Sepupuku suamiku

Sepupuku suamiku
BERTEMU TEMAN LAMA


__ADS_3

     Semua karyawan toko sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sementara aku duduk di kursi kasir. Sembari mengecek semua orderan yang masuk minggu ini. 


 Namun pikiranku kembali tertuju pada rumah tanggaku di masa depan. Bagaimana nantinya kisah kami? Apa akan lancar meski dibumbui banyak perdebatan dan keributan kecil, ataukah akan ada badai yang menghantam suatu hari nanti. Siapkah kami? 


  


"Mba, pesanan Mba Fika mau diantar hari ini?" 


 "Mba?" 


"Eh, iya, Na? Ada apa?" jawabku tergagap saat Nina menyentuh lenganku. 


  "Mba Adis baik-baik aja?" Nina menatapku khawatir. Aku mengangguk meyakinkan. 


 "Saya nggak apa-apa. Tadi kamu nanya apa?" 


 "Ini pesanannya mba Fika apa mau dipasang hari ini?"


 


 "Hmm, itu. Iya, pasang hari ini. Saya nggak bisa ikut, jadi kalian bertiga aja yang berangkat, ya! Adi, Dika sama kamu. Bisakan?" 


"Baik, Mba." Nina masih menatapku dengan sedikit khawatir. 


"Saya nggak apa-apa. Udah kamu lanjut aja sana!" 


   


  ...


     Entah kenapa pikiranku tak tenang semenjak mendengar ucapan Hana waktu itu. Semua masih terngiang-ngiang di kepala. Kemudian berbagai prasangka mulai muncul dalam bayanganku. Membuat perasaan makin tak nyaman. Cemas andai apa kukhawatirkan terjadi. 


    Aku tak terlalu khawatir andai Bang Danil bertemu orang baru, maksudku perempuan lain. Aku yakin dia masih bisa menjaga perasaan dan sikapnya. Karena memang dia bukan lelaki jelalatan seperti para hidung belang di luaran sana. 


    Yang kukhawatirkan justru diriku sendiri. Seandainya nanti apa yang Hana bilang itu terjadi, apa aku bisa menguasai hati? Apa bisa aku tak tergoda bila suatu saat bertemu seorang lelaki yang di luar dugaanku selama ini? 

__ADS_1


   Aku tak ingin itu terjadi. Tak mau ada laki-laki lain yang mengusik hidupku dan merusak rumah tanggaku. 


   Ok, aku memang bukan istri yang baik. Masih jauh malah. Namun, untuk masalah rumah tangga, aku hanya ingin satu untuk selamanya. Cukup Bang Danil saja! 


   Lamunanku tersentak kala seorang pelanggan datang. Aku bangkit dan berusaha melayani dengan fokus. Jangan sampai urusan perasaan mengganggu pekerjaan. Itu tak profesional namanya. Karenanya kuabaikan sejenak pikiran tadi. 


   


"Adis? Kamu Adis bukan? Siswi SMP 26?" 


 Pelanggan yang tadi datang bersama sang ibu mengenaliku.


 "Iya, betul. Kok Masnya kenal, ya?" balasku sembari mencoba mengenali wajahnya. 


  "Ya, ampun. Ini aku, Dis, Yudi. Yudistira Anggono. Ingat?" 


 Sejenak aku mengerutkan kening. Mencoba mengingat pemilik nama yang begitu familiar ini. 


  "Yudi? Kamu Yudi?" tebakku ragu. 


"Aku baik. Ah, lama ga ketemu, ya Di." 


Percakapan terus mengalir tanpa sadar sembari aku melayani sang ibu. Lalu di penghujung pertemuan Yudi meminta nomor kontakku dan meninggalkan nomor kantaknya. 


   _____


  Malam ini aku sengaja menyiapkan makan malam untuk Bang Danil. Bukan menu yang terlalu mewah, tapi menu istimewa kesukaannya. 


  Bandeng presto, jamur krispi dan tumis genjer. Tak lupa juga keripik emping sebagai pelengkapnya. 


  Sebagai dessert aku membuat puding mangga dengan vla vanila bertabur keju kesukaannya. Simple tapi Bang Danil benar-benar menikmatinya. 


   "Istri abang tumben masak sendiri!" serunya saat menyuap dessert. Sedikit membuatku heran karena tak mengatakan kalau ini hasil masakanku. 


 "Kok Abang tahu ini masakan Adis?" tanyaku penasaran. 

__ADS_1


 "Ya, pastilah. Rasanya kan beda masakan kamu sama siMbok. Jauh." 


Aku tersipu dengan setumpuk rasa bangga teronggok di sudut hati. Sungguh bangga saat suami bisa mengenali masakan sang istri. 


 "Enak?"  Aku balik bertanya.


"Banget! Kalau sering dimasakin istri kaya gini, bisa cepat buncit deh ntar, hehe." 


 Aku tersenyum puas mendengar pujiannya. Tentu saja ini jadi penambah semangat buatku. Bangga rasanya disanjung begitu. Namun, aku tak mau besar kepala dan jadi lupa daratan. Bisa saja Bang Danil hanya ingin menyenangkan hatiku. 


   "Abang besok mau aku masakin apa?" tanyaku menawari. Dia mengangkat kedua alisnya. 


"Sebenernya lagi pengen makan nasi uduk, tapi karena kamu sibuk seharian di toko, kapan-kapan aja bikinnya!" serunya serius. 


  "Ih, biasa aja, Abang. Masak nasi uduk kan bisa pakai magic com langsung. Nggak ribet, kok." Aku meyakinkannya. 


 "Mantap kalau gitu, Dek." 


  Aku tersenyum melihat binar bahagia berpendar di matanya. Haru, saat dia begitu antusias padaku. 


   "Ok, besok Adis masakin, ya! Semoga sesuai selera Abang." 


Dia mengangguk setuju. 


 Baiklah, mulai sekarang aku belajar jadi istri yang baik untuknya. Dia berhak mendapat perlakuan terbaik dariku. Karena bagaimana pun dia adalah suamiku. 


____


Bersambung


 


   


 

__ADS_1


   


__ADS_2