Sepupuku suamiku

Sepupuku suamiku
LULUH


__ADS_3

 Sepanjang perjalanan pulang kuperhatikan wajahnya masih masam. Aku masih berusaha mencari topik untuk mengalihkan pikirannya, tapi tetap saja buntu. 


  Melihat raut mukanya yang sama sekali tak ramah itu perasaanku jadi tak menentu. Antara perasaan bersalah dan sedikit kesal. Seperti biasa, Bang Danil bukan tipe yang mau mendengarkan alasan di saat dia sedang kesal. Sifat pencemburunya ini kadang kerap membuat jengkel. 


 Lihatlah, bahkan sampai mobil terparkir di garasi pun dia tak bicara apa-apa. Aku langsung menyusulnya. Kulihat dia langsung duduk di sofa dengan posisi kedua kaki di selonjorkan ke atas lengan kursi. Ini membuktikan dia benar-benar kesal. 


  Aku memilih mengganti baju terlebih dahulu. Sebuah daster kaus tanpa lengan dengan motif Mickey Mouse jadi pilihan. Lalu kucepol rambut asal ke atas. Tak lupa menyemprotkan parfume beraroma lembut ke leher agar mendapatkan aroma segar dan relax. Karena sebentar lagi tugas penting akan dimulai. Membujuk sang pangeran yang lagi ambekan. 


   Aku beranjak dari kamar lalu membuka kulkas. Kulihat Bang Danil tengah menonton televisi dengan wajah tanpa minat. Kupilih mengambil sekotak susu segar kemudian menuangkannya ke dalam gelas. Menambahkan beberapa butir es batu dari cetakan. 


  Kebetulan masih ada sisa brownies kemaren. Kutata di piring kecil dengan menambahkan coklat leleh dan taburan keju parut. Di tambah beberapa potongan strawberry dan kiwi agar tampak manis. Segera kubawa ke hadapan lelaki kesayangan. 


  "Yank, minum susu dulu, ya. Mau dimasakin apa?"  bujukku semberi membelai pipinya. 


 Dia hanya mengerling tanpa menjawab. Mau tak mau aku harus membujuknya lagi. 


 "Sayang ... maafin aku, ya!" Kurebahkan kepala di samping pipinya. Dia malah beranjak bangkit dan duduk bersandar di sofa. 


  "Sayaaaang ...." kuraih tangannya. 


 "Hmmm," gumamnya acuh. 


Kutarik napas dalam, lalu duduk di sampingnya dalam posisi memeluk pinggangnya. Dia tak membalas, malah makin sibuk mengganti chanel. 


  "Padahal lagi pengen manja-manja tapi dicuekin," cebikku. 


 "Kan udah manja-manja ama cowok lain siang tadi!" sindirnya ketus.


  


 "Ya ampun, Sayang. Dia cuman teman SMP aku." 


 

__ADS_1


 "Buktinya kamu sampai lupa bawa hape saat diajak makan sama dia," balasnya lagi. Masih dengan nada kesal.


  "Iya, aku salah. Harusnya tadi aku izin kamu dulu. Cuman perut aku juga udah keroncongan, jadi aku langsung mau diajak makan."  


 Dia diam. Namun, wajahnya sedikit lebih melunak. 


Lelaki itu terlahir dengan ego yang tinggi. Mereka butuh pengakuan dan diutamakan. Namun kalau sudah diberi "makan" egonya, mereka akan melunak. 


  Kuletakkan kedua tangan di lehernya. Menariknya ke arahku, kemudian kuhadiahi sebuah ciuman. Dia menatapku dengan tatapan entah. Aku menaik-turunkan kedua alis sembari mengulas senyum. 


 Tiba-tiba dia menangkup pipiku. Lalu meletakkan keningnya di keningku. 


 "Masakin nasi goreng aja biar cepet, ya! Laper banget ini," bisiknya di telingaku sebelum mencium puncak kepalaku. 


 Aku bangkit dan mengambil susu yang belum sempat disentuh olehnya. 


 "Minum susunya dulu, ya! Nyemil dulu sambil nunggu nasi gorengnya jadi!" perintahku. Dia menurut pada akhirnya. 


  Kujawil hidung mancungnya sebelum beranjak ke dapur. Menyiapkan nasi goreng untuk makan siangnya yang sudah telat hanya karena menungguku. 


  ...


  Akhirnya suapan terakhir habis. 


Ternyata dia minta aku menyuapinya makan sebagai hukuman. Aku senang saja melakukannya, karena memang dari kecil dulu terbiasa menyuapinya saat dia susah makan. 


  


"Nasi gorengnya enak, Han. Nanti malam bikinin lagi, ya!" pujinya. 


 Aku merasa tersanjung dipuji seperti itu. Ya, bagiku pujian kecil dari suami sangat berarti. 


  "Aku mau tidur dulu, ya. Pengen istirahat!" seruku sembari bangkit hendak mencuci piring bekas makannya. 

__ADS_1


 "Di sini aja!" dia menarik tanganku. Nyaris saja piring di tanganku jatuh andai tak cepat disambut olehnya. 


  


  "Hampir aja!" seruku. Dia menyengir menanggapi. Lalu meletakkan piring tadi ke atas meja. 


  "Kamu tidurnya di sini aja. Sambil nemenin aku nonton!" serunya lagi.


 Dia meletakkan sebuah bantal kursi di pangkuannya lalu menyuruhku berbaring. 


  "Sini ...." Dia menepuk-nepuk bantal dipangkuannya. Aku menurut. 


 Sejujurnya memang aku ingin berbaring seperti ini dari tadi. Menikmati usapan tangannya di kepalaku. Kadang sesekali di pipiku. 


 Mata mulai terasa berat. Posisi begini membuat kantuk mudah sekali menguasai. Sebelum benar-benar tertidur, aku merasakan keningku dikecup sedikit lebih lama. Lalu dia berbisik, 


"Maaf udah bikin kamu capek, ya!" Kemudian kembali mengusap rambutku. 


     ....


  Saat membuka mata aku menyadari kami masih di depan televisi. Aku bangkit dan mendapati Bang Danil tidur dalam posisi menyandar di sandaran sofa. Pasti lehernya sakit. 


Pelan kubaringkan dia di sofa. Memberinya bantal lalu meluruskan kakinya. Wajahnya terlihat damai. Dia, lelaki terbaik yang selalu menjagaku semenjak aku kecil. 


  "Makasih selalu sayang sama Adis ya, Abang. Adis sayang sama Abang," bisikku mengecup keningnya.


 "Iya ...." sahutnya dalam keadaan masih tertidur. 


Nyaris saja tawaku menyembur. Apa dia bermimpi? 


Ah, yang penting dia sudah menyahuti haha.


   Bersambung ....

__ADS_1


   


    


__ADS_2