Sepupuku suamiku

Sepupuku suamiku
MALAM PERTAMA


__ADS_3

    Tak terasa sebulan sudah kami memulai semuanya dari awal. Mencoba belajar menjadi pasangan yang saling memahami dan mengerti satu sama lain. Sejauh ini, semua terasa benar-benar menyenangkan. 


    Perubahan yang kurasakan adalah kami kini semakin dewasa dalam bersikap. Tak lagi kekanakan seperti sebelumnya. Tak lagi sibuk bertengkar dan saling curiga satu sama lain. Kini kami mulai saling percaya. Membuang jauh perasaan curiga. 


 Aku tak kuasa mengelak, kubiarkan dia me


 Bila ada sesuatu yang terasa mengganjal, maka secepatnya kami selesaikan dengan cara saling mengungkapkan perasaan. 


 Dan aku, bahagia. Benar-benar bahagia karena sekarang bisa merasakan rumah tangga yang sebenarnya kecuali hmm 


....


   "Han, kamu lihat jam tangan yang biasa aku pakai, nggak? Tadi lupa naroknya di mana. Perasaan di atas nakas kok nggak ada, ya?" 


  Bang Danil masih heboh sendiri mencari jam tangan kesayangannya. Aku yang sedari pagi melihat jam tangan tersebut di atas meja rias, memilih tersenyum memperhatikannya. 


Aku mempelajari hal ini beberapa waktu lalu. Bahwa laki-laki itu pandangannya terbatas hanya yang di hadapannya saja, dan ternyata itu benar adanya. Terbukti Bang Danil kelimpungan mencari jam tangannya sementara benda tersebut tergeletak di atas meja rias. 


  "Han, tolong dong, bantuin nyarinya. Kalau hilang gimana?" ucapnya setengah putus asa. Pagi tadi dia berangkat tanpa mengenakan jam tangan itu. Saat kembali ke rumah malam ini yang pertama dicarinya adalah benda tersebut.


 "Kalau aku bisa nemuin dikasih apa?" godaku menaik-turunkan alis. 


 "Hani jangan becanda. Jam itu berarti banget buat aku!" rengeknya. 


Aku tahu betapa Bang Danil amat menyayangi jam tangan yang dimaksud. Bukan karena harganya yang lumayan mahal, melainkan sejarah jam tersebut. Sebagai hadiah ulang tahun dari ayahnya yang notabene adalah pamanku sendiri. 


 "Mau dibantuin nggak ini? Hadiahnya apa dulu makanya?" godaku lagi. Dia malah merengut dan hanya menatapku dari sudut matanya saja. 

__ADS_1


   "Ini, bukan?" Aku menunjuk jam tangan yang masih tergeletak di atas meja rias. 


   "Loh, kok ada disini? Ya, ampun siapa yang mindahin?" gumamnya sembari meraih jam tangan tersebut dengan wajah tak percaya. Aku hanya menggeleng geli dan beranjak hendak memainkan ponsel di atas kasur. 


   Tiba-tiba kurasakan seseorang memeluk dari belakang. Lalu mencium pipi kananku. Perasaanku bercampur antara terkejut, bahagia dan malu. Iya, aku malu diperlakukan seperti itu meski oleh suamiku sendiri. 


  "Makasih, Hani!" serunya terus memeluk erat. 


 "Ih, malu! Apaan sih Yank?" Aku meronta berusaha melepaskan diri. Namun, yang terjadi justru kami berdua jatuh ke ranjang dengan posisi aku masih dalam pelukannya. Malu dobel ini mah. 


  "Sama suami sendiri aja malu. Nggak ada yang lihat ini!" bisiknya tepat di belakang telingaku. 


 Tengkukku meremang. Aku merinding diperlakukan seperti ini. Debar jantung berpacu sepuluh kali lipat saking tak biasa. Ya, aku benar-benar gugup saat itu. 


    "Biasakan diri, Hani. Kita ini suami istri yang sah, santai saja!" bisiknya lagi. Namun, justru napasnya ikut memburu. 


 "Hani, apa sudah boleh?" 


Akan tetapi, kali ini aku tak kuasa melarang ketika dia meminta izin membuka kotak kaca berisi mahkota yang selama ini masih kujaga utuh untuknya. Kubiarkan dia memiliki apa yang menjadi haknya. 


Malam itu, menjadi malam pertama mahkota itu tersentuh pada akhirnya. 


    …


Pagi ini aku terbangun dengan perasaan luarbiasa, di sampingku kulihat dia masih terlelap dengan tenangnya. Bayangan kejadian malam tadi membuat pipiku panas. Aku beranjak ke kamar mandi lalu bersiap shalat subuh. Setelah memanaskan air untuk mandi Bang Danil pagi ini. 


  Ya, semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Kami akan makin terbiasa dengan tugas masing-masing nantinya. Waktu akan menuntun kami melangkah menuju masa depan bahagia. Aku yakin. 

__ADS_1


    ...


   "Pagi, Hani!" sebuah kecupan mendarat tiba-tiba saat aku baru saja hendak menyalakan kompor memasak sarapan untuk kami berdua. 


   Aroma maskulin menyeruak memenuhi ruang dapur. Dia memakai celana selutut dan kaus warna abu-abu dengan rambut yang masih basah. 


 


  Hari ini hari Minggu. Jadi Bang Danil seharian hanya di rumah saja. Katanya mau menikmati liburan bersama istri. Semoga saja pikirannya tak macam-macam. 


   Usai sarapan dia menarikku duduk di depan televisi ruang tengah. Membaringkan kepalanya di pangkuanku. Tingkahnya berubah manja. 


   Ternyata sikapnya mulai berubah. Kalau dulu posesif terkesan mendikte sekarang malah lebih manja. Bahkan dia mengekor kemanapun aku bergerak seharian. Sampai aku kehabisan cara menyuruhnya berhenti mengikuti. 


 "Sayank, stop jadi bayangan terus. Mau ngapain sih, ngekorin kemana-mana?" ucapku sembari mencubit perutnya. 


 "Aww. Nanti malah ada yang bangkit kalau perut aku kamu cubit!" serunya mengedipkan sebelah mata. 


 Kenapa dia malah jadi rese gini, sih? 


Akhirnya aku pasrah hanya duduk di depan televisi sembari membiarkannya kembali membaringkan kepala di pangkuanku. 


 "Usapin kepalanya, Hani!" rengeknya semberi meraih tanganku lalu meletakkan di atas kepalanya. 


   Apa semua suami semanja ini? 


 Bersambung

__ADS_1


   


 


__ADS_2