
"Yank, apa sikap kamu sama Vina nggak keterlaluan?" tanyaku hati-hati. Aku takut Bang Danil tersinggung.
"Orang seperti mereka itu pantas diberi pelajaran. Tak punya malu!" jawabnya dengan geraham bergerak-gerak seperti menahan geram.
"Emang nggak apa-apa?" tanyaku lagi, sedikit khawatir. Aku takut Vina dendam dan melakukan hal aneh.
"Ya nggak apa-apa. Masih untung kita mau peduli. Harusnya dari awal diusir saja biar kapok!" serunya lagi masih dengan nada kesal.
Aku paham perasaan suamiku atas perlakuan Vina dan ibunya di masa lalu. Namun, apa perlu dibalas dengan mempermalukan seperti tadi?
"Kamu kenal abang dari kecil. Tentunya kamu paham sekali bahwa abang bukan tipe orang yang gampang emosi apalagi dendam. Cuman apa yang Vina dan ibunya lakukan terhadap kamu nggak bisa gitu aja abang lupakan. Mereka menfitnah kamu sampai rela membayar orang untuk ngaku-ngaku jadi pacar kamu."
Ya, aku ingat semua itu. Sakit memang. Bahkan ingin rasanya kucakar muka mereka andai aku tak ingat bahwa mereka itu masih kerabatku juga. Aku hanya bisa menangis saat itu. Bang Danillah yang sibuk membelaku dan membuktikan pada keluarga besar bahwa aku tak bersalah. Semua yang dituduhkan hanya omong kosong dan fitnah.
Berkat kegigihan Bang Danil, semua bukti terkumpul. Mereka tak mampu mengelak lagi saat Bang Danil memaksa laki-laki bayaran itu mengaku bahwa dia hanya disuruh demi mendapat bayaran.
Namun, Vina dan ibunya tak merasa bersalah apalagi minta maaf. Justru mereka mengancam tak menganggap Bang Danil keluarga lagi andai tetap menikah denganku.
Bang Danil tak peduli, karena hanya mereka yang tak setuju. Sisanya mendukung dan memberi restu.
"Yank, siang nanti mampir ke toko, nggak?" Kucoba mengalihkan perhatiannya.
"Kayaknya siang ini kita makan masing-masing. Ada meeting penting dengan klien dari Bali, jadi mau tak mau nanti kami akan makan siang bersama."
"Ya udah kalau gitu, aku makan bareng anak-anak aja. Pulang bareng tapi ya?"
"Iya, Sayang!" Dia mengusap kepalaku.
Akhirnya aku sampai di toko. Setelah mencium tangannya dan mendapatkan kecupan di dahi, aku beranjak turun. Melambaikan tangan pada mobilnya yang berlalu menuju kantornya.
...
"Hai, Adis!" sapa sebuah suara saat aku tengah mencari referensi model horden yang baru dari situs luar negeri.
"Hai, Yudi! Tumben mampir!" sambutku sedikit terkejut atas kehadirannya yang tiba-tiba.
"Lunch bareng, yuk! Aku traktir!" ajaknya tanpa basa-basi.
__ADS_1
Aku mengerutkan kening. Sebenarnya sedang tak berniat keluar toko. Namun aku tak sampai hati menolak. Berhubung perut juga mulai keroncongan.
"Serius nih?" godaku sembari tersenyum menggoda. Dia mengangguk pasti.
Jadilah siang itu aku dan Yudi makan siang bersama. Kami memilih tempat yang tak jauh dari toko.
Sembari menunggu pesanan datang kami mengobrol banyak tentang masa lalu. Saat kami masih remaja dulu.
Sesekali kami tertawa geli mengingat beberapa kejadian lucu waktu itu. Membahas teman-teman yang bertingkah aneh, lalu juga membahas guru yang kami sukai dan guru yang kami anggap killer.
Rasanya puas sekali bercerita dengan Yudi siang ini. Kami tertawa lepas mengenang masa remaja kala itu. Saat-saat indah kala masih belajar mengenal jati diri.
Kami juga tertawa manakala teringat kejadian konyol saat seorang teman sekelas ketahuan mengirim surat pada anak perempuan di kelas yang sama. Surat tersebut dibaca oleh guru yang lumayan killer.
Lucunya lagi, Abdi, yang saat itu ketahuan menulis surat, disuruh membacakan surat tersebut di depan kelas. Bila menolak, maka orang tuanya akan dipanggil ke ruang BP.
Mau tak mau Abdi harus merelakan surat yang belum sempat diberikan pada Tia itu dibacakan di depan kelas. Sorak riuh para siswa memenuhi ruangan. Ditambah ledekan yang sahut bersahutan ditujukan pada Abdi dan Tia. Semua menyoraki sembari tertawa geli.
Bahkan guru yang mengajar itupun tak kuasa menahan tawa ketika surat dibaca. Sementara Tia hanya bisa merunduk dengan wajah jengah dan merah. Antara haru, malu dan marah.
"Gimana kabarnya Abdi sekarang, ya?" celetukku setelah puas tertawa, hingga tanpa sadar meneteskan air mata.
Yudis seolah menyayangkan kenapa tak meminta kontak teman-teman.
"Eh, kenapa nggak kita cari aja mereka di sosmed. Siapa tahu bisa reunian lagi bareng alumni," cetusnya tiba-tiba.
"Boleh juga, itu. Aku udah lama ga buka medsos. Sibuk ngurusin kerjaan," timpalku antusias.
Ide Yudi boleh juga. Sejujurnya aku juga kangen dengan teman-teman sekolahku dulu. Apa kabarnya mereka sekarang. Bagaimana keadaan mereka dan apa kegiatannya. Barangkali bisa saling support nantinya.
"Ya udah biar aku cariin ntar. Siapa tahu bisa ngumpul sesekali mengenang masa remaja. Udah lebih sepuluh tahun nggak ketemu," paparnya semangat.
Aku mengangguk mengiyakan. Andai kelak kami bisa berkumpul lagi, mengenang masa-masa indah saat remaja. Masa-masa nakal.
"Eh, Yud, kita balik, yuk! Aku nggak bisa lama-lama karena ada janji sama customer," ajakku. Entah kenapa perasaanku tiba-tiba tak enak.
Usai membayar makanan di kasir, Yudi mengantarku kembali ke toko. Namun, dia langsung pergi usai menurunkanku. Katanya dia ingat harus ketemu seseorang dan hampir telat.
Dengan wajah bahagia kumasuki toko. Dengan bernyanyi kecil kusapa pegawaiku.
"Habis kencan kemana tadi?"
__ADS_1
Sebuah suara bas membuatku nyaris terperanjat. Aku tak sadar ternyata ada Bang Danil yang duduk di sofa tamu. Aku menyalaminya dengan perasaan tak karuan melihat wajahnya yang benar-benar menyeramkan.
"Kamu udah lama, Yank?" tanyaku hati-hati. Wajah tampannya memerah sampai ke telinga. Oh Tuhan, pasti dia marah.
"Baru dua jam. Niatnya mau ajak istri makan berdua. Ternyata dia sudah janjian sama laki-laki lain. Hebat!" sindirnya dengan nada ketus.
Aku menelan ludah. Alamat bakalan panjang ini.
"Maaf, Sayang. Tadi teman aku kesini ngajak makan siang. Aku nggak enak nolaknya. Kamu kenapa nggak nelpon aku sih? Kan aku bisa langsung balik!" seruku menjelaskan.
"Oh, ya? Kelihatannya teman kamu itu benar-benar spesial, ya? Sampai kamu melupakan ponselmu saat pergi dengannya. Atau mungkin sengaja?" sindirnya lagi.
Aku menarik napas dalam. Lalu membuangnya pelan.
"Sayang, maaf. Aku nggak sengaja!" rayuku sembari menggayuti lengannya. Ini salah satu caraku menenangkan emosinya.
"Berarti sayang aku belum makan, ya?" tanyaku lagi.
"Udah kenyang!" serunya dingin.
Aku memeluknya dari samping. Menyandarkan kepala ke dadanya yang bidang.
"Sayang, maaf. Aku nggak sengaja. Sekarang aku temenin makan, ya!" bujukku manja.
Bang Danil bukan tipe laki-laki kasar. Hatinya mudah tersentuh apalagi oleh orang yang disayanginya.
"Apa kita pulang aja?" bujukku lagi. Ini langkah terakhir.
Laki-laki maksudku para suami akan mudah luluh bila hasratnya terpenuhi. Aku pelajari ini dari laman seorang konsultan perkawinan. Dan sudah kubuktikan.
"Yok pulang!" ajakku sembari mengedipkan mata. Dia akhirnya luluh.
Di dalam sana kulihat karyawan mengintip dengan wajah cemas. Kukedipkan mata ke arah mereka.
"Kalau ada yang nyari saya, bilang saya ada urusan penting, ya! Atur janji besok hari!" pesanku pada karyawan kepercayaanku. Dia mengangguk paham.
Usai membereskan barang aku langsung menggandeng mesra Bang Danil yang masih berwajah masam. Tugas penting menantiku setelah ini.
Bersambung
__ADS_1