Sepupuku suamiku

Sepupuku suamiku
Mulai Dari Awal


__ADS_3

Baiklah, kurasa sudah waktunya semua kekonyolan ini diakhiri. Aku dan Bang Danil harus memulai dari awal agar bisa jadi pasangan sejati. Pasangan suami istri yang sebenarnya. 


  Saat sudah di atas ranjang, aku menelan ludah berkali-kali. Mencari kata-kata paling tepat untuk bicara padanya. Ini sungguh tak mudah bagiku. 


 


"Bang, boleh Adis bicara sesuatu?" tanyaku duduk bersandar di kepala ranjang. 


 Bang Danil mengangguk dan menyimak dengan seksama. 


 "Mungkin sudah waktunya kita memulai dari awal, Bang!" 


 Pelan aku berujar. 


"Maksudnya?" Bang Danil menatapku tak paham. 


"Hmmm. Tentang hubungan kita ini. Bagaimana kalau kita belajar jadi suami istri layaknya pasangan lainnya?" 


"Memangnya selama ini belum?" godanya sembari mengulas senyum.


"Ya, belum! Aku kan masih nganggap Abang itu, kakakku!" cicitku sembari menggigit bibir bawah. 


 "Masa?" godanya lagi. 


Aku mengerling kesal. Di saat aku serius begini dia masih sempat bergurau. 


"Jadi, kita mulai dari nol, seperti di pom bensin?" guraunya lagi. 


 Kali ini aku menjambak rambutnya kesal. Dia meringis. 


"Aduh, sakit, Dek. Ntar kalau rambut suamimu ini botak depannya kaya profesor, emang kamu mau?" sungutnya mengusap kepala bekas jambakanku. 

__ADS_1


  "Abisnya Abang nyebelin!" seruku sebal. 


"Haha. Iya, maaf. Masa becandain istri sendiri nggak boleh?" 


 Aku mencebik. Sementara dia mengacak rambutku gemas. 


  "Abang juga maunya gitu sih, Dek. Cuman gimana, ya. Rasanya kok gimana gitu, hahaha," 


 Kupingnya memerah. Mungkin dia sama canggungnya denganku. Jujur saja ini sangat tak mudah. Namun apa mau dikata? Jodoh sudah diatur Yang Maha Kuasa. 


  "Ok, mulai besok kita sama-sama belajar ya. Pelan-pelan aja, mudah-mudahan kita bisa jadi suami istri lazimnya pasangan lain. Abang sadar kalau selama ini masih egois sama kamu. Kadang juga masih terlalu mengekangmu. Sementara rumah tangga itu harus dilandasi saling percaya satu sama lain. Kamu mau, kan ngingetin Abang kalau khilaf? Kita sama-sama belajar ya, Dek!" tuturnya panjang lebar. 


 Aku mengangguk mengiyakan. Ya, selama ini kami selalu kekanak-kanakan. Tak ubahnya adik-kakak yang kerap bertengkar hanya karena hal sepele. Kami sama-sama belum dewasa dalam bersikap. 


 "Oh, iya. Kayaknya kita harus ganti panggilan deh. Kalau masih manggil dengan sebutan seperti saat ini, kita masih akan tetap serasa kakak-adik. Gimana kalau panggilan kita dirubah?" cetusku. 


 "Jadi mama-papa, atau ayah-bunda gitu?" sambarnya sembari menahan geli. 


"Lah terus apa, dong?" tanyanya mendesak. 


 "Aku manggil Abang "Sayang" boleh, nggak?" tanyaku ragu. Takut dia kembali meledek. 


 "Ya boleh, lah. Malah kedengarannya mesra kayak orang-orang ya, kan?" 


 "Ok, terus Abang manggil aku apa? Jangan "adek" atau "Sayang" ya! Kan udah biasa!" tukasku mengingatkan. 


 "Ya, udah Abang panggil Hani aja, ya! Mau?" tawarnya. Aku mengangguk setuju. 


  "Sip. Berarti mulai malam ini panggilannya berubah, ya! Biar berasa kita ini tuh pasangan beneran, bukan cuman kakak-adek-an," lanjutnya. 


 Aku kembali mengangguk mengiyakan. 

__ADS_1


"Jangan sungkan lagi, Dek, eh maksudnya Hani. Kita ini sudah sah jadi suami istri. Apapun masalahmu bilang aja. Jangan ada yang kamu sembunyikan dengan alasan segan atau sungkan. Pahamkan?" 


 "Iya, Yank!" sahutku sembari nyengir. Panggilan itu benar-benar terdengar ganjil. Namun, tak ada salahnya memulai. 


 "Sekarang tidur, Han. Besok kita kerja!" titahnya sebelum membaringkan tubuh. 


"Atau mau bulan madunya dimulai besok?" godanya lagi kemudian. Sebelum kekehannya terdengar memenuhi kamar. 


 "Ganjen!" seruku menimpukkan guling ke wajahnya. Kembali kudengar kekehannya. 


   Kubaringkan tubuh di sebelahnya. Lalu memeluk guling seperti biasa dan mulai memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan gulingku ditarik paksa. Sontak membuatku membuka mata tak terima. 


 "Ih, kok gulingnya diambil, sih?" tanyaku protes. 


"Nggak ada guling-gulingan lagi mulai malam ini. Kalau mau meluk, sini peluk suami! Masa iya punya suami dikacangin tiap hari. Berasa nggak berharga dibanding guling," rungutnya dengan wajah tak terima. 


Aku pasrah. 


Ok, baiklah Adis. Kamu bukan abege lagi sekarang! Jadilah istri yang membuat suamimu merasa dihargai! 


 "Ya udah, geser sini biar aku peluk!" ucapku sembari menarik baju kausnya. 


Wajahnya berubah senang. Dia bergeser mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dengan santai aku memeluknya seperti memeluk guling kesayanganku. Kulihat wajahnya mesem-mesem sembari menatapku. 


Aku bersikap seolah tak melihat perubahan mimik wajahnya. Kupejamkan mata tanpa peduli degup jantung yang terpompa kian cepat. Seolah jantung ini ingin meloncat dari rongga dada. Biarkan saja! 


 Dalam hati kurapalkan doa. Semoga mulai saat ini dan seterusnya kami bisa benar-benar membangun rumah tangga sebagaimana seharusnya. Menumbuhkan rasa cinta sebagai sepasang suami istri, bukan hanya sekadar sepupu lagi. 


  Tuhan, jadikan rumah tangga kami menjadi jalan menjemput rahmat-Mu. 


 ___Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2