
Menikah di usia muda bukanlah hal mudah. Apalagi pernikahan yang masih dianggap aneh, pernikahan sepupu seperti yang aku dan Bang Danil jalani.
Mulanya memang terasa aneh dan seperti semacam aib. Namun lama kelamaan aku mulai menerima statusku. Mungkin memang sudah suratan tangan bahwa jodohku berasal dari nenek yang sama.
Siang itu aku memutuskan jalan-jalan sendiri di taman kota. Sekadar menikmati kesendirian. Sebuah buku aku bawa sebagai teman, lumayan biar tak terlalu bosan.
Di saat bersamaan dari arah utara aku melihat sepasang kekasih atau mungkin suami istri tengah bertengkar. Ini mengingatkanku pada pertengkaran kecil antara aku dan Bang Danil.
Usia yang belum matang kadang membuatku belum mampu berpikir panjang. Mudah terbawa perasaan dan sering curiga. Maklum, aku tak pernah diberi kesempatan mengenali dunia.
Semua yang kulakukan selalu diawasi Bang Danil. Dia harus tahu ke mana aku pergi, dengan siapa aku berinteraksi. Apa saja yang kulakukan saat dia tak bisa menemani. Ya, seketat itu penjagaannya terhadapku selama ini.
Mungkin itu pula yang membuat semua keluarga yakin bahwa dia adalah jodoh terbaik untukku. Karena sejauh ini dia selalu mengutamakanku. Selalu mengawasiku.
Pasangan tadi masih bertengkar dan tampak kian sengit. Awalnya kuabaikan tapi lama kelamaan aku mulai risih, terutama saat kulihat tangan lelaki itu melayang menampar pasangannya.
Di atas bangku ini aku terpekik. Ingin kuhampiri mereka dan memaki lelaki itu tapi aku tak berhak mencampuri. Untunglah ada seorang bapak-bapak melerai mereka dan menasehati sang lelaki.
Di saat itu aku kembali teringat Bang Danil. Dia selalu bersikap lembut padaku. Tak pernah bertindak kasar apalagi main fisik. Bila sudah terlalu kesal dia memilih mendiamkanku. Nanti saat reda dia kembali bersikap biasa. Selalu begitu.
Dulu, waktu kecil dia adalah body guard bagiku. Menjagaku dari gangguan anak-anak yang iseng. Mengajakku bermain dengan cara menggendongku di punggungnya.
"Adek mau main? Ayo abang gendong!" Bang Danil kecil berjongkok di hadapanku dengan posisi membelakangi. Dengan girang aku akan melompat ke punggungnya. Lalu kami jalan-jalan sekitar kompleks rumah nenek.
"Adek mau jajan apa? Nanti abang beliin pulang sekolah, ya!"
Ah, masih kuingat semua kenangan masa kecil bersamanya. Saat dia selalu tampil sebagai malaikat penjaga semenjak berpulangnya Bunda, tante kandungnya.
__ADS_1
Bunda adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Paman Anggoro, papa dari Bang Danil adalah anak sulung. Saudara tertua almarhumah bunda.
Kepergian bunda memang belum sepenuhnya kupahami waktu itu. Karena usiaku masih lima tahun.
Semenjak bunda tiada, aku lebih sering tinggal di rumah nenek, atau pun di rumah paman. Aku anak pertama dan cucu perempuan satu-satunya di keluarga bunda saat itu. Tak heran bila kasih sayang mereka berlimpah padaku.
Ayah membesarkan aku dan adikku Bian dengan penuh kasih sayang. Walau kadang terpaksa menitipkan kami saat beliau harus bekerja. Bian baru berumur dua tahun saat bunda tiada, dia tak sempat mengenali wajah bunda.
Atas saran dari keluarga besar akhirnya ayah menikah lagi dengan tante Ines, sepupu bunda. Ya, pernikahan keluarga kami tak jauh dari kata sepupu.
Tante Ineslah yang menggantikan bunda mengasuh Bian. Sementara aku lebih sering tinggal di rumah paman atau pun nenek.
Dan orang yang paling menjagaku adalah Bang Danil. Hingga aku menganggapnya bukan lagi sepupuku melainkan abang kandungku.
Namun takdir berkata lain, jodoh tak pernah kita duga dari mana datangnya. Seperti aku yang akhirnya menerima bujukan semua keluarga agar mau dinikahkan dengan Bang Danil.
Selanjutnya setelah ijab kami masih tinggal di rumah orang tua masing-masing. Aku di rumah ayah dan Bang Danil bersama orang tuanya.
Baru setelah tamat SMA, kami pindah ke rumah yang sudah disiapkan Bang Danil. Tiga tahun dia bekerja mengumpulkan rupiah hingga bisa menyicil sebuah rumah dua lantai.
Aku awalnya melanjutkan kuliah, akan tetapi memilih berhenti di semester empat.
Aku meminta izin pada Bang Danil membuka usaha gorden. Awalnya hanya ada dua karyawan tetap. Sementara aku hanya bertugas sebagai pengelola dan pemasaran. Sekarang karyawan sudah bertambah tiga orang lagi. Kesibukanku pun kian bertambah.
Kami memulai semua dari awal. Benar-benar dari awal.
Meski sudah tinggal serumah, tapi kami masih seperti dulu. Masih seperti saudara sepupu pada umumnya. Bukan seperti suami istri.
__ADS_1
Bang Danil memegang teguh janjinya tak akan menyentuhku dalam arti sebagai suami sampai aku benar-benar siap. Bagiku itu bukti dia laki-laki sejati.
Bukankah yang dipegang dari seorang laki-laki adalah ucapan dan janjinya? Bila memegang ucapan saja tak mampu bagaimana bisa dia mengayomi keluarganya?
Disini aku bersyukur berjodoh dengannya.
…
"Kamu yakin akan tetap mencintai Bang Danil sampai nanti, Dis? Bukannya kamu belum pernah tau rasanya jatuh cinta? Kamu yakin perasaan kamu pada suamimu akan sama jika suatu hari ada laki-laki lain yang membuatmu tergoda?"
Pertanyaan Hana kemarin masih terngiang sampai malam ini. Di sampingku Bang Danil sudah tertidur dengan pulas. Mungkin dia lelah.
Sementara aku, masih mengingat ucapan Hana tadi sebelum kami berpisah setelah keluar dari kafe usai makan siang.
Pertanyaan itu terus saja menghantuiku. Aku memang belum pernah merasakan jatuh cinta pada laki-laki manapun selain Bang Danil. Jadi tak tahu persis apa perasaanku selama ini padanya adalah cinta yang sesungguhnya. Atau hanya sebuah kekaguman karena rasa nyaman. Entahlah.
Dalam hati ada kecemasan lain, bukankah Bang Danil juga sama sepertiku? Dia juga tak pernah merasakan jatuh cinta pada perempuan lain? Selama ini fokusnya hanya tertuju padaku. Apa ini cinta yang sesungguhnya atau hanya bentuk penjagaan karena rasa tanggung jawab dan kasihan?
Hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Aku hanya berharap pernikahan ini berjalan seperti pernikahan lainnya. Sakinah, mawaddah warohmah hingga kelak sampai ke Jannah. Namun bisakah?
____Bersambung
__ADS_1