
Hari ini terbangun dengan perasaan luarbiasa. Aku bahagia karena mulai sekarang kami akan sama-sama belajar memperbaiki hubungan. Artinya akan banyak hal baru ke depannya.
"Pagi, Yank," seruku sembari menyambutnya dengan sebuah pelukan.
"Pagi, Hani," balasnya dengan sebuah kecupan di kening.
Kebetulan Si Mbok seminggu ke depan pulang kampung, jadi aku tak perlu khawatir menjaga sikap di hadapannya.
Bang Danil yang tak terbiasa dengan perlakuan seperti itu tampak canggung awalnya. Namun, dia mencoba membiasakan diri membalas dengan panggilan sesuai kesepakatan malam tadi.
Kami sarapan dengan nasi goreng buatanku. Ditambah segelas susu hangat untuk masing-masing. Tanpa banyak bicara hidangan di hadapan segera beranjak ke perut.
"Han, nanti Abang jemput ke toko biar bisa pulang bareng ya, kita makan malam di luar aja nanti. Mau?"
"Apa nggak pulang dulu terus mandi, baru habis itu berangkat makan malam?" tawarku.
"Nggak usah, keburu laper, Hani. Sesekali kita habiskan waktu berdua di luar. Anggap aja kencan!" serunya sembari mengedipkan mata. Aku mengulum senyum ke arahnya.
Ya, baiklah. Bukankah selalu akan ada tantangan di tiap permulaan? Anggaplah ini tantangannya. Kami belajar konsinsten mengganti panggilan demi menghadirkan suasana dan rasa yang berbeda dari sebelumnya. Bila dulu sebagai sepupu sekarang sebagai pasangan suami istri.
____
Semua pekerjaan di toko sudah terhandle dengan baik. Para karyawan melakukan pekerjaannya sesuai fungsi masing-masing. Dengan demikian aku punya banyak waktu luang.
Aku memakai waktuku untuk belajar dan menambah pengetahuan tentang rumah tangga. Sejujurnya ilmu yang kumiliki memang amat jauh. Ditambah tak banyak kesempatan untuk sharing dengan yang sudah berpengalaman.
Kubuka aplikasi google, menekan kata kunci di kolom pencarian "tips rumah tangga bahagia". Berbagai referensi keluar. Satu persatu kuteliti, mataku tertuju pada sebuah judul "memahami karakter pasangan" lalu klik.
Setelah membaca banyak referensi, aku menarik kesimpulan kunci sebenarnya adalah komunikasi. Ya, komunikasi antara pasangan. Jangan ada yang dipendam apalagi sampai mengakar berujung dendam.
Ok. Artinya aku dan Bang Danil harus saling terbuka satu sama lain. Baiklah! Tak sulit. Karena sejauh ini memang kami selalu berbagi cerita. Mungkin ke depannya kami belajar mengutarakan perasaan.
Ketika aku tengah sibuk membaca berbagai artikel penunjang, sebuah panggilan suara masuk.
"Assalamualaikum, Hani. Makan siang di luar, yuk!"
Seketika pipiku merona mendengar sapa suara di seberang sana.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Yank. Kantor kamu kan jauh, emang bisa?" tanyaku tak yakin.
"Apa sih yang nggak buat istri. Siap-siap buruan, ditunggu di depan toko ya!"
Demi rasa penasaranku aku segera beranjak keluar toko. Di parkiran ternyata dia sudah menunggu sembari tersenyum dengan tangan masih memegang ponsel. Betapa terharunya aku mendapat surprise darinya.
Kulambaikan tangan padanya. Lalu kembali ke dalam, bergegas bersiap-siap. Sedikit merapikan riasan agar sedap dipandang olehnya. Oh, Good. Rasanya semendebarkan ini ternyata. Seperti baru mengenalnya.
"Siang, Hani. Kamu cantik siang ini!" serunya saat aku masuk ke mobil. Aku menatapnya dengan wajah semringah. Sungguh ini seperti kencan pertama.
"Gombal kamu, Yank!" cebikku mencubit pelan lengannya.
Dia terkekeh pelan. Perlahan menginjak gas dan mobil beranjak meninggalkan parkiran toko.
"Kamu tahu, nggak? Aku deg-degan ahahaha," tuturnya dengan sebelah tangan memegang dada.
Aku tersenyum kecil. Kami sama ternyata.
"Berasa kayak orang baru jadian, ya! Rasanya gimana gitu," godanya lagi.
"Beneran ih, emang kamu ngga?"
"Dikit!" seruku pura-pura sibuk dengan ponsel. Sementara dalam hati jantung seakan berlompatan.
"Ini pertama kalinya, Han. Rasanya seolah lagi jatuh cinta sama orang yang baru dikenal," gumamnya lagi.
Hening. Aku lebih memilih menjadi pendengar. Perasaanku sama sepertinya. Ini terasa seperti kencan pertama dengan laki-laki yang baru dikenal. Dag-dig-dug tak karuan.
"Han, semoga Allah ridho dengan niat baik kita memulai dari awal kembali, ya. Biar rumah tangga ini selalu harmonis dan menghadirkan perasaan seperti sekarang. Berbunga-bunga," tuturnya penuh harap.
"Aamiin. InshaAllah, Yank!" aku mengaminkan.
Dalam hati kembali kupanjatkan doa yang sama, ingin agar rumah tangga kami bisa berjalan seperti seharusnya. Menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Walau masih sama-sama belajar.
Selang beberapa waktu mobil memasuki area sebuah restoran Sunda yang mengusung tema lesehan. Satu hal yang tak akan kulupa ketika dia berlari membukakan pintu untukku. Benar-benar seperti orang yang sedang pacaran.
__ADS_1
"Jangan lupa gandeng tagan suami!" serunya mengulurkan tangan. Kali ini tak kuasa aku menahan senyuman.
Kami memilih duduk di pondok paling ujung dekat kolam. Di sini lebih sejuk dan nyaman. Cocok dijadikan tempat pacaran, #eh.
Sembari menunggu hidangan datang aku iseng mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangan.
Bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk dari kontak Whats App-ku. Nada notif dengan volume yang lumayan kencang menarik perhatian Bang Danil yang sedari tadi sibuk menikmati pemandangan kolam dengan ikan yang berenang di permukaannya.
"Dari siapa? Customer?" tanyanya kepo. Aku menggeleng. Karena memang bukan dari customerku.
"Randa?" selidiknya lagi. Kembali aku menggeleng.
"Terus dari siapa? Hana?" Ternyata dia masih penasaran.
Aku ragu mengatakan. Karena si pengirim pesan ini bukan orang yang dia kenal. Namun, kalau aku tak katakan, aku khawatir Bang Danil salah sangka nantinya.
"Yudis, teman sekolah waktu SMP," terangku sejujurnya.
"Siapa lagi itu? Penggemar barumu? Kok Abang ga pernah dengar namanya? Ngapain dia hubungin kamu?" cecarnya dengan pertanyaan beruntun. Wajahnya mulai kelihatan gusar. Aku tak mau kesalah pahaman merusak suasana yang tadinya menyenangkan.
"Nanyain pesanan ibunya, Yank. Ga usah diurusinlah. Nggak penting. Katanya kita mau kencan," sungutku mencebik.
Lekas kumatikan ponsel agar tak mengganggu kami lagi. Wajahnya perlahan berubah tenang meski masih tersisa semacam kekesalan.
"Yank, jangan cemberut aku takut!" rengekku manja. Kemudian mendekat ke arahnya. Memberikan sebuah kecupan di pipi kirinya hang mampu membuat wajah sampai telinganya memerah karena jengah.
Tampaknya aku harus belajar sedikit lebih agresif demi kelancaran tujuan kami. Tak apa, dia sah suamiku, apa salahnya kubuat dia bahagia?
Senyumnya merekah seketika. Melunturkan sisa kesal yang tadi masih tertinggal.
"Tolong, jangan hadirkan orang lain saat kita sedang berdua, ya. Pengen bahagia kaya gini terus. Bolehkan, Yank?" bisikku sembari menyenderkan kepala ke bahunya.
"Iya. Maaf!" jawabnya membalas dengan mengusap kepalaku.
Tuhan, aku ingin bahagia terus bersamanya ....
____
Bersambung.
__ADS_1