
Bumi sudah tidak pergi ke sekolah, saat ini dia menunggu pengumuman kelulusan. Hari ini, Bumi menjemput dan mengantar Shanum pulang. Menemani Shanum beberapa saat, sebelum akhirnya sang kekasih harus tidur setelah minum obat siangnya. Hal ini dikarenakan, pak Yanto masih dirawat di rumah sakit.
"Num, sekali-kali kita jalan yuk! Yang dekat-dekat sini aja, usah jauh-jauh," ajak Bumi saat mengantar Shanum pulang.
"Mau ngapain sih, Kak. Orang setiap hari juga ketemu, ngapain juga jalan. Capek, Kak! Shanum nggak bisa capek," sahut Shanum tidak peka.
Bumi memberanikan dirinya menarik tangan Shanum dan meletakkan tangannya di pinggang. Bumi tetap memegang tangan Shanum dengan tangan kirinya, tangan kanan memegang stang motor. Shanum selalu menarik tangannya karena malu.
"Lepas, Kak! Malu dilihat orang banyak," ucap Shanum tepat di daun telinga sebelah kanan. Keduanya tidak memakai helm.( Jangan ditiru ya guys!)
"Kita nggak kenal mereka, ngapain malu. Sudah diam! Tetap begini sampai rumah!"
Jantung keduanya sama-sama serasa ingin melompat keluar. Detak jantung keduanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Seandainya telinga ditempelkan di dada, sudah pasti terdengar jelas.
"Masak kita di rumah saja, Num. Cari suasana baru gitu, refreshing istilah kerennya! Lagian kamu sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Biar nggak tegang pas ujian. Itu sih kalau kamu mau," rayu Bumi agar Shanum mau diajak jalan.
Bumi mengajak Shanum jalan bukan tanpa alasan. Dia selalu diejek oleh Bayu setiap kali pulang dari rumah Shanum.
"Bokap Lo kaya, uang jajan Lo juga banyak! Masak bawa cewek keluar jalan-jalan nggak pernah. Jadi cowok itu jangan kelewat pelit, biar nggak ditinggal ma cewek Lo!" ejek Bayu suatu hari, sehingga Bumi pun memberanikan diri, mengajak Shanum keluar.
"Mau jalan kemana emangnya, Kak? Jangan jauh-jauh, Shanum tidak bisa kecapekan soalnya!" ucap Shanum akhirnya, setelah terdiam beberapa saat.
Senyum Bumi langsung mengembang mendengar kata-kata Shanum baru saja. Hatinya sungguh bahagia karena ajakannya diterima.
"Hmm, ke Rawa Jimbung mau nggak?"
"Ngapain ke sana? Bulus aja dilihat, males!" celetuk Shanum spontan.
Bulus \= sejenis kura-kura.
"Kan, gak cuma bulus aja di sana? Kita naik bukit, lihat pemandangan dari atas bukit. Di atas bukit 'kan ada tamannya juga. Bagaimana?"
__ADS_1
"Yaa, naik! Pasti capek banget deh, jalan ke atas bukit," keluh Shanum lesu.
"Nanti aku gendong kalau capek," sahut Bumi cepat.
"Yee, mana boleh begitu? Kalau kita sama-sama capek, yang ada nanti langsung menggelinding berdua dari atas bukit hingga ke dasar jurang," bantah Shanum.
"Jangan dong! Masak kamu mau kita berdua jatuh ke jurang sih?" protes Bumi.
"Ya enggak 'lah! Makanya nggak usah main gendong-gendongan, biar nggak jatuh."
"Katanya kamu capek, kalau kamu capek ya aku gendonglah. Biar gak capek lagi," sahut Bumi sembari tertawa kecil.
"Pokoknya aku nggak mau digendong! Takut jatuh tahu nggak, apalagi kalau di bukit jalannya nanjak ke atas. Hiii... serem kalau lihat bawah!"
"Ya, jangan lihat bawah! Lihatin aku aja atau lihat jalan depan. Bagaimana?" cetus Bumi dengan suara agak keras.
"Aku gendong kamu ya? Mau ya? Ya!" imbuh Bumi.
Keduanya terdiam setelah saling mempertahankan pendapatnya masing-masing. Menahan kekesalan karena merasa sudah paling benar menurut pribadi mereka. Padahal itu hanya sebatas hayalan.
"Lah... kok kita malah berantem gara-gara sesuatu yang belum terjadi sih?" tanya Bumi begitu tersadar pembicaraan mereka melantur.
"Hahaha... habis terbawa suasana, Kak," jawab Shanum sambil tertawa.
"Mau mampir atau langsung?" tanya Shanum begitu motor Bumi berhenti di bawah pohon jambu air, di halaman rumah Pak Yanto.
Bumi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sejenak. Masih menunjukkan jam dua siang. Lalu Bumi turun dari motornya.
"Mampir sebentar boleh 'kan?" tanya Bumi seraya mengulum senyum.
"Mau di sini aja atau masuk?" tanya Shanum lagi.
__ADS_1
"Enakan di sini keknya! Duduk di bawah pohon siang hari 'kan lebih enak, ditiup angin sepoi-sepoi," sahut Bumi
"Ya, udah deh. Shanum ke dalam dulu, Kak," balas Shanum akhirnya, sebelum meninggalkan Bumi.
Shanum masuk ke rumah setelah membuka sepatunya dan meletakkan di rak sudut teras. Ya, rumah pak Yanto berbeda dengan rumah tetangganya. Sebagian besar rumah di daerah itu memiliki teras, hanya bedanya hanya teras rumah pak Yanto yang berlantaikan keramik. Sehingga, di teras disediakan rak sepatu untuk tempat alas kaki ketika dilepas.
Beberapa menit kemudian, Shanum sudah kembali lagi dengan pakaian rumahan. Sebuah celana panjang sampai betis dan kaos oblong, adalah pakaian kebesaran Shanum setiap harinya jika di rumah.
Shanum membawa air putih hangat dua gelas juga cemilan yang ada di toples meja makan. Kue bawang yang dibeli di warung tetangga.
"Minum dulu, Kak!" ucap Shanum sembari meletakkan nampan di bangku.
"Iya, terima kasih ya," balas Bumi dengan senyum manisnya menghiasi bibir.
"Kakak sudah lapar belum? Makan, yuk! Tapi lauknya hanya sambal teri," ucap Shanum sambil meringis menampakkan deretan gigi putihnya.
"Di dekat sini ada yang jualan sayur masak atau bakso gitu?" tanya Bumi, bukan tidak mau makan dengan lauk sambal teri. Akan tetapi, dia hanya segan meminta makan di rumah Shanum.
"Nggak ada, Kak. Yang ada di sini cuma warung mie ayam aja. Mau? Biar Shanum beliin," jawab Shanum seraya duduk di sebelah Bumi.
"Aku beli sendiri aja! Kamu antar, ya?"
"Hehehe..." Shanum menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung mau jawab apa. Jika Shanum mengantar Bumi pasti akan banyak gosip yang menyebar dengan cepat.
"Hmm, begini saja deh. Aku kasih denahnya aja, Kakak ke sana sendiri. Dekat kok, nggak begitu jauh," ucap Shanum, merasa tidak enak pada Bumi.
"Kenapa tidak mau antar? Malu jalan sama aku?" cerca Bumi sedikit kesal.
Shanum menunduk sedih, dia tidak mau bukan karena malu pergi berdua dengan Bumi. Hanya saja, Shanum tidak ingin ada gosip miring menerpanya. Apalagi dua orang kakaknya belum menikah. Dia hanya ingin menjaga nama baik keluarganya saja. Jangan sampai saat sang ayah dirawat di rumah sakit, ada gosip yang akan menambah parah sakit ayahnya.
Shanum menegakkan kepalanya setelah beberapa saat berpikir. Dia harus jujur agar tidak ada salah paham di antara mereka.
__ADS_1
"Shanum tidak pernah merasa malu jalan sama Kak Bumi. Hanya saja, di sini perkampungan yang padat penduduk. Setiap gerak-gerik kita menjadi sorotan tetangga. Shanum tidak ingin ada gosip miring saja, Kak. Jadi, mohon Kakak bisa mengerti," jelas Shanum.