
Tubuh Shanum seperti kehilangan tulangnya. Badannya terasa lemas mendengar kabar meninggalnya sang pujaan hati. Syok itu sudah pasti. Namun, dia harus menutupinya karena tidak banyak yang tahu hubungannya dengan Bumi.
"Kak Bumi Wardhana?" tanya Shanum lemas.
"Iyaa, adiknya si begundal Satria. Dia meninggal sudah dua Minggu-an ini 'kan?" sahut Lucya.
"Mm, sorry ya. Kalian bisa sekalian pesenin nggak? Kaki ini rasanya lemas sekali, entah kenapa tiba-tiba kok kek gini," ucap Shanum dengan wajah memelas, wajahnya juga tampak memucat.
Bagaimana tidak memucat? Shanum begitu syok mendengar kabar meninggalnya orang yang sangat dicintainya. Kita sebagai manusia biasa pasti merasa sangat kehilangan, apalagi orang itulah yang memenuhi hati dan pikiran.
"Siippp!"
Shanum langsung duduk di kursi yang tidak jauh darinya, kebetulan mereka sudah sampai di tempat tujuan. Badan Shanum tiba-tiba panas dingin tidak karuan. Bahkan kakinya serasa tidak memijak tanah.
Shanum menahan tangis di depan teman-temannya. Dadanya terasa sesak menahan air mata agar tidak tumpah. Kenapa dia mendengar kabar di saat yang tidak tepat?
Rasa-rasanya dia tidak ingin mempercayai ucapan kedua teman sekelas sewaktu SMP dulu. Bumi tidak pernah mengeluh sakit kenapa tiba-tiba meninggal? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran Shanum.
"Num, mau makan apa? Bengong aja!" teriak Lucya kesal karena sejak tadi Shanum hanya diam tanpa mau beranjak.
"Ehh, jeruk anget sama tela-tela original. Ini duitnya," jawab Shanum sambil menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru.
"Ok, ditunggu!" ucap Lucya bak pelayan restoran.
Tak lama kemudian kedua temannya itu datang dengan membawa pesanan mereka.
"Kalian yakin kalau yang meninggal itu kak Bumi?" tanya Shanum memastikan pendengarannya.
"Iyaa, masak gue bohong! Gue datang ke rumahnya kok, mamanya aja bolak-balik pingsan. Pokoknya nangis deh kalau lo datang!" jawab Lucya.
__ADS_1
"Sakit apa memang kak Bumi? Kok mendadak begitu meninggalnya," tanya Shanum lagi, dia ingin tahu apa penyebab kematian laki-laki yang telah memenuhi hatinya itu.
"Leukimia, katanya sih sudah lama sakitnya. Cuma baru ketahuan, terus tak lama kemudian meninggal. Sempat dirawat inap juga selama dua Minggu," papar Lucya sambil sesekali menyuap makanan ke mulutnya.
"Oo, pantas saja sewaktu reuni dia tampak pucat sekali," ceplos Shanum begitu saja.
"Hah? Lo sampai segitunya merhatiin cowok. Kalian pacaran?" jerit Lucya yang langsung dibekap mulutnya oleh Shanum.
"Masak Lo nggak tahu sih, Lus? Dia 'kan memang pacar kak Bumi. Banyak yang ngelihat mereka pelukan di depan goa Maria," ucap Retha membongkar rahasia Shanum.
"Bukan! Gue sama kak Bumi sudah lama putus. Kemarin pas reuni hanya ngobrol biasa aja kok," elak Shanum tidak mau mengaku.
"Mana ada obrolan biasa pakai acara peluk-pelukan? Kalau tidak ada hubungan apa-apa tidak mungkinlah cowok cewek pelukan!" sangkal Retha tak percaya.
Shanum pun menunduk sedih. Dia dan Bumi memang sudah tidak memiliki hubungan apapun. Akan tetapi, rasa cinta itu masih ada di hatinya. Hubungannya dengan keluarga Bumi juga sudah renggang sebelum mereka putus.
Mereka bertiga diam karena Shanum tidak mau menyangkal ataupun membenarkan ucapan Retha. Kedua teman Shanum itu tahu bagaimana perasaan Shanum saat ini. Jadi mereka memilih ikut diam menikmati makanan di atas meja.
"Shanum pulang, yuk!" panggil Mutia dengan menenteng tas belanjaan.
Shanum pun melihat ke arah teman-temannya tanda hendak pamit. Kedua temannya melirik jajanan yang dibelinya pun masih tersisa banyak. Jeruk anget dan tela-telanya cuma dicicip saja, tidak dimakan.
"Belum habis, Mbaakkkk ...." rajuk Shanum sembari memperlihatkan gelas dan makanan menggunakan kemasan karton.
Mbak Mutia menggelengkan kepalanya dan membuang napas kasar melihat sang adik.
"Tadi baru saja dari dokter. Sekarang sudah lupa apa yang dibilang oleh dokter? Kamu mau sakit lagi?" omel Mutia kesal.
"Maaf, Mbak. Ini original semua kok, tanya saja ke mereka. Air jeruk ini tanpa tambahan gula atau pemanis lainnya. Terus, ini juga rasa original kok. Tanpa penyedap rasa!" sahut Shanum membela diri seraya menyerahkan apa yang dikonsumsinya tadi pada sang kakak.
__ADS_1
Mutia pun mencicip jajanan Shanum, untuk mengecek rasa makanan dan minuman itu. Kemudian menyerahkan lagi pada Shanum.
Hhh ....
"Air jeruk boleh dikonsumsi, soalnya tanpa pemanis. Kalau tela-telanya apa bisa kalian bisa menjamin minyak yang dipakai bukan minyak bekas atau baru sekali pakai? Pokoknya aku tidak mau tahu, jangan sampai besok aku melihat lagi makanan seperti ini! Jangan banyak alasan! Kesehatan itu tetap yang utama." Mutia menasehati Shanum panjang dan lebar. Mutia tidak ingin usaha yang dilakukan sia-sia karena Shanum bandel.
"Iya, maaf. Sha nggak akan ngulang beli jajan kek gini lagi," ucap Shanum lirih dengan kepala tertunduk merasa bersalah.
Walau bagaimanapun juga Mutia sudah berusaha agar sakit Shanum sembuh. Sebagai bentuk rasa terima kasihnya, Shanum hanya perlu menurut semua anjuran dokter. Mutia tahu itu tidaklah gampang, apalagi usia Shanum masih labil.
Usia dimana anak-anak semakin penasaran dengan hal-hal baru. Sehingga mereka akan mencoba hal-hal baru itu, tanpa mereka tahu bahaya dibalik itu semua. Mutia hanya tidak ingin Shanum terbawa pergaulan anak jaman sekarang.
"Duluan, ya!" pamit Shanum pada kedua temannya, kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Iya, kapan-kapan kita bisa ketemu dan ngobrol lagi," sahut Retha.
Pagi-pagi sekali Shanum sudah terbangun. Padahal biasanya dia akan bangun usai Mutia melakukan shalat subuh. Mutia yang hendak membangunkan adiknya pun menjadi urung karena sang adik sudah duduk di atas ranjang.
Shanum tidak bisa tidur karena memikirkan Bumi. Dia belum bisa menerima jika sang pujaan hati sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Shanum berharap meninggalnya Bumi hanya kabar angin.
"Tumben, Sha sudah bangun?" tanya sang kakak.
"Nggak bisa tidur, Mbak," sahut Shanum sambil menguap.
"Sebentar lagi adzan Subuh, ayo bersihkan dirimu!" perintah Mutia mutlak.
Shanum pun bangkit dari duduknya, lalu bergegas ke kamar mandi. Usai bebersih Shanum pun mulai menunaikan ibadah. Berkomunikasi dengan sang pemilik raga, mengadukan segala keluh kesahnya
Dalam do'anya, Shanum menyebut nama Bumi. Agar diampuni segala dosa dan ditempatkan di surga-Nya. Tak lupa dia pun memohon ampun atas segala salah dan dosanya.
__ADS_1
Shanum berdo'a dengan air mata bercucuran. Mengingat saat-saat bersama Bumi, juga mengingat begitu banyak salahnya pada Bumi.
"Ya Allah, masih pantaskah aku mendapat pengampunanMu? Begitu banyak salah dan dosa yang aku lakukan. Ya Allah, aku telah menyakiti hati makhlukMu hingga saat Engkau memanggilnya aku belum sempat meminta maaf. Sampaikan permintaan maafku padanya dan ampunilah dia atas segala dosanya. Aammiin"