
Ada penyesalan dalam hati mengingat apa yang kulakukan malam tadi pada Bang Danil. Itu sedikit keterlaluan. Harusnya aku tak berlaku demikian, harusnya kupakai cara lain agar dia bisa lebih memahamiku.
Ingatan malam tadi membuatku malu sendiri, bagaimana bisa aku berlaku seperti wanita murahan padanya demi membalas sakit hati. Apa yang ada dalam pikirannya melihat kelakuanku yang tiba-tiba jadi "aneh"?
Kututup muka di depan cermin saat membayangkan wajahku malam tadi. Ya, Tuhan ... semoga Bang Danil tak berpikiran macam-macam.
"Kamu kenapa, Dek?"
Dua buah tangan menyentuh kedua belah bahuku. Aku semakin malu, tak berani membuka tutup wajahku.
"Hei, kamu kenapa?"
Bang Danil kini berjongkok di hadapanku, mencoba menurunkan tanganku dari wajah.
Pelan aku menatapnya, tapi segera kualihkan ke tempat lainnya. Sungguh aku tak punya muka sama sekali untuk melihatnya.
"Kenapa, Dek?" desaknya lagi.
"Bang maafin aku!" seruku mencicit.
"Maaf? Memangnya kamu salah apa?" tanyanya masih dengan nada lembut.
"Malam tadi aku bikin malu diri sendiri. Aku kesel sama Abang! Makanya aku ...."
"Udah, ga usah dibahas! Abang paham kok!"
Lelaki itu bangkit berdiri lalu mengusap kepalaku. Kuraih tangannya agar tak beranjak pergi.
"Abang, Randa itu bukan siapa-siapaku. Dia cuman sahabatku, Bang. Abang salah paham!" lanjutku lagi.
Bang Danil berdehem beberapa kali. Seolah menyiapkan kalimat apa yang harus diucapkannya.
"Iya."
Hanya kalimat singkat itu saja yang dia keluarkan. Pertanda masih ada kejengkelan di hatinya.
"Abang, aku minta maaf. Kemaren aku cuman mau ngasih Abang pelajaran. Aku kesel liat Abang jalan sama cewek lain. Rasanya ... sakit!"
Akhirnya kupilih berkata jujur. Ya, aku sakit melihat dia digamit perempuan asing. Aku kesal melihatnya jalan dengan perempuan lain dengan mesra sepert itu.
"Aku tahu aku belum bisa jadi istri yang baik, tapi aku kan istri Abang. Aku bukan cuma sepupu Abang tapi udah sah jadi istri. Aku ...."
__ADS_1
"Dia bukan siapa-siapa, Adis!"
Akhirnya dia membela diri.
"Kenapa semesra itu?" cecarku tak terima.
"Mana ada mesra, lagian tadi sengaja!" elaknya kemudian.
"Sengaja?"
"Abang minta dia manasin kamu karena Abang liat kamu sebelum kamu melihat kami tadi. Awalnya kami usai meeting. Dia perwakilan dari perusahaan, kebetulan juga teman sekolah Abang dulu. Abang minta tolong buat bikin kamu panas, mulanya dia nggak mau. Karena Abang bilang mau lihat kamu cemburu makanya dia mau."
Aku menatapnya tak percaya. Mana mungkin begitu. Masa iya kemaren hanya pura-pura? Walau sempat kulihat raut canggung di wajah mereka berdua. Apa iya itu cuma sandiwara?
"Kamu percaya Abang, nggak?" tanyanya sungguh-sungguh.
Bang Danil memang tak pernah dekat dengan perempuan lain setahuku. Karena perempuan yang dia dekati hanya aku, adik sepupunya sendiri. Aneh memang.
"Nggak tau!" seruku sebelum bangkit meninggalkannya.
"Loh, kok malah kabur? Katanya minta maaf?" dia menarik tanganku hingga posisi kami berdiri saling berhadapan.
Hanya saja karena aku kalah tinggi, aku hanya berhadapan dengan dadanya.
"Maksud Abang, selama ini kita nikahnya cuman main-main gitu?" tudingku.
"Ya nggak gitu juga, Dek. Selama ini kan kita cuman kaya kakak adek. Bukan seperti pasangan yang saling cinta. Kamu kelihatan tersiksa sama pernikahan ini."
"Loh kok aku, Bang?"
"Apa kamu nyesal? Apa kita sudahi saja semua ini? Karena percuma saja kita teruskan kalau hubungan kita hanya begini-begini aja. Mungkin memang kita nggak jodoh, Dis."
Kali ini kepalaku seperti disambar halilintar. Kenapa malah jadi melebar begini?
"Abang jatuh cinta sama permpuan itu, ya?" tuduhku pada akhirnya. Aku capek dia bertele-tele. Kalau memang itu intinya kenapa harus berbelit-belit?
"Kamu ngomong apa, sih?" sangkalnya.
"Jadi setelah Abang menemukan sosok yang diimpikan pernikahan ini terlihat sama sekali tak berharga, ya? Penyesalan akhirnya datang, begitu?"
Mataku berembun. Kenapa rasanya sesakit ini? Aku seperti dicampakkan tiba-tiba.
__ADS_1
"Jangan asal tuduh, Adis! Itu omong kosong!"
"Ya, omong kosong seperti hubungan kita, ya kan? Hubungan yang kamu paksakan dan sekarang ingin kamu lepaskan sesukamu setelah ketemu yang baru? Kamu egois, Bang!"
Runtuh sudah gumpalan embun yang menjelma mendung. Luruh menderas di sudut mata. Rasanya benar-benar sakit dicampakkan seperti ini. Jadi untuk apa dia paksa keluarga menyetujui pernikahan ini? Untuk apa dia mati-matian membujukku agar mau menerimanya sebagai suami? Seegois itukah laki-laki?
Aku beranjak ke kamar mandi. Tak lagi kudengar apapun ucapannya. Kukunci pintu dan kubasahi tubuh begitu saja. Melepaskan tangisku di bawah guyuran shower dengan pakaian utuh. Kubiarkan tubuh basah berharap mampu melepaskan rasa sakit yang amat sangat ini. Ini benar-benar sakit.
Bang Danil tak benar-benar tulus mencintaiku. Jadi aku hanya obsesinya saja?
"Dis, buka pintunya, Dek! Kamu dengar dulu penjelasan Abang. Kamu salah paham, Adis!"
Suara teriakan Bang Danil dari balik pintu tak kupedulikan. Aku bahkan tak ingin lagi melihat wajahnya. Dia hanya mempermainkanku. Dia mempermainkan masa depanku. Lalu mau jadi apa aku setelah ini? Jadi janda sepupuku sendiri?
Entah berapa lama kubiarkan tubuh basah di bawah guyuran air. Hingga gigil kini memelukku. Pandangan mata mulai kabur dan kepalaku pusing. Lalu semua menggelap.
…
Aku terbangun dengan kepala yang masih terasa berdenyut. Sesaat aku berusaha mengumpulkan ingatan. Bukankah aku tadi di kamar mandi? Lalu sejak kapan berada di ranjang?
Kurasakan seseorang memeluk tubuhku yang terbalut selimut dari belakang. Aku menggerakkan tubuh, menyadari hanya memakai daster kaus tanpa underware. Ada apa ini?
Segera aku bangkit. Di sampingku Bang Danil tertidur dengan pakaian lengkap saat kami bertengkar tadi. Lalu kenapa pakaianku berganti? Apa dia melakukan sesuatu saat aku tertidur tadi?
Kututupi lagi tubuh dengan selimut. Di saat bersamaan di sampingku terasa pergerakan. Bang Danil bangun kemudian duduk.
"Akhirnya kamu sadar!" serunya sembari mengusap mata dengan sebelah tangan.
Aku diam tak menyahut sama sekali.
"Kamu pingsan di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Nggak mungkin abang narok kamu di kasur dengan pakaian basah. Jadi abang ganti!" serunya seolah menjelaskan apa yang ada di benakku.
"Nggak usah mikir macam-macam, deh!" serunya sebelum beranjak menuju kamar mandi.
Aku tak berkata apapun. Masih kesal dengan perkataannya tadi. Karena itu kupilih diam, untuk apa bicara bila dia sudah tak lagi menganggapku istri?
Kepala kembali berdenyut sakit. Namun hati jauh lebih sakit. Andai dia tahu, lelaki pertama dan satu-satunya yang aku cintai selain ayahku adalah dia. Aku belum pernah jatuh cinta pada siapapun selain padanya. Hanya dia yang aku inginkan semenjak kami dinikahkan. Sekarang dia ingin membuangku?
"Besok kita ke rumah orang tuamu!" serunya tiba-tiba, membuat kepalaku kian berdenyut sakit.
Apa dia mau mengantarku ke rumah orang tuaku?
__ADS_1
_____ Bersambung