
**
Aku mulai mengatur strategi yang harus kujalankan demi membalas apa yang sudah dilakukan Bang Danil siang tadi. Dia mulai bermain api jalan dengan wanita yang bukan istrinya. Ditambah lagi mereka jalan di pusat perbelanjaan dengan sikap wanita itu yang benar-benar membuatku ingin meludahi wajahnya. Berani sekali dia menggamit lengan suamiku dan bermanja-manja.
Bang Danil juga sudah melakukan kesalahan fatal. Dia tidak memperkenalkanku sebagai istri melainkan adik sepupunya.
Ok, itu memang tak salah. Benar aku adik sepupunya, tapi apa dia lupa aku juga sudah sah jadi istrinya? Apa dia lupa pernikahan yang dulu dia paksakan ini mau tak mau membuatku berstatus sebagai istrinya? Atau dia sengaja pura-pura lupa di hadapanku? Atau barangkali justru sengaja menyembunyikan status agar bisa bebas menggandeng wanita mana saja yang dia mau?
Kita lihat, Bang. Siapa yang akhirnya menang. Kamu yang mulai maka aku akan senang hati mengikuti kemauanmu. Mulai detik ini, kita akan berperang membuat luluh satu sama lain. Siapa yang lebih dulu bertekuk lutut, dia yang kalah.
Jangan panggil aku Adis bila tak bisa membuatmu bertekuk lutut meminta maaf padaku. Tanpa aku harus mengemis dan merengek di hadapanmu. Akan kubuat kamu menyesal sudah berani memancing emosiku.
__ADS_1
....
Usai membersihkan tubuh aku memilih sebuah lingerie hitam dengan bentuk yang benar-benar seksi. Motif transparant yang memperlihatkan lekuk tubuh yang belum pernah tersentuh.
Aku melenggok santai dengan rambut basah tertutup handuk. Duduk di depan meja rias lalu memulai permainan yang akan membuat suami kesayanganku itu menahan napas karena sesak.
Perlahan kuambil parfume beraroma menantang khusus untuk malam hari. Aroma lembut tapi bisa membangkitkan gairah lelaki yang menciumnya. Ini baru langkah pertama.
Kusapukan bedak tipis di wajah dengan sedikit sentuhan blush on. Lalu menggunakan lipstik sedikit lebih terang dari biasanya. Sekilas kulihat bayangan Bang Danil di atas ranjang dengan jakun yang turun naik. Damn! Kena kamu, Bang.
Perlahan kubuka handuk yang menutupi kepala. Kali ini pun dengan gerakan yang sama, menggoda. Aku memilih sengaja tak mengeringkan rambut agar terkesan seksi. Lalu menyisir dengan jari dan mengibaskannya beberapa kali. Kulihat sekilas lelaki itu tak berhenti memandangi.
__ADS_1
Aku mengembalikan handuk pada tempatnya. Berjalan santai tapi tak kalah seksi dengan lenggok senatural mungkin. Kuatur wajar agar bibir sedikit terbuka. Lalu membasahi bibir bawah beberapa kali dengan lidah. Namun, dengan gerakan santai tidak dibuat-buat.
Beberapa kali kulihat Bang Danil menelan ludah. Membuang pandangan tiap kali mata kami bertemu. Aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Pelan aku menaiki ranjang dan sejenak duduk di hadapannya. Menatapnya lalu, sebuah kecupan mendarat di antara geraham dan telinganya.
Aku sudah mempelajari lama hal ini. Bagian mana saja yang membuat lelaki jadi lupa diri. Napasnya memburu. Namun dia tak berani berbuat apa-apa. Aku berbaring di sampingnya lalu menarik selimut sebatas perut dan tidur dalam posisi miring menghadapnya.
Dalam hati aku menahan tawa. Rasakan kamu, Bang! Bagaimana rasanya tersiksa melihat istri yang begitu menggoda tapi terlanjur terikat janji untuk tak menyentuhnya sama sekali. Hingga suatu saat sang istri benar-benar siap.
Masih terdengar jelas deru napasnya yang kian kencang. Perlahan dia berbaring di sampingku tanpa berkata apa pun lagi. Aku yakin dia bahkan sudah lupa kejadian siang tadi. Yang ada di otaknya kini adalah bagaimana cara bisa membujukku. Sayangnya ego yang tinggi menghalanginya melakukan semua itu.
Nikmati malam penyiksaanmu, suamiku tersayang! Besok akan semakin menyiksa**!
....
__ADS_1