
Diam dalam luka (Pengkhianatan) #part12
"Saya terima nikah dan kawinnya Zahabiya Adiba Arsyura binti Laura Alexia dengan mas kawin seperangkat alat solat dan emas 100gram dibayar tunai !"
"Bagaimana saksi sah? "tanya Pak penghulu kepada saksi
"Saaaah! "jawab mereka serempak.
"Alhamdulillah "ucap Ayah dan Bunda serempak,dan tiba-tiba saja Ayah mengalami kejang hebat, semua bubar dan Bang Pras memanggil dokter. Semua panik, tim medis meminta kami menunggu diluar.
Semua menunggu harap cemas diruang tunggu, Mami Bang Pras yang baru saja menjadi mertua ku beberapa menit yang lalu, kini mengelus punggungku lembut.
"Sabar ya sayang"ucap beliau menenangkan Adiba yang masih sesenggukan, yang awalnya tangis haru kini menjadi tangisan yang takut akan kehilangan Ayah.Semua tampak cemas, Bang Pras dan Papi yang baru saja menyandang mertua dan suami Adiba itu mondar mandir didepan pintu.
"Pi, Pras jangan mondar mandir aja, Mami jadi pusing dari tadi liatnya! "ucap beliau memecah keheningan. Bang Pras dan Papi menurut dan duduk disamping Adiba.
Dokter keluar ruangan dengan wajah lelah.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin,Tapi Pak Abizdar menghembuskan nafas pukul 9:15,maaf"ucapnya lirih tapi kami menangkap jelas suara dokter itu. Adiba yang mendengar itu langsung luruh dari tempat duduk, terduduk lemah kelantai, sosok lelaki yang selalu memberikan cinta kasih sayang tanpa embel-embel apapun kini sudah menutup mata selama-lamanya setelah permintaan terakhirnya terlaksana.
__ADS_1
*****
Adiba
Tak ada kata-kata apapun diantara kami, kami hanya terpekur dengan perasaan masing-masing, kulihat Mama mertua yang baru saja aku sandang beberapa jam yang lalu selalu setia mendampingi Bunda yang tampak seperti patung, hanya terpaku menatap pintu ruangan dari mana dokter tersebut keluar, Bang Pras dan Papa mertua yang mengurus segalanya, pelayat dan para tetangga sudah berdatangan. Meisya pingsan, asam lambungnya kambuh dan harus dirawat, asisten rumah tangga Mama mertua yang menunggu Meisya dirumah sakit.
Dan Aku, seperti tak ada lagi semangat hidupku. Aku masih ingat kata-kata Ayah kala itu.Untuk terus saling menyayangi dan jangan pernah benci Ayah dan Ibu kandung Adiba.
"Ayaaaaaaaaaaah kenapa secepat ini Ayah, Ayaaah "pekikku tiba-tiba, kenangan demi kenangan semua terlintas, dan terasa sangat menyakitkan, perdebatanku saat aku akan kerja kekota.
"Sapa yang menjaga Adib nanti disana, kalo Adib sakit bagaimana? Adib tu terlalu manja sama Bunda, semua-semua Bunda! "
"Meisya dan Kamu sudah menjadi tanggung jawab Ayah, kenapa kamu mikir sejauh itu? "
"Tapi Adib ingin membantu Yah, pliss ijini Adib, do'akan Adib ketemu orang-orang baik disana, lagian Adib gak sendirian Yah, Adib pergi bersama Wina, Adib janji, kalo hari libur Adib akan pulang! "
Perdebatan sengit antara aku dan Ayah, masih terngiang, baru 6-7bulan yang lalu.Yang pada akhirnya Ayah memberikan Aku ijin. Sesak sekali dalam rongga dada ini.
"Aaaaaahkkkkkk"Aku terpekik entah untuk yang keberapa kalinya, semakin ku benamkan wajahku dalam lipatan kaki yang ku tekuk. Badan ini masih terguncang, sesenggukan. Luka ini tidak berdarah tapi sangat menyakitkan. Kurasakan pelukan hangat, kedua tangan kokoh itu merengkuh tubuh kurus ini kedalam pelukannya, Aku tau Dia pasti Bang Pras yang baru beberapa jam lalu menyandang menjadi suamiku, ku benamkan wajahku dalam-dalam kedadanya yang bidang, wangi parfumnya yang maskulin sedikit menenangkan diri ini.
__ADS_1
"Sudah, jangan berlarut-larut, Ayah akan semakin bersedih melihatnya, Abang dan Papi sudah berjanji akan bertanggung jawab atas segalanya yang bersangkutan dengan Adib! lihatlah, Abang melihat Adib kecil Abang 10tahun yang lalu, apa Adib kecil Abang ini masih mengompol saat tidur? "ucapnya sambil merenggangkan pelukkannya lalu membingkai wajahku yang ntah seperti apa bentuknya, jelek, mungkin sejelek mungkin.
"Bunda dan Mei Bang? "
"Bunda sudah sadarkan diri, sekarang ditemani Mami, Mei masih dirawat, belum sadar, ada Mbok Ijah yang menunggu! "
Lalu Bang Pras memapahku bergabung bersama Bunda. Bunda terbaring lemah, terlihat lebih tegar daripada Aku, meskipun Bunda sesekali mengusap ujung netranya dengan sudut jilbab syar'inya. Aku langsung memeluk Bunda, dan Mami mengusap lembut pucuk kepalaku.
"Sabar ya sayang"ucap beliau. Aku bersyukur dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku.
Persiapan pemakaman sudah selesai, tinggal memberangkatkan Ayah ditempat peristirahatan terakhirnya. Tiba-tiba Bang Pras menerima telfon, bahwa Meisya sadarkan diri dah Meronta-ronta ingin pulang, pemakaman kami tunda, supir Papi menjemput Meisya kerumah sakit. Sesampainya Meisya dirumah pemakaman dilanjut, meskipun hari sudah mau magrib. Selepas magrib semua selesai.
Sepulangnya dari pemakaman, Aku langsung menuju kamar Bunda, Aku lihat jacket Ayah yang tergantung, masih bau Ayah, Aku peluk erat-erat jacket itu, hingga tanpa sadar Aku terlelap. Sampai-sampai acara tahlilan selesai aku tidak mengetahui itu.
Seminggu sudah kepergian Ayah. Bunda sudah tampak lebih kuat dan menerima, Aku dan Meisya masih uring-uringan. Bunda dan Bang Pras selalu mencari cara agar kami mau makan dan tidak seperti ini terus. Dan siang itu.
"Praaaangggggg"Bunda membanting masakan supnya didepan pintu kamar ku, Aku terkejut, ada apa sebenarnya lalu bangkit.
"Jika Adib dan Adek seperti ini terus, Bunda tidak akan sanggup, Bunda akan menyusul Ayah, atau Pras antar Bunda kepanti Jompo! "ucap Bunda histeris sambil sesenggukan.
__ADS_1
"Seharusnya kalian yang jadi penguat Bunda, tapi kenapa Adib dan Adek seperti ini, tolong kuatlah demi Bunda! "ucap Bunda lagi lalu terduduk ditumpahan sup tadi, Bang Pras beranjak, tapi aku dan Meisya lebih dulu menghambur kepelukan Bunda.