Sepupuku suamiku

Sepupuku suamiku
CEMBURU


__ADS_3

"Dia siapa, Adis?"


 


Suara bas itu memecah hening saat aku tengah menikmati waktu bermain ayunan di belakang rumah Uwak. Sebutan bagi kakak perempuan mendiang ibuku yang sering kukunjungi.


 


Aku menghentikan ayunan. Lalu menanti pemilik suara bas itu mendekati. Dia mengulurkan layar pipih kemudian menunjuk seseorang yang berpose bersamaku dua hari lalu, di sebuah tempat makan.


 


"Oh, itu Randa, Bang," sahutku setelah memastikan sosok yang dia maksudkan.


 


"Ada hubungan apa kamu sama dia?" todongnya lagi.


"Cuman teman,"


"Tapi kenapa kalian tampak seakrab ini?" cecarnya lagi.


Sejenak aku megerutkan dahi. Ini bukan untuk pertama kali Bang Danil menginterogasiku. Hal ini selalu terjadi tiap kali dia melihatku dekat dengan lelaki lain.


"Kenapa, sih, Bang? Bawel amat? Dia teman Adis. Wajarlah kalau akrab."


Aku bangkit kemudian beranjak menuju ke dalam rumah. Hendak balik masuk kamar. Namun laki berbadan tegap itu menghadangku.


 


"Jelasin sama abang, kamu sama dia punya hubungan apa?"


 


Aku menarik napas kesal. Ingin rasanya kudorong tubuhnya sampai jatuh terjerembab di tanah. Namun aku masih menghargainya.


 


"Ikut abang!"


 


Dia menarikku paksa ke halaman tempat mobil hitamnya terparkir. Kemudian meyuruhku masuk. Aku hanya menurut mengikuti maunya.


 

__ADS_1


Mobil berjalan keluar dari pagar, perlahan membelah jalan Sudirman menuju Singosari. Sepanjang jalan kulihat gerahammnya mengeras kaku. Tanda bahwa dia tengah menahan emosi.


Mobil akhirnya berhenti di sebuah taman yang tak terlalu ramai. Bang Danil membukakanku pintu. Lalu menggandengku duduk di alun\-alun. Sekitar kami lumayan sepi. Hanya ada satu dua muda\-mudi yang lewat.


 


"Abang nggak suka kamu dekat sama laki-laki itu, Adis!" tegasnya memulai percakapan, menghadirkan suasana menegangkan antara kami.


"Abang kenapa, sih? Semua aja dilarang. Abang selalu larang aku dekat sama laki-laki lain. Padahal kami hanya temenan, nggak lebih."


Aku mulai melancarkan penolakan.


"Tentu abang marah. Kamu itu milik abang, Adis! Cuman abang yang boleh dekat sama kamu!"


Dia menatapku penuh emosi.


"Abang egois tahu, nggak?!" balasku kesal. Dia selalu mendahulukan keinginannya.


 


"Wajar abang egois, itu karena abang nggak mau milik abang diganggu orang. Kamu itu istri abang, Adis!"


 


"Iya, istri yang dinikahi paksa. Aku nggak pernah setuju sama pernikahan kita ini. Abang kelewatan tahu, nggak?!" serangku emosi.


"Abang udah maksain kemauan abang. Abang nikahin aku saat aku masih sekolah. Alasan abang karena nggak mau ada yang ganggu aku. Kalau abang merasa sayang sama aku, harusnya nggak gini, Bang! Kita sepupuan! Aku udah nganggap abang itu abang kandungku sejak kecil."


Dia sejenak terdiam. Aku tak bermaksud membantah lelaki yang telah menikahiku ini. Lelaki yang kusayangi bahkan semenjak aku masih kecil. Lelaki yang kuanggap kakak kandungku sendiri. Dia sepupuku, anak dari pamanku, saudara lelaki mendiang ibu.


 


Tak kutampik aku selalu bergantung padanya dari kecil. Menempelinya kemana pun ia pergi. Tapi bukan untuk dia nikahi.


 


Pernikahan kami bagiku adalah sebuah kekeliruan. Bagaimana bisa kurubah perasaan sayang antara kakak-adik menjadi suami istri? Bagaimana bisa aku bersikap layaknya istri pada abangku sendiri?


 


"Jadi kamu menyesal sudah jadi istri abang?!"


 


Pertanyaan itu menohokku. Bukan seperti itu maksudku. Aku memang tak ingin jadi istrinya dulu, tapi tak berarti aku rela dia meninggalkanku.

__ADS_1


Aku diam tanpa tau harus berucap apa. Sementara di hadapanku wajah Bang Danil sudah memerah.


"Jadi apa maumu, Adis?!" tantangnya.


Aku masih terdiam. Mataku sedari tadi sudah berkaca-kaca. Bang Danil belum pernah semarah ini padaku. Biasanya dia selalu bersikap lembut dan hangat.


 


"Apa kamu mau kita berpisah?"


 


Aku tersentak. Apa maksudnya? Dia mau meninggalkanku?


"Apa maksud abang? Abang mau ninggalin aku?" tanyaku dengan bibir bergetar.


Bang Danil tak bereaksi sedikitpun. Sikapnya mendadak dingin. Inikah bentuk dari kekecewaannya padaku? Atau dia justru punya pilihan lain selain aku?


 


"Apa abang punya wanita lain di luar sana?" tanyaku pelan. Dia masih bungkam.


 


"Ayo kita pulang!" serunya kemudian tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.


Pertanyaanku masih mengambang tanpa jawaban. Aku mengikutinya ke parkiran. Memasuki mobil dengan perasaan campur aduk.


 


Bang Danil tak lagi berkata sepatah pun. Dia hanya diam menjalankan mobil dengan wajah sedingin es. Bersikap seakan di mobil ini hanya dia sendiri. Tak sekalipun dia menoleh ke arahku. Bahkan sampai di rumah kami pun, sikapnya masih tetap kaku. Diam membisu.


Aku menaiki kamar tanpa keinginan untuk bicara. Suasana antara kami memang sedang tidak tepat untuk buka suara. Kupilih mendiamkan saja Bang Danil tanpa lagi bertanya apa\-apa.


Usai membersihkan diri, kulihat bang Danil sudah berbaring membelakangi. Ini tak pernah dia lakukan semenjak awal pernikahan kami.


 


Tentu aku bertanya-tanya. Benarkah ini karena perasaan kecewa dan cemburunya. Ataukah dia memang tengah memikirkan wanita lain. Apa sebenarnya yang terjadi antara kami? Bagaimana kelanjutan rumah tangga ini?


 



 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2