasannya, naik motor itu enak buat nyalip kalau macet🤦)


Bayu membawa ke Shanum ke tempat peristirahatan terakhir Bumi. Bau dupa menyambut kedatangan keduanya di pemakaman itu. Bayu terus melangkah masuk dan berhenti di sebuah nisan yang masih baru dengan nama Rafael Bumi Wardhana.


Betapa terkejutnya Shanum ketika ditunjukkan nisan Bumi. Nisan itu adalah nisan yang tempo hari sangat ingin dia kunjungi. Tubuh Shanum langsung luruh ke tanah, bersimpuh memeluk nisan baru tersebut.


Air mata Shanum mengalir begitu derasnya. Shanum menangis sesenggukan hingga tidak bisa berbicara. Dia terus menangis sembari memeluk nisan sang kekasih.


Bayu hanya bisa melihat pemandangan di depannya dengan dada sesak. Dia membiarkan Shanum menumpahkan perasaannya. Lelaki usia 20 tahun itu hanya berdiri sambil memegang payung untuk Shanum.


Satu jam kemudian, mereka telah sampai di kediaman Wardhana. Suasana berkabung masih menyelimuti rumah besar itu. Semua masih berbalut warna putih, bahkan penghuni rumah itu pun masih mengenakan baju putih.


"Walaupun anak kami sudah tiada, tetaplah memanggil Mama. Satu lagi, Bumi hanya ingin melihat senyum kita. Jadi, jangan pernah menangis lagi!" Mama Anastasia mengusap air mata, yang ternyata belum berhenti menetes di pipi Shanum.


Shanum pun mengangguk sembari memaksakan senyumnya. Namun, air mata itu masih mengalir di pipi putih itu. Lalu, Shanum mengusapnya dengan kasar.


"Maaf ...." kata Shanum dengan suara tercekat, tidak bisa melanjutkan lagi kata-katanya.


Mama Anastasia memeluk gadis yang terlihat kuat namun rapuh itu. Air mata mereka tumpah begitu derasnya, seperti tiada habisnya.


"Ini adalah air mata terakhir kita untuk Bumi. Mama harap kamu bisa menjalani kehidupan dengan senyuman. Ok?" tutur mama Anastasia tanpa bisa dibantah. "Berjanjilah!"


"I-iya, Ma. Shanum janji," jawab Shanum terbata karena kembali sesenggukan.

__ADS_1


Mama Anastasia mengajak mereka untuk duduk di ruang keluarga. Ruangan itu terdapat foto Bumi yang sangat besar. Di depannya terdapat dupa yang dibakar dan sesajian komplit.


"Bumi, Shanum datang, Nak. Dia baik-baik saja, bukan? Sekarang kamu harus tenang di surga, jangan memikirkan kami lagi," ucap mama Anna tiba-tiba sambil berdiri di depan foto Bumi.


Hampir saja Shanum kembali meneteskan air mata, teringat pesan Bumi yang tadi disampaikan oleh mama Anna. Shanum pun akhirnya tersenyum menatap foto Bumi.


Setelah sesi obrolan mama Anna dengan foto Bumi. Mereka melanjutkan obrolan sambil duduk menikmati cemilan. Mama Anna bercerita tentang Bumi pada Shanum.


Jam dua siang, Shanum pamit pulang. Sebelum pulang, Shanum berpapasan dengan Satria. Mereka saling menatap dalam diam. Tampak kekecewaan yang begitu mendalam di mata Satria.


Shanum menyapa dengan senyum pada lelaki yang pernah mengejar cintanya itu. Satria melengos membuang muka dan berjalan dengan cepat meninggalkan Shanum dan Bayu.


Bayu menepuk bahu Shanum pelan, memberi semangat pada wanita kekasih sang sahabat. Sudah menjadi tugas Bayu saat ini, memastikan Shanum baik-baik saja.


Bayu pun mengantar pulang Shanum sampai ke tempat biasanya Bumi mengantar.


"Ada yang mau aku ceritakan tentang keluh kesah Bumi sebelum dia drop. Kapan kamu ada waktu luang untuk mendengar tanpa air mata?" ucap Bayu sebelum meninggalkan Shanum. "Bumi tidak ingin melihatmu menangis. Jangan menangis lagi karena dia!"


Shanum menjawab dengan senyuman dan anggukan. Beberapa saat keduanya terdiam.


"Nanti Shanum hubungi Kak Bayu. Bagaimana?" ucap Shanum tiba-tiba memecah keheningan.


"Ok, gue tunggu! Semoga pas jam kuliah kosong," jawab Bayu mengangguk, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Shanum.


Beberapa hari kemudian, Shanum kembali menghubungi Bayu. Dia sudah siap mendengar cerita dari Bayu tentang pesan terakhir laki-laki yang memenuhi hatinya.


Bayu sengaja menjemput Shanum di sekolah, untuk mempercepat waktu. Bayu mengajak pulang ke rumahnya. Agar tidak menimbulkan fitnah dan salah paham orang lain.


Ternyata Dewi sudah menunggu Bayu dan Shanum di gubuk base camp mereka. Di gubuk itu sudah tersaji minuman dan cemilan. Bayu langsung bercerita tanpa menunggu lama.

__ADS_1


Bayu bercerita bagaimana in Bumi ingin melihat Shanum bahagia. Air mata Shanum adalah kesedihannya. Begitu besarnya cinta Bumi pada Shanum sehingga rela melakukan apapun demi melihat Shanum tersenyum bahagia.


__ADS_2