
Bila menurutnya aku salah, kenapa dia tak menasehati dengan lembut seperti biasa? Kenapa dia memilih mengantarku ke rumah ayah? Apa begini sikap seorang suami saat kesal pada istri? Ataukah ini karena ada perempuan lain yang lebih berarti di matanya? Apa karena ini dia tega membuang istrinya sendiri?
Aku bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Membasuh wajah dan rambut agar kepala dingin kembali.
Jadi begini maunya? Dia mau memulangkanku pada ayah setelah sekian tahun aku belajar menerima hadirnya sebagai suami?
Ok. Bila ini maunya, maka akan kuturuti. Aku tak mau terlihat lemah di hadapannya. Aku tak selemah itu!
Keluar dari kamar mandi, kulihat dia tak ada di ruangan. Mungkin di lantai bawah, mungkin juga sedang memanaskan mobil bersiap mengantarku. Baiklah. Aku tak akan memintanya untuk mempertahankanku. Karena aku masih punya harga diri!
Kuraih koper dari samping lemari. Kemudian menumpuk satu-persatu pakaian dari dalam lemari masuk ke dalam koper pink itu.
Embun kembali muncul dan menumpuk di sudut mata. Hingga akhirnya berubah jadi rintik yang kian menderas. Sesekali kutepis kasar dengan punggung tangan. Sial! Kenapa malah makin deras?
Satu persatu bayangan berkelebat di ingatan. Seolah proyektor yang memutar adegan demi adegan masa yang telah lalu.
Semua yang terjadi di antara kami. Kejadian konyol dan semua yang telah kami lewati bersama membuat dadaku kian sesak.
Tubuhku mulai bergetar menahan isak meski sudah kucoba meredakannya tapi tak bisa. Semakin kutahan semakin sesak hingga kubiarkan diri menangis sesenggukan.
Kepala kembali berdenyut sakit. Pusing dan mual menyerang bersamaan. Entah asam lambungku yang kambuh atau ini karena masuk angin akibat lama mengguyur diri di kamar mandi tadi.
"Dek, kamu kenapa malah bawa pakaian sebanyak ini? Kita nggak lagi mau liburan, Dek!" seru suara bass itu tiba-tiba dari arah pintu. Aku mengabaikannya.
"Loh, kok malah nangis? Kenapa lagi, ini?" tanyanya sembari meraih tanganku yang masih sibuk memindahkan baju.
Aku menepisnya kasar.
"Dek? Kamu kenapa lagi, sih?" tanyanya lagi. Kini dia meraih kedua bahuku lalu mendudukkanku di ranjang. Sementara dia berlutut di hadapanku sembari memegang kedua tanganku.
__ADS_1
Aku memalingkan wajah darinya. Tak mau lagi menatapnya. Rasanya masih sakit saat mengingat betapa tega dia mau membuangku begitu saja.
"Sayang, bilang abang, Dek. Kamu kenapa lagi? Ini pakaian kenapa di masukin koper semua? Kamu mau kemana memangnya?" bujuknya lembut.
Namun itu justru membuat isakku makin parah. Aku makin sesenggukkan di hadapannya.
"Dek, bilang sama abang. Kamu kenapa ngemasin barang begini? Kamu mau ninggalin Abang?" desaknya kembali.
"Bukannya Abang yang mau buang Adis? Abang mau nganter Adis ke rumah ayah, ya kan? Abang sekarang udah berubah! Demi perempuan lain Abang tega mau buang istri sendiri. Abang keterlaluan! Hiks," serangku bertubi-tubi.
Bang Danil mengerutkan kening menatapku dengan wajah bingung.
"Kamu ngomong apa sih, Dek? Siapa yang mau buang kamu? Memang kamu barang apa dibuang?" bujuknya sembari bergurau. Tak lucu!
"Nggak lucu!" seruku kesal.
Aku baru saja hendak bangkit dan meneruskan menyusun pakaian ke dalam koper saat dia bangkit dan kini duduk di sampingku.
"Abang nggak pernah punya niat seburuk itu, Adis. Kamu tahu bahkan dari kamu kecil abang sudah sangat menyayangimu. Kalau tidak, mana mungkin abang membujuk semua keluarga kita agar mau menikahkan kita berdua? Semua karena abang mencintai kamu. Ingin selalu menjaga dan melindungi kamu. Bagaimana mungkin kamu berpikiran seperti itu?" tuturnya penuh kelembutan.
Kembali kutatap dua manik hitamnya yang kecoklatan. Ada kejujuran di sana.
"Terus kenapa abang bilang mau ngantar Adis ke rumah ayah?" tanyaku di antara isak yang masih saja sesenggukan.
"Siapa yang bilang mau ngantar kamu? Tadi abang bilang kita mau ke rumah orang tuamu. Bukan mau ngantar kamu!" serunya lagi mencoba meyakinkanku. Masih dengan suara lembut seperti tadi.
"Lalu mau ngapain ke rumah ayah?" tanyaku lagi.
"Kamu lupa sekarang jadwal ngumpul keluarga besar? Sekarang giliran di rumah ayahmu. Makanya abang suruh kamu siap-siap."
"Ha?"
__ADS_1
Aku melongo mengingat semua itu. Perlahan tangisku mereda. Jadi tadi karena itu dia menyuruhku bersiap-siap?
"Kamu lupa pasti, ya?" godanya.
Dia mengusap air mataku yang menggenangi kedua pipi. Lalu mengusap rambutku sebelum akhirnya meraihku dalam dekapannya.
"Jangan pernah berpikiran macam-macam, Adis. Mana mungkin abang mengabaikanmu demi orang lain?"
Aku mengisak kembali di dadanya. Aku benar-benar takut kehilangannya. Bagiku dia harapanku untuk masa depan. Aku menyayanginya sejak kecil. Dan kini rasa sayang itu berubah jadi cinta semenjak ijab terucap dari bibirnya.
"Abang sayang Adis?" tanyaku ragu. Ya, aku mulai ragu dengab perasaannya semenjak melihat perempuan itu.
"Ya, pastilah, Dek. Yang benar aja kamu!"
Dia mendekatkan keningnya ke keningku hingga kening kami beradu.
"Maaf kalau apa yang abang lakukan kadang membuatmu tak nyaman, Dek. Abang memang tak mau kehilanganmu. Karena itu makanya jadi over protectiv. Tak lain karena rasa sayang yang teramat sangat padamu," bisiknya sungguh-sungguh yang membuat sudut mataku kembali membasah.
"Tidak ada perempuan lain yang menarik hati abang selain kamu. Cuma kamu dari dahulu. Apa kamu nggak bisa ngerasain itu?"
Aku menggeleng jujur. Iya, aku tak tahu berapa dalam perasaannya padaku selama ini. Tak juga aku berani menakar perasaannya. Aku takut kalau terlalu menduga-duga. Takut akhirnya jadi kecewa.
"Sekarang siap-siap, ya. Jangan sampai kita telat ngumpulnya. Kan nggak lucu anak sama mantu yang justru terlambat datang!" serunya lagi sembari mengulas senyum paling manis.
Aku memaluknya kian erat. Tak perduli dia akan berpikir apa nantinya. Yang jelas saat ini aku hanya ingin berada dalam dekapannya selama yang aku bisa.
"Meluknya sambung nanti aja, ya! Kasihan ayah kamu udah nungguin kita. Pulang dari sana kamu boleh lanjut meluk sepuasnya. Lebih dari peluk juga nggak apa-apa," godanya sembari terkekeh kecil. Membuat wajahku memanas karena jengah.
Segera kulepas pelukannya kemudian berlalu begitu saja. Menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah semerah kepiting saus padang.
__ADS_1
______Bersambung