
Hari demi hari terasa semakin menyenangkan. Aku dan Bang Danil mulai terbiasa menjalani rutinitas umum pasangan suami istri lainnya. Perlahan kecanggungan itu berangsur berkurang dengan sendirinya..
Pagi itu, seperti biasa kami sudah bersiap untuk berangkat kerja. Enam bulan ternyata tak terasa sejak kami memulai semua dari awal lagi.
Dengan semangat usai sarapan kami bersiap berangkat. Rasanya bahagia menikmati saat-saat indah pernikahan yang sebenarnya sudah tahunan.
Sebuah ketukan pintu terdengar ketika kami hendak melangkah keluar rumah. Sedikit kesal rasanya, aku merutuk dalam hati kenapa harus ada tamu yang datang sepagi ini. Bagiku itu benar-benar tak beretika. Kecuali ada hal urgent yang tak bisa ditunda. Firasatku tak enak.
"Vina?" seru Bang Danil begitu membuka pintu.
Seorang perempuan berwajah cantik dengan memakai dres dan wajah tampak kusut berdiri di depan kami.
"Danil, apa kabar?" sapanya dengan senyum yang dipaksakan.
"Eh, tumben. Ayo masuk!" Bang Danil mempersilahkan. Sementara aku diam saja tak menyapa.
"Duduk Vin, ada apa ini pagi-pagi?" tanya Bang Danil lagi.
Wanita yang dipanggil Vina itu adalah sepupu Bang Danil dari pihak ibunya. Tepatnya anak dari paman Bang Danil yang tinggal di luar kota.
"Han, boleh tolong ambilkan minum?" pinta Bang Danil dengan tatapan penuh harap padaku. Aku langsung beranjak ke dapur tanpa menjawab.
Meski kesal, tapi permintaan suami adalah kewajiban istri. Kulakukan permintaannya walau dalam hati tak ikhlas memberi minum wanita ular itu.
Dulu, Vina dan keluarganya menentang keras pernikahan kami. Berbagai upaya mereka lakukan agar aku dan Bang Danil gagal menikah. Aku tak masalah saat itu gagal menikah dengan Bang Danil, karena memang awalnya aku juga tidak mau.
Akan tetapi, cara mereka mengagalkan pernikahan kami ini sudah keterlaluan. Mereka menfitnahku. Mengatakan bahwa aku punya pacar dan sampai tidur dengan laki-laki yang kata mereka pacarku. Sengaja mereka mencari seseorang yang mau dibayar untuk mengaku bahwa dia itu pacarku.
Jadi, mana mungkin aku bisa menerima kelakuan mereka begitu saja? Jangankan tidur dengan pacar, bahkan tidur dengan suami saja baru terjadi sekian tahun setelah pernikahan kami. Aku tak mungkin sebodoh itu merendahkan diriku sendiri.
__ADS_1
Kuletakkan minuman di atas meja tanpa menyuruhnya minum. Aku paling tak bisa berbasa-basi. Bagiku kalau memang tak suka, untuk apa berpura-pura suka?
"Makasih, Hani," seru Bang Danil. Aku membalasnya dengan senyum.
"Minum dulu, Vin. Setelah itu kamu bisa cerita," ucap Bang Danil memberi saran. Wanita itu meminum minumannya dengan cepat.
"Sekarang kamu bisa cerita!" serunya lagi.
Vina mengangguk lalu memulai ceritanya.
"Danil, aku boleh numpang di rumahmu?" Tanpa basa-basi dia mengajukan permintaan tak masuk akal.
"Maksudnya?" tanya Bang Danil tak mengerti.
"Aku dan ibuk bertengkar sampai ibuk mengusirku. Aku nggak tahu harus kemana lagi, Dan!" serunya dengan wajah memelas yang tampak sangat dibuat-buat.
Dalam hati aku tersenyum mendengar pertanyaan suamiku. Aku tahu, Bang Danil juga masih kesal dengan Vina ataupun keluarganya. Mengingat betapa mereka dulu kerap menjelek-jelekkanku yang notabene sangat disayanginya sejak kecil.
"Ibu mau aku nikah sama pilihannya, Dan. Aku nggak mau! Aku sudah punya pacar, tapi ibu nggak setuju dengan hubungan kami. Akhirnya ibu mengusirku."
"Lalu? Apa hubungannya denganku, Vina? Bukannya dulu kamu sempat bilang, akan memutuskan hubungan denganku kalau aku masih bersikeras menikahi Adis? Kamu sendiri yang bilang mengharamkan dirimu untuk mengenalku? Sekarang kenapa malah kesini?"
Deg.
Aku menelan ludah mendengar ucapan ketus suamiku barusan. Aku kenal Bang Danil sejak kecil. Belum pernah sekali pun aku mendengar dia bicara kasar sepert ini. Barangkali kesabarannya sudah habis.
"Tega kamu, Dan? Aku tahu aku salah. Tapi aku ini sepupu kamu, saudara kamu. Di tubuh kita mengalir darah yang sama. Kamu perlakukan aku seperti ini saat aku masih menganggapmu saudara?" Vina bicara dengan nada berapi-api. Sementara kulihat Bang Danil justru terlihat acuh.
"Sorry, Vin. Semenjak pernikahan kami lima tahun lalu, kalian sudah menganggap aku bukan keluarga kalian. Aku tak keberatan dengan semua itu karena memang tak ada pengaruhnya. Kalau sekarang kamu mengaku aku ini keluargamu, rasanya sedikit lucu, Vin. Aku bahkan masih ingat perlakuanmu dan tante waktu itu. Jadi maaf saja, aku nggak bisa bantu!"
__ADS_1
Lagi-lagi aku dibuat ternganga mendengar ucapan Bang Danil barusan. Rasanya terdengar kejam.
"Danil, please. Izinin aku numpang di sini sampai beberapa hari ke depan. Aku nggak tahu mau kemana lagi, Dan. Mau nyari kontrakan juga aku nggak punya uang. ATMku disita ibuk." Wanita itu kembali memelas.
Oh, aku akan cariin kamu kontrakan sekalian bayarin. Kalau untuk nerima kamu di sini mohon maaf aku nggak bisa. Aku punya istri yang perasaannya pernah kalian lukai sebegitu dalam. Aku nggak mau dia teringat kembali semua perlakuan kalian hingga merusak perasaannya," ucap Bang Danil tegas.
"Sorry, aku sama Adis harus berangkat kerja, kami udah telat. Ini cek sepuluh juta, kamu bisa pakai untuk cari kontrakan dan simpanan. Anggap aja itu pemberian dariku!"
Bang Danil menyodorkan selembar cek yang sudah dia tanda tangani. Kemudian bangkit berdiri.
"Sorry, Vin. Aku sama Adis harus segera berangkat. Karena belum punya pembantu jadi kunci rumah selalu kami bawa!" serunya lagi dengan wajah datar.
Vina bangkit dan menerima cek. Sebelum pamit dia hendak memeluk Bang Danil untuk berterima kasih, tapi Bang Danil langsung mengelak. Hingga dengan wajah memerah karena malu dia akhirnya pergi tanpa menyapaku.
Menyapaku saja tidak mau, lalu mau menumpang tinggal di rumah yang dibangunkan suamiku untukku ini? Benar-benar tak tahu malu.
Kami sengaja menunggunya naik taksi sebelum berangkat. Khawatir dia membuntuti. Siapa tahu semua ini hanya modusnya saja. Karena orang seperti Vina bisa melakukan apa saja.
Segera kami menaiki mobil dan berangkat menuju ke tempat kerja masing-masing. Tentu saja ke tokoku lebih dahulu.
"Kamu bisa kejam juga ya, Sayang?" tanyaku dengan perasaan masih sedikit tak yakin.
Lelaki itu hanya tersenyum tanpa menjawab apa pun. Dia tetap fokus mengandarai mobil kesayangannya.
...
Bersambung
__ADS_1