
Aku terbangun sedikit telat dari biasa. Kulihat di samping sudah kosong. Mungkin bang Danil hari ini berangkat lebih pagi, atau bahkan aku yang kesiangan.
Kuraih ponsel di atas nakas. Memeriksa jam di layarnya, 09.07 Wib.
Astaga, aku yang kesiangan. Ini benar-benar terlalu kesiangan. Bagaimana bisa?
Bergegas aku bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Usai berpakaian rapi aku turun ke lantai bawah. Di dapur tampak Mbok Nin tengah membereskan alat masak.
"Mbok, Bang Danil berangkat jam berapa?" tanyaku sembar menuang susu cair dari kotak susu di kulkas.
"Jam setengah tujuh, Non. Masnya buru-buru ndak sarapan," jelas Mbok Nin sembari membereskan dapur.
"Nggak sarapan? Aduh, kok bisa? Bang Danil tadi titip pesan buat aku nggak, Mbok?"
"Nggak, Non. Tadi turun tangga cuman nyapa lalu langsung berangkat. Katanya udah telat."
Aku tak habis pikir, jam setengah tujuh bisa telat? Memang dia mau kemana?
"Ya udah, Mbok. Aku juga harus berangkat sekarang. Pagi ini ada janji sama customer. Berangkat dulu ya, Mbok!"
Mbok Nin mengangguk mengiyakan. Aku bergegas menuju gerbang, menunggu ojek online. Hari ini tak ingin naik taksi.
____
Usai bertemu client di sebuah cafe aku tak langsung kembali ke rumah. Entah kenapa hari ini ingin menghabiskan hari jalan-jalan di mall sendirian. Sekadar melihat-lihat pakaian. Kebetulan sedang ingin belanja beberapa pasang baju.
Saat tengah sibuk memilih-milih pakaian santai, mataku tak sengaja menangkap sosok yang kukenal. Memakai kemeja abu-abu dengan lengan yang digulung sampai sebatas siku.
Baru saja aku membuka mulut hendak memanggil, seorang perempuan cantik tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Dengan santai tangannya menggamit lengan lelaki yang baru hendak kusapa.
Wajah genit wanita itu terlihat amat menjijikkan. Dia bersikap seolah mereka pasangan kekasih yang saling mencintai. Sesekali tersenyum manja ke arah sang lelaki. Sementara sang lelaki tampak tak terlalu peduli.
Aku yang awalnya hanya memperhatikan dari jauh, tiba-tiba tak mampu menahan diri. Bergegas kudekati sepasang manusia tak tahu diri itu.
"Abang di sini mau meeting?"
Kusambar tangan lelaki itu dan kudorong tubuh wanita gatal yang tadi lancang menggamit lengannya. Awalnya wajah lelaki itu terkejut. Namun sesaat kemudian dia berhasil menguasai keadaan.
__ADS_1
"Adis? Kok kamu di sini?" Pertanyaannya sedikit menamparku. Sikapnya seolah aku ini bukan istrinya.
"Kenapa emang? Nggak boleh?" tanyaku dengan wajah kesal. Sungguh aku kesal melihat perempuan di sampingku ini.
"Biasanya kamu kan nggak pernah mau ke mall sendiri. Tumben," sahutnya dengan raut yang entah.
"Abang ngapain di sini? Mesra-mesraan?" sindirku sembari mendelik.
"Ini lagi nemenin Melisa!" jawabnya datar.
"Oh, wow. Sejak kapan jadi rajin nemenin orang lain? Sampai nggak sempat sarapan?" sindirku sembari menatap jengkel ke arah wanita itu.
"Ini siapa, Mas?" cebiknya.
"Ini adik sepupu saya, Adis."
Adik sepupu? Dia bilang adik sepupu?? Jadi aku hanya sebatas adik sepupunya? Lalu statusku yang telah jadi istrinya dia kemanakan?
"Oh, adiknya. Aku kira tadi pacarnya. Hai calon ipar, kenalkan aku Melisa," sapanya sok ramah.
"Calon ipar?" ejekku. Kutatap laki-laki yang saat ini kurangkul tangannya.
Bang Danil tak bereaksi apa-apa. Ingin rasanya kupukul wajah datarnya itu. Namun aku tak mau terlihat kalah.
Aku tersenyum menggodanya. Lalu melepaskan tangannya. Segera aku meraih ponsel dan menelpon seseorang.
"Randa, aku tunggu di Mall Mutiara ya, mau double date ini bareng abang sepupu. Buruan ya, Ran!"
Kulihat geraham Bang Danil mengeras. Kelihatan sekali dia kesak. Namun dia tak akan menjatuhkan harga dirinya di hadapan dua perempuan. Kita lihat saja apa yang akan terjadi?
...
Aku melihat perubahan mimik wajah pada Bang Danil. Dia tak lagi sesantai tadi. Aku tahu persis apa alasannya. Randa.
Kami memilih sebuah restaurant cepat saji, masing-masing memilih menu. Saat wanita itu bertanya menu Bang Danil, aku mengambil kesempatan.
"Bang Danil sukanya Cheese Burger sama minumnya cola!" seruku ke sembari mencatat menu.
__ADS_1
"Randa kamu mau apa?" tanyaku beralih pada Randa dengan wajah semanis mungkin.
"Spaghetti Carbonara sama Orange Juice aja, Dis. Kamu?"
"Wah kita satu selera, Randa. Kak Melisa mau makan apa?" tanyaku sok manis.
"Aku Spaghetti Bolognise sama Cola aja." Wajahnya mulai kesal. Karena dia yang terakhir kutanyai. Rasakan!
Sembari menunggu pesanan aku mengajak Randa mengobrol ringan sembari memberinya instruksi via chatt. Untung sahabatku ini paham bagaimana aku. Jadi mudah bagiku memberinya arahan untuk bersandiwara.
Semua menikmati makan siang kecuali satu orang, siapa lagi kalau bukan Bang Danil. Sepanjang waktu rautnya nampak kesal. Dia tak banyak bicara. Bahkan kadang tak nyambung dengan wanita di sampingnya. Dan aku menikmati moment seperti itu.
Bang Danil tipe lelaki posesif dan pencemburu. Jangankan membiarkanku jalan dengan lelaki lain, bahkan dia tak mengizinkan siapa pun mendekatiku. Namun kali ini dia yang mulai, andai tadi dia kenalkan aku sebagai istrinya pada wanita itu, tentu aku tak akan berulah.
Sekarang biar dia rasakan! Aku tak akan tinggal diam. Bagiku, cubit harus dibalas cubit. Sakit harus dibalas sakit. Sekarang tahu rasa dia.
"Maaf, Mel. Saya nggak bisa ngantar kamu. Barusan saya dapat kabar kami ada kumpul keluarga. Jadi Adis harus ikut sekalian!" Seru Bang Danil tiba-tiba.
Aku yang paham mengulum senyum. Kukode Randa agar ia paham.
"Biar saya aja yang antar Adis, Bang!" Randa menawarkan diri. Tentu saja Bang Danil tidak akan terima.
"Nggak perlu! Adis, ayo!"
Secepat kilat dia menyambar tanganku lalu menarikku pergi usai membayar tagihan di kasir.
Aku mengedipkan mata ke arah Randa yang membalas dengan senyum. Randa masih harus melakukan tugas selanjutnya, mengurus wanita yang berani main-main dengan suamiku!
Sepanjang perjalanan Bang Danil tak berkata apa-apa. Dia tahu salah. Jadi tak bisa memarahiku karena Randa. Dia yang mulai.
Aku memilih terlihat santai walau dalam hati ingin memakinya. Aku lebih berminat membalas kekesalanku dengan balik membuatnya kesal. Perang sudah dimulai. Aku tak akan mau dikalahkan begitu saja.
Sampai di rumah aku berjalan dengan elegan menuju kamar seolah tak terjadi apa pun. Bersiap-siap dengan taktik selanjutnya.
Bang Danil harus diberi pelajaran. Biar dia tahu kalau aku bukan perempuan bodoh yang mau begitu saja diperlakukan dengan cara menyebalkan. Aku tak berminat berpura-pura memaafkan. Bagiku setiap kesakitan harus dibalas kesakitan.
Dan hari ini, Bang Danil sudah menabuh perang. Dia yang mulai semua ini. Dia yang mulai membuatku kesal. Salahnya kenapa memancing dengan sengaja.
__ADS_1
Malam ini, aku akan menyiksanya habis-habisan. Dia tak akan bisa berbuat apa-apa karena sudah terikat janji.
---Bersambung---